Empat proyek arsitektur yang terhubung dengan Indonesia masuk shortlist World Architecture Festival 2026.

World Architecture Festival (WAF) merupakan salah satu ajang arsitektur internasional yang mempertemukan arsitek dan desainer dari berbagai negara untuk berbagi gagasan sekaligus memperkenalkan karya mereka kepada komunitas arsitektur global. Tahun ini, WAF 2026 akan berlangsung di Fort Lauderdale, Florida, pada 18–20 November, dengan mengangkat tema “Water” yang mengeksplorasi hubungan antara air, arsitektur, dan lingkungan.

Menjelang penyelenggaraannya, sejumlah proyek yang berkaitan dengan Indonesia berhasil masuk dalam shortlist WAF 2026. Dalam ajang ini, shortlist merupakan daftar proyek terpilih yang lolos ke tahap penjurian berikutnya sebelum pemenang ditentukan. Proyek-proyek tersebut mewakili beragam pendekatan desain, mulai dari hunian yang terinspirasi bentang alam Bali hingga fasilitas olahraga di Jakarta. Selain itu, terdapat pula proyek di Filipina yang melibatkan studio arsitektur berbasis di Bali. Berikut empat proyek yang berhasil masuk dalam shortlist WAF 2026.

Nebula Villa oleh PT. Golden Tree Architect

Nebula Villa merupakan rancangan hunian privat di Semenanjung Bukit, Bali, karya PT. Golden Tree Architect. Proyek ini masuk dalam kategori Future Projects – House dengan desain yang terinspirasi dari karakter geologis kawasan batu kapur di sekitarnya.

Design Nebula Villa di Bali. Foto: goldentreebali.com

Inspirasi tersebut terlihat pada dua volume bangunan yang saling bergeser, dengan bagian atas menjorok keluar menyerupai tebing batu kapur. Dinding masif dan fasad miring mempertegas bentuk bangunan sekaligus merespons paparan sinar matahari dan sirkulasi udara.

Hubungan dengan lanskap juga terlihat pada area kolam bertingkat yang terinspirasi dari tata ruang Tirta Gangga di Karangasem, Bali. Di bagian tengah, atrium setinggi dua lantai menjadi jalur masuk cahaya dan udara, sementara batu kapur terekspos serta fosil karang di area basement mempertahankan karakter geologis tapak.

Sumba Resort oleh Studio Akamá

Berada di pesisir barat daya Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, Sumba Resort merupakan proyek hospitality karya Studio Akamá, studio arsitektur asal Spanyol. Proyek ini masuk dalam kategori Future Projects – Leisure Led Development, dengan rancangan yang memadukan kebutuhan resort modern dan karakter arsitektur tradisional Sumba.

Bangunan dirancang tersebar mengikuti kontur tanah dan keberadaan pepohonan untuk meminimalkan perubahan lanskap sekaligus menjaga privasi pengunjung. Inspirasi budaya lokal terlihat pada vila utama dengan atap menjulang yang mengadaptasi bentuk rumah tradisional uma mbatangu, salah satu ciri khas arsitektur Sumba.

Sumba Resort oleh Studio Akamá. Foto: studioakama.com

Penggunaan material seperti kayu, alang-alang, anyaman bambu, dan batu lokal semakin memperkuat hubungan bangunan dengan lingkungan sekitarnya. Furnitur serta elemen dekoratif yang melibatkan kerajinan setempat turut menghadirkan identitas budaya Sumba dalam pengalaman menginap.

Alih-alih tampil mencolok di tengah lanskap, Sumba Resort mengandalkan material alami, keterbukaan terhadap alam, dan interpretasi tradisi lokal sebagai bagian dari pendekatan desainnya.

11/10 Sports Compound oleh K-Thengono Design Studio

Di tengah padatnya Jakarta Selatan, K-Thengono Design Studio merancang 11/10 Sports Compound sebagai fasilitas olahraga dan rekreasi yang memanfaatkan kembali struktur bangunan terbengkalai. Dipimpin oleh lead architect Kelvin Thengono, proyek ini masuk dalam kategori WAF Future Projects – Sport.

Alih-alih membongkar struktur beton yang sudah ada, tim arsitek menerapkan pendekatan adaptive reuse dengan memadukan struktur lama dan elemen baru berbahan baja serta beton. Kompleks ini dirancang untuk menampung tujuh lapangan padel, pusat kebugaran, spa, kafe, supermarket, dan lintasan jogging dalam satu kawasan.

11/10 Sports Compound oleh K-Thengono Design Studio. Foto: k-thengono.com

Salah satu elemen yang menonjol adalah desain atap di atas lapangan padel. Bentuknya dirancang untuk memasukkan cahaya alami sekaligus mendukung ventilasi pasif, sehingga mengurangi kebutuhan pendingin udara di area permainan. Atap tersebut juga dimanfaatkan sebagai ruang aktivitas tambahan, lengkap dengan lintasan jogging berbahan karet daur ulang, area urban farming, dan ruang untuk kegiatan temporer.

Melalui pemanfaatan struktur lama dan pengembangan ruang di bagian atap, 11/10 Sports Compound menawarkan cara berbeda dalam mengoptimalkan lahan perkotaan. Bangunan yang sebelumnya terbengkalai dirancang kembali menjadi tempat untuk berolahraga, berekreasi, dan berinteraksi.

Kaway'an Eco Park oleh Sangay Architects dan Ibuku Studio

Berbeda dari tiga proyek sebelumnya, Kaway'an Eco Park berlokasi di Cavite City, Filipina. Taman ekologi seluas tiga hektar ini merupakan hasil kolaborasi Sangay Architects dan IBUKU Studio, studio desain berbasis di Bali yang dikenal dengan pendekatan arsitektur bambu. Proyek ini masuk dalam kategori WAF Completed Buildings – Civic and Community, dengan Christian Salandanan, Kath Sapungay, dan Elora Hardy sebagai lead architects.

Kaway'an Eco Park menggabungkan kebun pangan, rumah kaca, kolam ikan, dan rumpun bambu sebagai ruang edukasi sekaligus rekreasi bagi masyarakat. Taman ini dirancang untuk mengakomodasi berbagai kegiatan sehari-hari, mulai dari belajar menanam hingga berkumpul bersama keluarga.

Dua struktur utamanya, Marilag Pavilion dan Marajuyo Bridge, sama-sama menggunakan bambu dengan sistem penopang baja. Marilag Pavilion menjadi ruang berkumpul berdiameter 25 meter yang mampu menampung sekitar 120 orang dengan mengandalkan ventilasi alami. Sementara itu, Marajuyo Bridge membentang sepanjang 20 meter di atas kolam, dilengkapi area duduk untuk menikmati pemandangan taman.

Kaway'an Eco Park oleh Sangay Architects dan Ibuku Studio. Foto: kawayanecopark.com

Penggunaan bambu tidak hanya membentuk karakter visual proyek, tetapi juga menjadi bagian dari strategi perawatannya. Elemen bambu yang mengalami pelapukan dapat diganti secara berkala, sehingga struktur dapat terus dirawat seiring perubahan materialnya.

Keterlibatan IBUKU Studio menunjukkan bagaimana keahlian mengolah bambu yang berkembang di Bali dapat diterapkan dalam proyek komunitas di negara lain. Dalam Kaway'an Eco Park, arsitektur tidak hanya menyediakan ruang untuk beraktivitas, tetapi juga mendukung interaksi sosial dan hubungan masyarakat dengan lingkungan sekitarnya.

Keempat proyek ini memperlihatkan bagaimana arsitektur dapat merespons kebutuhan dan konteks yang berbeda. Ada yang berangkat dari karakter alam dan tradisi lokal, ada pula yang mengolah kembali struktur lama atau menghadirkan ruang bersama bagi masyarakat.

Masuknya proyek-proyek tersebut dalam shortlist World Architecture Festival 2026 turut membawa beragam pendekatan desain yang berkaitan dengan Indonesia ke panggung internasional. Menarik untuk menantikan perkembangan selanjutnya dan melihat bagaimana karya-karya ini dipresentasikan dalam festival pada November mendatang.