Apa yang membuat sebuah tempat berkesan melampaui bahasa visualnya. Chris Godfrey mengulas bagaimana perencanaan ruang, nuansa budaya, dan keputusan desain yang subtil membentuk cara orang mengalami sebuah tempat.
Apa yang membuat sebuah tempat berkesan? Lebih dari sekadar arsitektur, material, atau identitas visualnya, ada pengalaman berada di dalam sebuah ruang: bagaimana orang berinteraksi dengannya, bagaimana ruang tersebut membuat mereka merasa, dan apa yang mereka bawa pulang dari pengalaman itu.
Bagi Chris Godfrey, Partner dan Global Co-CEO Hirsch Bedner Associates (HBA), pertanyaan-pertanyaan ini merupakan inti dari desain. Seorang arsitek berlisensi RIBA (Royal Institute of British Architects) peraih penghargaan dengan pengalaman internasional lebih dari 25 tahun, Godfrey bergabung dengan HBA pada 2014 untuk membentuk divisi residensial sebelum diangkat menjadi Global Co-CEO pada 2022.
Sejak saat itu, perannya berkembang melampaui praktik arsitektur dan desain interior hingga mencakup bisnis desain secara lebih luas, dengan memimpin pengembangan perusahaan menjadi praktik desain hospitality multidisipliner.
Dalam perbincangan bersama Written, ia membahas pendekatan HBA terhadap ekspansi global, hubungan antara emosi dan desain ruang, serta alasan mengapa mempertanyakan status quo tetap menjadi hal mendasar bagi masa depan profesi ini.

Warisan dalam Skala Global
Written: Bagaimana Anda menjelaskan HBA kepada seseorang yang mungkin belum pernah mendengar tentang perusahaan ini? Apa yang dilakukan HBA?
Chris Godfrey (CG): Kami adalah perusahaan desain hospitality terkemuka di dunia. Lebih spesifik lagi, kami telah berkembang menjadi perusahaan desain hospitality multidisipliner.
Bisnis inti kami adalah desain interior hotel, tetapi selama 15 tahun terakhir, kami telah mengembangkan cakupan layanan yang jauh lebih luas. Sebagian besar orang di industri ini mengenal HBA melalui praktik desain interiornya, tetapi banyak yang mungkin belum menyadari sejauh mana bisnis ini telah berkembang.
Dalam tujuh tahun terakhir, kami telah mengembangkan praktik desain lanskap yang cukup besar. Kami mengakuisisi Bell Collins, perusahaan desain lanskap hospitality terkemuka di Asia Tenggara, dan mengganti namanya menjadi Uppersville.
Kami kemudian mereplikasi model tersebut di Eropa dengan mengintegrasikan sebuah praktik desain lanskap hospitality yang berbasis di London ke dalam grup dengan nama Uppersville. Kami juga sedang mengembangkan kapabilitas ini di Miami untuk pasar Amerika Latin dan Karibia, khususnya dalam perencanaan induk atau master planning.
Secara paralel, kami juga membangun praktik arsitektur di berbagai lokasi tersebut. Hal ini memungkinkan HBA terlibat dalam proyek jauh lebih awal. Desain interior biasanya baru masuk pada tahap yang lebih lanjut dalam pengembangan proyek, sedangkan master planning, arsitektur, dan desain lanskap memungkinkan kami memengaruhi proyek sejak tahap yang jauh lebih awal.
Belakangan ini, kami juga sedang mengembangkan divisi strategi yang akan membawa kami terlibat lebih jauh di tahap awal. Dengan berbekal pengalaman yang kami miliki, kami dapat memberikan konsultasi terkait studi kelayakan, hubungan antara pemilik dan operator, serta potensi suatu tapak dan aset. Kami dapat membantu menentukan akan menjadi seperti apa sebuah proyek dan bagaimana pendekatan terbaik untuk mewujudkannya.
Awalnya, kami memperluas bisnis inti dengan menambahkan disiplin seperti desain pencahayaan dan desain grafis. Kini, kami juga bergerak lebih jauh ke tahap awal proyek, dengan mengintegrasikan berbagai kapabilitas tersebut ke dalam sebuah sistem yang lebih komprehensif.
Written: HBA telah membentuk lanskap desain hospitality selama enam dekade dan kini beroperasi melalui berbagai kantor dan wilayah. Bagaimana Anda mempertahankan semangat dan nilai-nilai HBA sejak awal seiring organisasi ini terus berkembang?
CG: Saya melihatnya sebagai tantangan yang positif, dan kata spirit atau semangat memang tepat untuk menggambarkan sesuatu yang mendasari semua yang kami lakukan. Sebagai perusahaan desain, seluruh tim kami terdiri dari desainer, begitu pula dengan jajaran manajemen senior. Kami memang sebuah bisnis besar, tetapi bukan organisasi korporat dalam pengertian konvensional.
Kami dijalankan oleh orang-orang yang penuh semangat. Semangat untuk terus mencari tahu dan sikap bahwa jika sesuatu bisa kami lakukan, kami akan mencobanya, itulah yang membawa kami ke berbagai belahan dunia. Bagi saya, semangat tersebut tidak dapat dipisahkan dari siapa kami dan apa yang kami lakukan.
Kami terus melakukan apa yang selama ini kami lakukan: mengikuti perkembangan zaman, merespons dinamika yang berubah, serta memahami posisi pasar hospitality saat ini, ke mana arahnya, dan apa yang mendorong pergerakannya, termasuk kekuatan ekonomi yang lebih luas. Kami ingin tetap selaras dengan perubahan tersebut dan, terkadang, berada selangkah di depannya.
Hal menarik dari evolusi kami adalah bahwa kami bukan satu bisnis besar yang berpusat di satu tempat. Kami merupakan serangkaian entitas yang relatif kecil dan tersebar di seluruh dunia. Kami terus membangun kehadiran di lebih banyak wilayah dan menghubungkan studio-studio ini secara lebih strategis.
Di setiap lokasi, kami memiliki studio berskala relatif butik yang bekerja bersama tenaga lokal, menggunakan bahasa setempat, dan memprioritaskan proyek-proyek lokal. Jakarta merupakan contoh yang baik. Sebagian besar proyeknya melayani klien Indonesia, dengan pemahaman terhadap kebutuhan mereka dan konteks lokal.
Secara historis, HBA mungkin memiliki studio yang lebih besar di kota-kota ibu kota utama. Kini, kami beroperasi dengan pendekatan yang lebih terstruktur, tetapi tetap mempertahankan skala butik. Keuntungannya, bisnis-bisnis yang lebih kecil ini dapat mengembangkan identitas dan karakter masing-masing, yang dibentuk oleh orang-orang dan tempat di mana mereka berada.
Pada saat yang sama, selama 60 tahun, kami telah membangun infrastruktur yang mendukung setiap studio. Mulai dari operasional, keuangan, dan digitalisasi hingga proses kerja dan gambar teknis, kami memiliki standar dan sistem yang dikembangkan selama bertahun-tahun. Sebagai contoh, kami telah memiliki studio di India yang secara khusus memproduksi gambar teknis selama lebih dari 25 tahun.
Kami bukan pendatang baru dalam model bisnis seperti ini, dan kami menyimpan informasi serta pengetahuan kami secara internal. Hal tersebut memberi kami basis pengetahuan dan infrastruktur yang luar biasa, sehingga setiap bisnis kecil kami memiliki dukungan yang lebih baik dibandingkan jika mereka berdiri sendiri.
Kami benar-benar telah mengembangkan model yang menyeimbangkan aspek lokal dan global. Memang terdengar seperti klise, tetapi dalam kasus kami, ini adalah sesuatu yang telah kami bangun dan terus kembangkan.

Written: Dengan tim yang begitu besar dan tersebar secara geografis, bagaimana Anda mempertahankan budaya desain bersama tanpa memaksakan bahasa desain yang sama kepada setiap studio?
CG: Kesinambungan itu penting, tetapi begitu pula hal-hal baru dan pembaruan. Ketika kami menerima seseorang yang baru ke dalam organisasi, sangat penting bagi mereka untuk membawa sesuatu yang unik dari diri mereka sendiri dan tempat mereka berada. Mereka harus mampu menghasilkan karya yang relevan secara budaya dengan lokasi tersebut, sekaligus memahami prinsip yang kami pegang dan cara kami bekerja. Hal ini merupakan bagian penting dari proses kami.
Jakarta merupakan contoh yang baik. Secara historis, studio ini beroperasi sebagai perpanjangan dari kantor kami di Singapura, tetapi kini telah menjadi entitas bisnis tersendiri. Kristen, yang memimpin studio Jakarta, sebelumnya bekerja di Singapura. Ini mencerminkan cara kami beroperasi: seseorang menjadi bagian dari HBA, berpindah ke lokasi lain, membangun kehadiran di sana, dan pada akhirnya studio tersebut berkembang menjadi bisnis mandiri.
Ekspansi kami ke Eropa mengikuti pendekatan serupa. Ini juga merupakan respons strategis terhadap perubahan dunia, khususnya setelah COVID-19, ketika batas negara, hubungan, dan dinamika antarpasar mengalami pergeseran. Penekanan terhadap pasar domestik dan kapabilitas lokal pun semakin meningkat.
Spanyol dan Italia, misalnya, memiliki beberapa kesamaan, tetapi juga sangat berbeda dalam aspek lainnya. Kedua studio tersebut terhubung dengan kantor kami di London, yang selama bertahun-tahun berperan sebagai pusat pembelajaran dan integrasi, seperti halnya Singapura di Asia. Pada saat yang sama, kami terus menjajaki wilayah baru dan menguji cara kerja yang berbeda.
Written: Seiring HBA berekspansi ke disiplin, pasar, dan generasi desainer yang baru, menurut Anda apa yang harus tetap dipertahankan dan apa yang perlu diberi ruang untuk berkembang?
CG: Dalam bisnis inti HBA, pengetahuan tentang hospitality yang terakumulasi selama puluhan tahun merupakan hal yang esensial. Kami telah mengumpulkan pengalaman yang luas, membangun relasi, dan memahami desain hospitality dalam berbagai bentuknya.
Ini mencakup hubungan antara pemilik dan operator, apa yang diwakili oleh berbagai merek dan apa yang ingin mereka capai, serta bagaimana kami menjalankan proses desain, pelaksanaan, dan penyelesaian proyek. Kami bangga dengan rekam jejak kami dalam membangun hubungan, pemahaman, dan pelaksanaan proyek. Siapa pun yang baru bergabung dengan organisasi ini perlu memiliki keselarasan dengan prinsip-prinsip tersebut dan memahaminya.
Pada saat yang sama, pasar hospitality terus berkembang, dan perubahan ini relevan bagi kami. Kami tetap berada di garis depan selama 60 tahun karena kami terbuka terhadap perubahan yang berkelanjutan.
Industri ini berkembang lebih cepat dari sebelumnya, dengan munculnya wilayah, tipologi, arsitektur merek, dan arah baru. Kami selalu berupaya memahami perkembangan tersebut dan menjaga agar kami tetap selaras dengannya.
Bagi kami, evolusi adalah sesuatu yang terus berlangsung. Yang terpenting adalah menyeimbangkan hal-hal yang kami perjuangkan dan ingin pertahankan dengan hal-hal yang perlu kami pahami dan respons di dunia yang terus berubah.

Merancang Emosi
Written: HBA menggambarkan filosofinya sebagai “Design that gives form to emotion” atau desain yang memberi bentuk pada emosi. Apa sebenarnya makna memberi bentuk pada sesuatu yang tidak berwujud seperti emosi?
CG: Hal ini berkaitan erat dengan gagasan untuk memulai dari interior dan bergerak ke arah luar. Banyak perusahaan desain multidisipliner memulai dari arsitektur, lalu bergerak menuju skala yang lebih kecil. Kami memulai dari sini, dari interior dan pengalaman manusia.
Bagi kami, memberi bentuk pada emosi sangat berkaitan dengan semangat suatu tempat dan pengalaman berada di sana. Bagaimana orang berinteraksi? Bagaimana perasaan mereka?
Kami senang memulai dari skala meja, interaksi, dan kualitas dari suatu momen tertentu. Dari sana, kami mempertimbangkan bagaimana membangun lingkungan yang mendukung pengalaman-pengalaman tersebut. Banyak orang terlebih dahulu mengembangkan visi keseluruhan sebuah ruang, baru kemudian mempertimbangkan bagaimana rasanya berada di dalamnya, jika hal itu memang mereka pertimbangkan.
Pada akhirnya, upaya untuk memahami semangat suatu tempat dan kenikmatan halus yang dirasakan saat berada di sana merupakan cara kami membentuk lingkungan yang mendukung momen-momen tersebut.
Written: Bagaimana seorang desainer menerjemahkan perasaan atau emosi, sesuatu yang sangat personal dan cultural, menjadi keputusan nyata terkait ruang, material, cahaya, skala, atau detail?
CG: Dalam desain hospitality, kami perlu menciptakan momen yang dapat menarik bagi lebih banyak orang, terkadang melalui cara yang cukup subtil sehingga orang dapat mengapresiasinya tanpa harus mengetahui alasannya.
Dalam desain, kekhususan budaya sangatlah penting, tetapi ada pula hal-hal yang saya sebut sebagai etika dasar dalam desain yang baik, yang berlaku secara universal. Menurut saya, keseimbangan inilah inti dari desain yang baik: memahami prinsip-prinsip fundamental sekaligus merespons karakteristik khusus dari sebuah proyek.
Karakteristik khusus tersebut mencakup konteks fisik dan budaya, serta tujuan pemilik dan operator, baik untuk hunian pribadi maupun proyek komersial. Faktor-faktor inilah yang membuat setiap proyek memiliki keunikannya sendiri.
Yang kami coba lakukan adalah merangkum dan menyaring seluruh masukan tersebut. Kami mempertimbangkan apa yang bersifat tetap dan apa yang dapat berubah, apa yang universal dan apa yang spesifik, lalu mengembangkan respons yang bekerja pada tingkat kesadaran maupun bawah sadar.
Etika dasar dalam desain yang baik dimulai dari bagaimana sebuah bangunan direncanakan, proporsinya, dari mana cahaya masuk, dan apa yang dilihat orang ketika memandang ke luar. Ini merupakan kriteria universal, tetapi juga spesifik. Jendela yang menghadap ke satu arah akan menerima cahaya yang berbeda dan membingkai pemandangan yang berbeda dibandingkan jendela yang menghadap ke arah lain.
Pendekatan kami pada dasarnya berangkat dari pemahaman terhadap konteks fisik, budaya, dan komersial, kemudian menghasilkan respons yang tulus, penuh pertimbangan, dan mampu membangkitkan emosi. Artinya, kami perlu memahami matahari, angin, tapak, dan pemandangan, sekaligus mempertimbangkan perencanaan operasional dalam hospitality serta bagaimana layanan diberikan kepada tamu.
Urutan pengalaman juga penting: bagaimana seseorang tiba, bagaimana mereka disambut di ruang pertama, bagaimana ruang-ruang terbuka dan tertutup, serta transisi antara terang dan gelap. Detail-detail subtil ini merupakan bagian dari hal-hal yang telah kami pelajari dan berupaya terapkan dalam pekerjaan kami.
Written: Menurut Anda, apakah ruang hospitality yang paling berhasil dirancang berdasarkan bahasa visual tertentu atau berdasarkan pengalaman dan emosi yang ingin diingat orang?
CG: Ketika merancang ruang, saya sering membandingkannya dengan tubuh manusia. Jika kerangkanya tepat, jika tulang belakangnya lurus dan terdapat simetri, keseimbangan, serta bentuk yang baik, kulitnya akan dengan sendirinya terlihat indah. Begitulah cara saya memandang denah dan struktur dasar sebuah bangunan.
Jika Anda merancang sesuatu dengan benar lalu mengecatnya putih, seharusnya hasilnya sudah indah. Segala sesuatu yang ditambahkan setelahnya bukan sekadar tambahan, melainkan pengembangan lebih lanjut. Bisa ada lapisan, material, dan elemen budaya, tetapi esensinya harus berasal dari tempat itu sendiri.
Semua unsur pengetahuan tersebut perlu menjadi dasar dalam proses desain. Namun, jika prinsip-prinsip fundamentalnya sudah tepat, ruang itu seharusnya telah memiliki kualitas intrinsiknya sendiri.

Melampaui Tren: Masa Depan Desain
Written: Kita melihat semakin banyak pameran desain, biennale, eksibisi, dan pekan desain di seluruh dunia. Dari sudut pandang Anda, apa yang membuat sebuah acara desain benar-benar bermakna saat ini, alih-alih sekadar menjadi platform lain bagi merek untuk memamerkan produk?
CG: Saya berusaha menghindari pameran-pameran tersebut sebisa mungkin, sehingga ini menjadi pertanyaan yang cukup sulit bagi saya. Menurut saya, diskursus jauh lebih penting.
Ketika membicarakan ke mana arah industri ini, saya merasa hal tersebut jauh lebih menarik daripada sekadar melihat apa yang telah terjadi sebelumnya atau apa yang terjadi setelahnya. Intinya adalah membangun percakapan dan bertukar gagasan.
Setiap kali menghadiri acara-acara ini, saya merasa acara tersebut bermanfaat jika ada diskusi yang bermakna. Jika saya hadir, biasanya saya datang sebagai pembicara, dan saya selalu belajar dari orang-orang lain di sana. Kami merupakan bagian penting dari industri desain hospitality, tetapi saya hanya menghadiri acara jika ada sesuatu yang bisa saya pelajari darinya.
Ketika orang-orang hanya memamerkan karya mereka, nilai yang dihasilkan bisa jadi terbatas. Ketika mereka bertukar gagasan, secara inheren ada lebih banyak nilai yang bisa diperoleh. Menurut saya, hal ini juga berlaku di luar acara desain.
Written: Bagaimana pendapat Anda tentang tren yang menyebar dengan cepat melalui media sosial?
CG: Saya tidak menyukai tren, tetapi tren memang ada. Saya lebih suka menyebutnya sebagai drivers atau faktor pendorong.
Kesehatan, kebugaran, dan umur panjang merupakan faktor pendorong global yang penting, bukan hanya dalam industri hospitality, tetapi juga dalam berbagai aspek kehidupan. Keberlanjutan dan teknologi juga penting. Saya tidak terlalu melihatnya sebagai tren, melainkan sebagai kekuatan yang akan terus membentuk cara kita hidup dan merancang.
Hal yang menarik adalah bagaimana faktor-faktor pendorong ini mulai saling terhubung. Kesehatan, kebugaran, dan hospitality selalu berkaitan, tetapi dahulu aspek kebugaran mungkin diperlakukan sebagai fasilitas terpisah, seperti pusat kebugaran yang ditempatkan di sudut tertentu. Kini, kesehatan, kebugaran, dan umur panjang menjadi aspek yang jauh lebih menyeluruh.
Makanan dan kesejahteraan mental juga menjadi bagian dari pembahasan ini, dan keduanya membawa kita kembali pada semangat suatu tempat. Ketika memikirkan prinsip-prinsip desain universal dan kekuatan yang lebih luas dalam membentuk industri, berbagai pertimbangan ini semakin saling berkaitan.
Teknologi dapat berkontribusi terhadap hal tersebut. Perangkat yang dikenakan di tubuh (wearable devices), misalnya, dapat membantu mengumpulkan dan membagikan data, yang berpotensi menjadi dasar dalam merancang dan menghadirkan pengalaman hospitality.
Keberlanjutan juga berkaitan dengan gambaran yang lebih besar. Semuanya berawal dari lahan: bagaimana kita menggunakannya, di mana kita menempatkan bangunan, material apa yang kita gunakan untuk membangun, serta bagaimana kita membawa makanan dan sumber daya lainnya ke suatu tempat.
Semua elemen ini semakin terintegrasi. Bagi HBA, pendekatan yang terintegrasi tersebut merupakan arah masa depan yang sangat menarik.
Written: Jika berbicara kepada desainer muda dan mahasiswa desain, menurut Anda kualitas apa yang paling penting untuk dimiliki seorang desainer?
CG: Rasa ingin tahu dan semangat untuk terus mencari tahu. Anda harus selalu mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri, kepada orang lain, dan terhadap status quo. Selalu pertanyakan status quo. Namun, pertanyakan diri Anda sendiri juga. Keduanya harus dilakukan secara bersamaan.
