Tentang sejarah yang nyaris hilang, identitas yang terus dicari, dan tradisi sebagai cara untuk bercerita.
Bagi IB Rekha, tradisi bukan sekadar warisan yang perlu dipertahankan, melainkan cara untuk membaca kembali ingatan, identitas, dan kehidupan masa kini. Melalui seni lukis Kamasan, ia menelusuri sejarah keluarga sekaligus menemukan kemungkinan baru untuk bercerita.
Ida Bagus Rekha adalah seniman muda Bali yang mengembangkan praktik artistiknya melalui seni lukis Kamasan. Ia pernah belajar kepada I Nyoman Mandra, salah satu maestro seni lukis Kamasan, dan kini mengeksplorasi tradisi tersebut melalui cerita keseharian, identitas keluarga, hingga teknik grafis. Ketertarikannya juga membawanya menelusuri jejak sang kakek, Ida Bagus Made Gelgel, pelukis Bali yang dikenal karena keberaniannya mengembangkan tema dan gaya dalam tradisi lukis wayang. Salah satu karyanya, Dharmaswami, tercatat dalam koleksi Museum Puri Lukisan.
Bagi Rekha, melihat ke belakang bukan berarti bergerak mundur. Tradisi justru menjadi titik berangkat untuk memahami masa kini, baik melalui narasi yang diwariskan maupun sejarah personal yang belum sepenuhnya terungkap. Dalam percakapan bersama Written, ia berbagi tentang hubungan antara Kamasan dan manga, pencarian identitas melalui karya sang kakek, serta pandangannya mengenai ekspektasi pelestarian budaya yang kerap dilekatkan pada seniman muda Bali.

Menemukan Kembali Jejak Keluarga
Written: Kamu punya ketertarikan pada manga sekaligus seni lukis Kamasan. Apakah ada benang merah di antara keduanya?
IB Rekha (R): Ada banget. Dalam komik, kita membaca cerita panel demi panel. Nah, lukisan Kamasan juga bisa dibaca dengan cara serupa. Pada lukisan dengan bidang panjang yang menceritakan kisah seperti Ramayana, misalnya, cerita biasanya dimulai dari panel kiri bawah. Walau kadang berbeda-beda orientasi arah membacanya ya.
Kita bisa melihat adegan Rahwana hendak menculik Sita. Rahwana menyamar sebagai pendeta untuk mengelabui Sita agar keluar dari penjagaannya. Di panel berikutnya, Sita dibawa pergi oleh Rahwana. Adegan dan situasinya berubah, lalu ceritanya berlanjut sampai, misalnya, Jatayu mencoba menyelamatkan Sita. Sejauh mana cerita itu berlanjut bergantung pada pelukisnya. Kadang-kadang, ceritanya terpotong karena pelukis hanya mengambil satu adegan yang benar-benar ikonik.
Dulu, saya baru menyadari bahwa cerita dalam lukisan Kamasan ternyata tidak selalu berdiri sebagai satu adegan saja, seperti banyak lukisan sekarang yang hanya mengangkat satu tema. Dalam Kamasan, gambarnya bisa berlanjut, seperti membaca komik. Ada alur, babak, dan plotting-nya.
Written: Ketika mulai mengeksplorasi Kamasan, apakah ada aturan tradisi yang menurutmu tidak boleh dilanggar?
R: Hal yang paling jelas adalah kita tidak boleh menggambarkan dewa-dewa dengan cara yang tidak sesuai dengan kaidahnya. Dalam konteks kontemporer sekalipun, karakter dewa tidak bisa begitu saja digunakan dalam konteks Kamasan yang menyimpang dari pakemnya.
Kalau kita menggambarkan dewa dalam konteks yang nyeleneh, apa pun temanya, menurut saya itu juga tidak pantas. Masuk akal, karena representasi dewa dalam Kamasan masih sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya untuk ritual. Kita juga menggambar dewa tertentu, seperti Ganesha, untuk upacara di Bali. Jadi, kalau dewa tersebut digambarkan dalam konteks yang nyeleneh, rasanya memang tidak pantas.
Untuk hal-hal lain yang mungkin bisa didobrak, sebenarnya masih abu-abu bagi saya karena saya tidak berada langsung di lingkungan Kamasan. Namun saya pernah berbicara dengan Mangku Muriati. Beliau membawa konteks kontemporer ke dalam karyanya, misalnya dengan menggambar ambulans atau orang yang memakai masker. Namun, hal yang tetap dipertahankan adalah perspektif dua dimensi dalam lukisan Kamasan. Gambarnya tetap datar, tanpa perspektif, dan menggunakan warna seperti Kamasan pada umumnya. Beliau juga tidak menggambarkan dewa-dewa dalam cerita keseharian tersebut.
Dari situ, saya menangkap bahwa ada hal-hal yang bisa kita terapkan dalam praktik seni sambil tetap memahami batasan-batasan yang ada.

Written: Di luar tema tradisional, apa yang kamu eksplorasi dalam karya pribadi?
R: Sebenarnya temanya macam-macam karena saya gampang sekali terdistraksi. Tema tradisi lebih banyak saya kerjakan untuk kebutuhan di pura atau karena ada orang yang secara khusus memesan karya kepada saya.
Untuk karya pribadi, saya senang menggambarkan cerita keseharian, semacam slice of life. Ada juga karya yang membicarakan persoalan identitas saya, yaitu ketika mencoba menggali masa lalu kakek saya, Ida Bagus Gelgel.
Kakek saya adalah seorang pelukis, salah satu pelukis Pitamaha, dan karyanya ada di Museum Puri Lukisan. Persoalannya, saya tidak tahu banyak tentang beliau. Informasi tentang dirinya juga terbatas dan tidak banyak orang yang menulis tentangnya.
Saya kemudian membuat riset kecil-kecilan dengan mewawancarai adik beliau. Hasilnya, saya membuat karya yang membayangkan seperti apa karya terakhir beliau. Dalam keluarga, banyak karya beliau yang dibakar ketika meninggal, dalam prosesi Ngaben. Jadi, saya mencoba membayangkan karya terakhirnya berdasarkan informasi yang berhasil saya kumpulkan. Saya juga mengambil beberapa kutipan dari wawancara tersebut dan menggabungkannya dengan teks beraksara Bali.
Eksplorasi saya dengan Kamasan tidak bisa dibilang hanya mengikuti satu aliran klasik. Saya mencoba berbagai hal, termasuk teknik grafis drypoint. Karya itu berangkat dari sebuah lukisan tua di Museum Puri Lukisan yang saya lihat sudah termakan usia dan mulai pudar.
Melalui teknik drypoint, saya mengangkat kondisi lukisan yang mulai memudar tersebut. Secara tidak langsung, narasinya juga berkaitan dengan kisah Sita yang terbakar dalam api. Saya melihat hubungan yang menarik antara narasi cerita dan kondisi fisik lukisan yang perlahan memudar.
Written: Saat kebanyakan seniman muda sibuk melihat ke depan, kenapa kamu justru menggali masa lalu bahkan menelusuri perjalanan sang kakek?
R: Mungkin setelah pandemi, saya punya lebih banyak waktu untuk sendiri dan melihat kembali rekam jejak saya. Saya jadi banyak meninjau ulang apa saja yang sudah saya pelajari.
Ketika mengerjakan tugas akhir S2 Seni, muncul narasi tentang kakek saya karena saya merasa memiliki sejarah keluarga yang berkaitan dengan seni. Jadi, saya kembali melihat ke belakang, mencoba memahami sedikit sejarah tentang beliau dan hal-hal lainnya.
Secara tidak langsung, saya mulai memahami bahwa apa yang terjadi pada masa lalu mungkin bisa terjadi lagi pada masa sekarang maupun masa depan. Saya seperti melihat pola, terutama melalui karya-karya beliau.
Kakek saya memiliki sebuah lukisan berjudul Kematian Abimanyu. Abimanyu meninggal dalam peperangan, tetapi yang digambarkan bukanlah dirinya ketika berperang. Lukisan itu justru memperlihatkan Abimanyu setelah meninggal, dikerumuni keluarganya.
Bagi saya, lukisan itu sangat beresonansi dengan kondisi dunia saat ini yang sedang tidak baik-baik saja. Kita hidup di zaman ketika perang masih terjadi, dan korbannya sering kali adalah anak-anak muda. Menurut saya, lukisan itu memiliki relevansi dalam konteks global, bahkan hingga sekarang.
Karena itu, melihat sejarah atau masa lalu adalah salah satu cara untuk belajar. Kita bisa menggali apa yang terjadi sebelumnya, lalu menerapkan hal-hal yang kita temukan untuk memahami masa kini.
Tradisi Bukan Beban Pelestarian
Written: Kamu juga membagikan pengetahuan tentang seni lukis Kamasan melalui Khatha Studio. Apa yang mendorongmu melakukan itu setelah belajar dari Nyoman Mandra?
R: Pertama, saya tidak berada di ranah preservasi atau pelestarian. Jadi, saya tidak merasa punya tanggung jawab khusus untuk terus mengembangkan atau melestarikan seni lukis ini.
Namun, karena saya pernah belajar di tempat Nyoman Mandra, ada semacam dorongan dari dalam diri untuk mengingat bahwa beliau membagikan ilmunya kepada saya yang bukan berasal dari desa itu, jadi bisa dibilang saya orang luar yang datang untuk belajar. Namun, beliau tetap membagikan ilmu-ilmu penting kepada saya.
Dari situ, saya merasa bahwa membagikan pengetahuan yang sama kepada orang lain juga bukan masalah. Apalagi, beliau sendiri juga berbagi ilmu kepada banyak orang.
Tentu, dalam ranah saya, skalanya masih sangat sederhana. Di Desa Kamasan ada sistem sanggar dan edukasi yang terstruktur, sedangkan kegiatan saya lebih berupa perkenalan, sebuah langkah awal agar orang bisa mengenal seni lukis Kamasan.

Written: Seperti apa kegiatan yang dilakukan di Khatha Studio?
R: Ada kegiatan mewarnai dan mencampur warna. Dalam kegiatan mencampur warna, peserta membuat campurannya sendiri, lalu menggunakan warna tersebut untuk melukis.
Namun, kegiatan yang lebih sering saya lakukan adalah coloring karena lebih mudah. Saya menyiapkan sketsa, lalu peserta membuat outline dan mewarnainya menggunakan teknik sigar warna dalam seni lukis Kamasan.
Written: Sebagai seniman muda Bali yang berkarya dengan tradisi, kamu tentu kerap dianggap memiliki tanggung jawab untuk melestarikan budaya. Apakah label tersebut terasa seperti beban?
R: Saya melihatnya sebagai sesuatu yang tidak bisa saya apa-apakan. Label itu datang dari luar, bukan sesuatu yang bisa kita kendalikan sepenuhnya.
Sejauh ini, ketika berbicara dengan orang luar negeri atau tamu asing, mereka jarang sekali melihat saya sebagai seorang pelestari. Mereka melihat saya sebagai pelukis apa adanya.
Saya menawarkan kepada mereka seni yang memiliki sejarah. Namun, bukan berarti posisi saya adalah untuk memperkenalkan mereka pada budaya tertentu atau menjadi sosok yang bisa mereka labeli sebagai pelestari budaya.
Mungkin, kita di sini cenderung melihat tradisi sebagai sesuatu dari masa lampau. Secara tidak langsung, kita melabelinya sebagai sesuatu yang lama atau tidak relevan. Ada pula harapan agar tradisi tetap berada dalam bentuk yang kita kenal sekarang.
Menurut saya, label pelestari itu memang perlu ada, tetapi tidak seharusnya dibebankan kepada terlalu banyak seniman. Kalau terus dibebani seperti itu, kesenian bisa berhenti berkembang. Dalam konteks yang buruk, tradisi menjadi stuck, dan orang tidak lagi tertarik untuk mengambilnya sebagai medium berkarya karena merasa tidak bisa berekspresi di dalamnya.
Bahkan, sebelum berkarya pun sudah ada beban. Belum mulai membuat karya, tetapi sudah diberi tekanan.
Written: Menurutmu, apa kesalahpahaman yang paling umum ketika orang melihat seni tradisional Bali, khususnya seni lukis Kamasan?
R: Mungkin anggapan bahwa kita mengerjakan sesuatu yang sama sejak abad ke-16. Saya rasa tidak begitu.
Sudah ada banyak contoh seniman yang menggunakan Kamasan dengan cara berbeda, seperti Mangku Muriati dan Citra Sasmita. Belakangan ini, semakin banyak seniman Bali yang menggunakan Kamasan sebagai cara untuk menyampaikan gagasan mereka.
Menurut saya, kekeliruan yang sering muncul adalah anggapan bahwa di Bali hanya ada tradisi lama yang tidak diolah kembali. Padahal, kita selalu bisa menggunakan tradisi untuk bergerak ke depan.

Menggambar untuk Memahami Diri
Written: Sejauh ini, kamu sudah mengikuti sejumlah pameran. Adakah karya yang memperlihatkan bagaimana kamu mengolah Kamasan untuk menceritakan pengalaman personal?
R: Belum puluhan dan saya biasanya berpartisipasi dalam pameran kelompok, tetapi belum pernah berkesempatan mengadakan pameran tunggal.
Saya pernah mengikuti pameran di Bali dan mendapat undangan ke Bantul, Yogyakarta, melalui Le Gareca Space. Karya yang saya bawa juga berupa lukisan Kamasan, tetapi ceritanya tentang perjalanan ayah saya.
Ayah saya sekarang menjadi mangku, tetapi beliau juga memiliki perjalanan hidup sebelum menjadi mangku. Saya menggambarkan satu figur dirinya yang berdiri di bagian depan, kemudian dikelilingi panel-panel kecil di sekelilingnya.
Ceritanya berupa slice of life, seperti ketika beliau mengantar keponakan ke sekolah atau saat dahulu bekerja di luar negeri. Jadi, sosok ayah saya tetap hadir dalam kehidupan sehari-harinya, meskipun sekarang beliau menjadi mangku.
Written: Kalau kamu sendiri digambarkan sebagai karakter manga, karakter apa yang paling merepresentasikan dirimu atau karyamu?
R: Karakter dari manga Naruto yang bernama Sai.
Saya terpikir karakter itu ketika membuka PDF pertanyaan ini dan membayangkan karakter apa yang cocok. Kalau memilih karakter yang terlalu keren, rasanya tidak mungkin. Sai adalah seorang ninja yang bekerja dalam unit rahasia atau black ops. Ia bergerak secara tersembunyi dan memiliki persoalan dengan identitasnya.
Saya merasa terhubung dengan karakter ini karena Sai cenderung emotionless atau sulit mengungkapkan emosi. Dan ia juga menggunakan gambar untuk melawan musuh-musuhnya. Ketika bertarung, ia menggambar dengan tinta di atas gulungan, lalu gambar-gambar itu menjadi hidup.
Saya baru menyadari bahwa saya memiliki kesulitan dalam mengungkapkan emosi. Saya sering kesulitan menentukan apa yang sedang saya rasakan. Bisa dibilang, library emosi saya berantakan.
Meski begitu, berupaya menuangkannya dalam gambar atau karya-karya saya. Karya-karya ini adalah upaya saya untuk mengungkapkan kegelisahan dan kondisi emosional. Jadi, mungkin kami sama-sama menggunakan gambar untuk mengungkapkan sesuatu yang sulit disampaikan dengan cara lain.