Penyelenggaraan Art & Bali yang kedua kalinya menjangkau audiens yang lebih luas lewat Art Fair dan pameran utamanya yang bertajuk What the Body Remembers.
“Bali memiliki komunitas seniman terbesar kedua di Indonesia setelah Yogyakarta, namun belum ada event seni internasional atau besar di sini.” Demikian alasan perhelatan Art & Bali di Nuanu Creative City diadakan, seperti yang disampaikan oleh Kelsang Dolma, Founding Director Art & Bali dalam sambutannya. Hadir kembali untuk kedua kalinya, Art & Bali semakin menunjukkan komitmen dan ambisinya untuk menjadi platform yang patut diperhitungkan dalam ranah seni Indonesia.

Kesuksesan penyelenggaraan perdananya di tahun 2025 menjadi modal kepercayaan diri bagi Nuanu Creative City untuk kembali memberikan yang terbaik tahun ini. Jika tahun lalu merupakan ‘perkenalan’, tahun ini Art & Bali melangkah lebih lanjut dengan mulai menjangkau lebih banyak disiplin, di Asia Tenggara hingga India. Mereka berkumpul untuk menjawab sebuah pertanyaan: Bagaimana praktik-praktik kreatif yang tumbuh secara terpisah dapat dibaca dan dipahami secara berdampingan saat ini?
Pertanyaan ini juga muncul dari benang merah tema Art & Bali, Bridging Dichotomies yang mempertemukan tradisi dan modernitas, alam dan teknologi, kriya dan pasar. Maka nggak heran ketika kami menerima undangan untuk menghadiri Art & Bali edisi kedua ini, kolaborasi dengan desainer fashion menjadi sorotan utama pada pameran utama, What the Body Remembers. Mengapa fashion? Jadi, ini adalah pameran seni atau fashion?

Aktivitas Art & Bali sendiri terbagi ke dalam dua area besar, yaitu Art Fair yang menjadi ruang komersial bagi galeri dan seniman dan diselenggarakan selama tiga hari, dan yang kedua adalah pameran utama yang kali ini berlangsung sampai 29 November 2026.
Udara panas Bali tidak menghentikan langkah kami menuju Nuanu Creative City. Pada tanggal 11 September 2026 lalu, terlihat para seniman, pemilik galeri, pencinta seni, penikmat budaya, kolektor, desainer, dan lainnya berkumpul di Labyrinth Convention Centre, tempat pusat aktivitas Art & Bali.
Art Fair: Pertemuan Seni Lintas Benua
Pertama-tama kami disambut oleh ruangan dua lantai serba putih yang telah dibagi-bagi untuk memberi tempat bagi para galeri untuk menampilkan karya-karya seni yang mereka representasikan. Tahun ini, Art Fair ini membawa 23 galeri seni, institusi, serta ruang seni independen dari Indonesia, Malaysia, Spanyol, Italia, Swiss, dan Amerika Serikat, yang memamerkan karya lebih dari 300 seniman.

Sejumlah nama di antaranya yang mungkin cukup familier buat kamu seperti Agung Rai Fine Art Gallery, Connected Art Platform, LANӦ Contemporary Art Gallery, Philo Art Space, dan lainnya.
Berbeda dengan art fair pada umumnya, galeri-galeri ini tidak membayar sewa booth, melainkan diundang dan dikurasi langsung oleh panitia Art & Bali. Sebuah komitmen yang cukup mengejutkan in this economy.
“Kami percaya pembangunan harus turut merawat, mempromosikan, dan mendukung seni,” jelas Lev Kroll, CEO Nuanu Creative City. Lebih dari sekadar kata-kata manis, Lev terlihat sangat terlibat dalam berbagai kegiatan, termasuk menjadi moderator salah satu sesi Nuanu Future Talks yang cukup padat.

Warisan yang Diingat Tubuh
Tepat di sebelah Labyrinth Convention Centre, terdapat Labyrinth Art Gallery. Ruang ini menjadi tempat ekspresi bagi 26 desainer, seniman, dan studio dari India dan Indonesia. Dikurasi oleh Bandana Tewari dan Brina Paska, pameran utama ini diberi tajuk What the Body Remembers.

Seluruh seniman dan desainer yang terlibat menampilkan karya yang mengeksplorasi bagaimana memori itu bukan diwariskan lewat perkataan atau tulisan, tapi lewat pengalaman tubuh. Pameran ini menampilkan beragam format karya dari seni kontemporer, tekstil, fashion, kriya, hingga material.
Semuanya mempertanyakan bagaimana sebuah pengetahuan dapat diteruskan lintas generasi melalui sentuhan, repetisi, dan pertukaran pengalaman.
Berikut sejumlah karya yang menarik perhatian kami dari pameran ini.

Beras Tumpah dari desainer fashion Iyonono. Ia merepresentasikan kenangan masa kecilnya yang tumbuh di rumah kontrakan sederhana di gang sempit dan kerap dibingkai oleh tali jemuran, aroma kain yang baru dicuci, kehidupan bertetangga.
Beras menjadi salah satu objek utama atas kenangan akan ibunya. Meski esensial untuk kehidupan, dulu ibunya hanya bisa membeli beras dalam jumlah sedikit bahkan dengan mengutang. Karya ini mengangkat kenangan pribadi menjadi refleksi bagi publik tentang kelas sosial, kerja keras, kegigihan, dan kasih sayang seorang ibu.

Dalam Routes of Touch, Sarita Ibnoe memandang tekstil sebagai suatu bentuk kartografi—sebuah cara untuk memetakan pergerakan, memori, sentuhan, dan koneksi antarmanusia. Melalui tenunan, teknik bungkus (wrapping), kertas, dan bentuk-bentuk skulptural yaitu tekstil yang menjuntai dan struktur yang dibungkus, ia mengeksplorasi bagaimana identitas dan rasa memiliki (belonging) dibentuk melalui perjumpaan dengan manusia, tempat, dan gestur yang diwariskan.
Sarita ibarat menceritakan peran tangan di karya ini tidak hanya untuk membuat karya, tapi membawa pengetahuan, repetisi, dan kepedulian yang menyalurkan memori dan identitas.

Princess Pea - alterego dari seniman asal India, Natasha Preenja, menuangkan puisi Warsan Shire yang berjudul Backwards ke dalam karyanya. Puisi ini menjadi titik refleksi yang berulang bagi Princess Pea karena menurutnya, puisi ini mampu menampung memori, duka, dan pemulihan sekaligus.
Lebih dari sekadar membuat pola, ia melihat karyanya sebagai bagian dari ritme fisik yang dihasilkan dari gerakan tubuh yang berulang cenderung meditatif. Dengan gerakan berulang ini tubuh melepaskan, mengingat, dan membentuk kembali apa yang dibawanya.

Lewat Sésa Raga, Dwiky Aditya memberikan wujud fisik pada pengikisan budaya yang terjadi pada wastra nusantara. Karya instalasinya dibuat dari akumulasi material tradisional dan kontemporer, seperti tikar samak mendong, batik, kain tenun, kulit kayu lantung, bordir Tasikmalaya, serta serat alami dan sintetis. Permukaannya menyimpan berbagai bahasa visual secara bersamaan.
Motif-motif muncul dan menghilang, tekstur saling tumpang tindih. Apa yang awalnya tampak utuh pelan-pelan terlihat seperti sesuatu yang berlapis-lapis dan sulit diuraikan. Ini mengingatkan kita bahwa tubuh membawa sisa-sisa dari berbagai tradisi yang mungkin belum hilang, tapi bisa dibungkam atau memudar. Dwiky juga merupakan salah satu J+ Art Awards Nominee 2026.
Jadi, mengapa fashion? Nyatanya elemen di dalam ranah fashion seperti material dan lainnya dapat menjadi sumber inspirasi yang sangat kaya bagi para seniman. Di sisi lain, budaya, sejarah, teknik pembuatan karya kerap menjadi landasan sebuah karya fashion dan tekstil dilahirkan. Dialog ini dinarasikan dengan indah pada pameran What the Body Remembers yang dapat kamu nikmati di Labyrinth Art Gallery, Nuanu Creative City hingga tanggal 29 November 2026 mendatang.