Bagaimana jika ilustrasi tidak berhenti di atas kertas? JICAF 2026 mempertemukan ilustrasi dengan fashion, craft, cycling, budaya populer, hingga material melalui berbagai kolaborasi yang membuka cara baru dalam menikmati creative arts.

Ilustrasi bisa menjadi titik awal untuk mempertemukan berbagai dunia. Hal ini terlihat dalam penyelenggaraan Jakarta Illustration & Creative Arts Fair (JICAF) 2026 yang membawa tema The World We Draw.

Memasuki tahun keempat, JICAF hadir di tempat baru yaitu Agora Mall pada 17 September hingga 4 Oktober 2026, pameran karya ilustrasi ini tidak hanya menghadirkan karya para ilustrator dan seniman visual, tetapi juga membuka ruang pertemuan antara artists, brands, communities, dan berbagai creative players. Sejumlah kolaborasi yang hadir tahun ini memperlihatkan bagaimana ilustrasi dapat berkembang ketika bertemu dengan fashion, craft, cycling, budaya populer, hingga material.

Dari Ilustrasi ke Kolaborasi

The World We Draw berangkat dari gagasan bahwa setiap kreator memiliki dunia masing-masing untuk dibagikan melalui karya. Di JICAF 2026, dunia tersebut kemudian bertemu dengan dunia kreator dan industri lainnya.

Pertemuan ini membuat ilustrasi tidak berhenti sebagai karya yang dilihat, tetapi dapat diterjemahkan menjadi produk, pengalaman, maupun proyek kolaboratif. Beberapa di antaranya bahkan berangkat dari shared passion dan komunitas yang sudah terbentuk sebelumnya.

Ketika Ilustrasi Bertemu Fashion dan Craft

Salah satu kolaborasi yang menarik hadir melalui Rinaldo Hartanto x LEKAT. Keduanya mempertemukan ilustrasi dengan fashion dan craft melalui eksplorasi folklore dan volcanic imagery.

Kolaborasi ini juga memanfaatkan leftover fabrics dari LEKAT yang kemudian diolah menggunakan teknik patchwork. Material tersebut diterjemahkan menjadi sejumlah produk seperti Patchwork Bag dan Cap.

Membawa Karakter Disney ke Konteks Lokal

JICAF 2026 juga menjadi tempat peluncuran Disney Jajan, sebuah kolaborasi antara Disney Indonesia dan ilustrator lokal yang difasilitasi oleh enMasse sebagai penyelenggara JICAF.

Proyek ini mengajak tiga ilustrator, yaitu Ykha Amelz, WD Wily, dan Liunic, untuk memberikan interpretasi terhadap karakter Stitch dan Angel melalui perspektif budaya jajanan dan street food Indonesia.

Menariknya, masing-masing ilustrator tetap membawa gaya dan perspektif visual mereka sendiri. Hasilnya menjadi sebuah pertemuan antara karakter global dengan konteks lokal yang diterjemahkan melalui sudut pandang kreator Indonesia.

Kolaborasi yang Berangkat dari Community

Kolaborasi lainnya hadir melalui Stereoflow x Psychloop. Berangkat dari shared passion terhadap sepeda dan pengalaman yang tumbuh bersama cycling community, keduanya menghadirkan Special Drop di JICAF 2026.

Produk yang ditujukan untuk everyday cyclists ini memadukan fungsi dengan kreativitas, sekaligus membawa semangat untuk membuat pengalaman bersepeda terasa lebih menyenangkan.

Press conference JICAF 2026

Ketika Pengunjung Ikut Menjadi Bagian dari Karya

Tidak semua kolaborasi di JICAF hadir dalam bentuk produk. Fluxcup, misalnya, menghadirkan DUBKIL PROJECT atau Dubbing Kilat yang mengajak pengunjung menjadi bagian langsung dari proyeknya.

Pengunjung direkam di area pameran, kemudian video tersebut mendapatkan dubbing dengan gaya absurd dan nihilist khas Fluxcup dalam waktu sekitar 10 detik. Tanpa skrip maupun retake, hasilnya langsung diberikan kepada peserta dan selanjutnya dikompilasi untuk dibagikan melalui Instagram @flux.cup.

Melalui pameran, program, dan kolaborasi, JICAF 2026 menempatkan ilustrasi sebagai ruang untuk membangun koneksi antara kreator, komunitas, brand, dan audiens. Dari pertemuan tersebut, muncul berbagai kemungkinan baru yang membawa ilustrasi keluar dari batas medium asalnya.

JICAF pun kembali memperlihatkan perannya sebagai ruang pertemuan bagi karya, komunitas, kolaborasi, dan peluang baru dalam ekosistem creative arts. Karena terkadang, sebuah dunia baru justru muncul ketika dua dunia yang berbeda bertemu.