Perdebatan Wiyu Wahono dan Timur Kadyrov di Art & Bali 2026: apakah masa depan seni milik algoritma AI, atau justru kembali ke sentuhan fisik?

Di tengah riuh perhelatan Art & Bali 2026 di Labyrinth Convention Centre, Nuanu Creative City, serangkaian percakapan berbobot pun turut berlangsung dalam program Nuanu Future Talks. Di bawah atap arsitektur berbentuk dome nan ikonis, para pelaku kreatif, desainer, seniman, kolektor, budayawan, berbagi pandangan masing-masing dalam beragam topik obrolan.

Saat duduk dalam kegelapan (ruangannya didesain gelap), ada satu sesi yang menarik bukan hanya perhatian kami, tapi juga pengunjung lain. Ini terbukti dari respon penonton dalam menanggapi pandangan atau ekspresi para pembicara.

Di sesi ini, pimpinan Nuanu Creative City, Lev Kroll, mempertemukan dua sosok dengan cara pandang yang saling bertolak belakang.

Mereka adalah Wiyu Wahono, seorang kolektor seni rupa Indonesia berlatar pendidikan teknik di Jerman yang mendedikasikan lima tahun terakhirnya mengoleksi karya berbasis kecerdasan buatan (AI Art). Di kursi lain duduk Timur Kadyrov, penulis buku ternama The Book: The Ultimate Guide to Rebuilding a Civilization dan salah satu pendiri Hungry Minds yang memandang daya cipta melalui kekuatan cerita, narasi, dan wujud karya fisik.

Mengusung judul “The Future of Digital Art”, diskusi ini bukan sekadar obrolan teknologi yang kaku, melainkan ruang adu gagasan yang cerdas untuk menguji batas antara sentuhan tangan manusia dan kemampuan teknologi.

Mengapa Kita Cenderung Menolak Seni Digital dan AI?

Diskusi dibuka dengan pertanyaan mendasar dari Lev Kroll mengenai keraguan pasar terhadap seni digital: mengapa karya yang hadir di layar sering dianggap kurang berharga dibandingkan lukisan atau patung konvensional?

Nilai Karya Seni dan Hambatan Pasar

Wiyu Wahono menjawab keraguan ini dengan mengajak kita melihat kebiasaan para pembeli karya seni. Menurutnya, sebagian besar kolektor masih membeli karya demi keuntungan investasi di masa depan. Di saat yang bersamaan, seni digital masih tergolong sulit untuk dijual kembali di pasar lelang atau galeri komersial.

Sepanjang abad ke-20, nilai dan makna sebuah karya selalu diikatkan pada wujud fisiknya. Karya dua dimensi berarti lukisan di atas kanvas; karya tiga dimensi adalah patung batu atau perunggu. Ketika wujudnya bergeser menjadi susunan kode dan titik cahaya di layar, banyak orang kehilangan pegangan tentang dari mana nilai materi itu berasal," ungkap Wiyu.

Menanggapi hal tersebut, Timur Kadyrov membedakan secara tegas antara seni digital sebagai alat berkarya dan seni berbasis kecerdasan buatan. Bagi Timur, seni digital sering dianggap kurang bernilai tinggi bukan karena medianya buruk, melainkan karena file digital sangat mudah digandakan berkali-kali tanpa mengurangi kualitas aslinya sama sekali.

Rasa 'Tertipu' dan Rasa Takut pada Hal Baru

Ketika topik beralih ke seni yang dihasilkan kecerdasan buatan, perdebatan pun menjadi semakin hangat. Timur menilai bahwa penolakan audiens terhadap karya AI berakar dari rasa janggal di dalam diri penikmatnya.

"Banyak orang merasa tertipu saat melihat karya AI. Ada perasaan bahwa ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang kurang bermakna. Manusia punya hubungan batin yang cukup rumit dan penuh rasa curiga terhadap hal-hal yang dibuat oleh mesin cerdas," jelas Timur.

Pandangan itu langsung ditanggapi Wiyu. Pengalamannya mengoleksi seni AI selama lima tahun membuktikan bahwa penolakan masyarakat umumnya terjadi karena salah paham. Secara psikologis, manusia memang punya kecenderungan alami untuk menolak apa pun yang belum mereka mengerti.

Memahami seni AI sejatinya tidak sesederhana membayangkan seseorang yang hanya mengetik beberapa kata perintah (prompt) di depan komputer. Praktik ini bekerja mirip seorang dirigen musik: ia tidak meniup terompet atau menggesek biola sendiri, melainkan memimpin dan memadukan ribuan instrumen, data visual, dan gagasan secara terarah agar melahirkan harmoni keindahan yang utuh.

Ketika ditemui di Art Jakarta 2026 beberapa waktu lalu, Wiyu kembali menegaskan bahwa ketika seorang Wiyu Wahono mengambil foto menggunakan kamera, hasilnya tidak menjadi karya seni fotografi. Sama halnya dengan ketika seseorang membuat video dengan hanya memasukkan prompt, karya itu tidak kemudian menjadi karya seni AI.

Foto yang menunjukkan kolektor seni Wiyu Wahono dan penulis Timur Kadyrov di panggung talkshow
Timur Kadyrov dan Wiyu Wahono

Masa Depan: Kepastian Teknologi Lawan Kerinduan Sentuhan Fisik

Ketika Lev Kroll menanyakan arah tren seni di masa depan, kedua pembicara mengambil sudut pandang yang sangat berbeda.

Berselancar di Tengah Kehadiran AI

Bagi Wiyu Wahono, kehadiran kecerdasan buatan dalam seni adalah kenyataan zaman yang tidak bisa dihindari. Kehidupan manusia saat ini sudah menyatu dengan dunia digital, dan karya seni bertugas merefleksikan perubahan tersebut.

"Suka atau tidak, AI adalah masa depan seni rupa. Pilihan bagi para seniman hari ini hanya ada dua: buat karya yang mustahil dikerjakan oleh AI, atau jadilah seniman yang memanfaatkan AI itu sendiri. Keduanya tetap mengharuskan seniman untuk memahami dan bekerja berdampingan dengan teknologi ini," tegas Wiyu.

Arus Balik Menuju Sapuan Kuas Nyata

Timur Kadyrov membaca masa depan dari arah sebaliknya. Ia memprediksikan minat masyarakat justru akan bergerak kembali ke arah karya fisik yang bisa disentuh dan dirasakan secara nyata.

Menurut Timur, ketika gambar digital berkualitas tinggi semakin mudah dan instan dibuat oleh siapa saja, karya seni AI akan kehilangan keistimewaannya karena jumlahnya yang membanjir di mana-mana. Saat itulah publik akan rindu pada keaslian buatan tangan.

"Ketika segala sesuatu terlalu gampang dibuat di komputer, orang-orang justru akan mencari sesuatu yang punya tekstur nyata—misalnya lukisan yang memperlihatkan gurat dan tumpukan cat dari sapuan kuas asli. Seniman fisik akan tetap bertahan karena karya mereka hadir nyata mengisi ruang hunian dan menjadi bagian dari interior hidup kita," ujar Timur.

Dari Layar 1,2 Juta Euro Hingga Arsip Sejarah

Terkait anggapan bahwa seni digital tidak bernilai tinggi, Wiyu Wahono mematahkan pandangan tersebut dengan contoh nyata. Ia menceritakan keberadaan karya seni AI berskala raksasa yang berhasil terjual seharga 1,2 juta Euro (sekitar Rp20 miliar). Karya berupa layar megah berukuran 9x16 meter yang menampilkan lanskap gurun pasir bergerak itu hanya diproduksi tiga buah di seluruh dunia: satu di Prancis, satu di Thailand, dan satu di Jakarta (kamu bisa tebak ada di mana yang di Jakarta?)

Bagi Wiyu, nilai sebuah karya seni tidak boleh diukur hanya dari murah atau mahalnya bahan fisik yang dipakai, melainkan dari kemampuannya merekam jiwa dan semangat zamannya.

"Ada prinsip utama di dunia seni yang pernah disampaikan oleh pendiri Museum of Modern Art New York: senimanlah yang berjalan di depan membuka jalan, dan kita mengikutinya dari belakang. Hari ini, museum-museum besar dunia mulai mengoleksi seni AI karena tugas museum adalah menyimpan rekaman sejarah dari era yang sedang berlangsung. Kita hidup di era kecerdasan buatan. Di masa depan, saat orang melihat kembali tahun 2026, era AI inilah penanda sejarah peradaban kita."

Kekuatan Tema, Pengetahuan, dan Sikap Fleksibel

Menjelang akhir sesi, percakapan bermuara pada saran praktis bagi seniman muda dan pencinta seni yang memadati ruangan.

Gagasan sebagai Pijakan Utama

Ketika ditanya apa faktor penentu keberhasilan seorang seniman, Timur Kadyrov menegaskan bahwa kekuatan gagasan adalah fondasi paling utama.

"Langkah awal menuju keberhasilan karya adalah tema. Temukan ide pokok yang kuat terlebih dahulu, baru kemudian pikirkan media apa yang cocok untuk menghadirkannya. Kunci penting bagi seniman hari ini adalah kemampuan beradaptasi: jangan ragu berganti media, berpindah topik, atau menyesuaikan ruang pamer agar karya tetap hidup," tutur Timur.

Mengasah Kepekaan Rasa Lewat Pengetahuan

Sebagai penutup, Wiyu Wahono mengingatkan bahwa kemampuan menikmati seni bukanlah bakat bawaan lahir, melainkan kepekaan yang bisa dilatih lewat belajar.

"Saat kita berdiri memandang sebuah karya dan menilainya bagus atau tidak, penilaian itu lahir dari perpaduan selera dan pengetahuan. Selera seni bisa dipelajari. Jika Anda ingin mengoleksi seni masa kini, banyaklah membaca buku tentang seni kontemporer terkini. Lewati buku-buku teori seni abad lalu karena situasinya sudah berbeda. Hari ini kita hidup di tengah banjir informasi yang butuh sudut pandang baru," pesan Wiyu.

Kudos to Art & Bali 2026 yang berani mempertemukan dua pandangan berbeda dalam satu panggung, yang justru melahirkan debat yang intelijen dan hidup. Salah satu penonton bahkan memulai pertanyaannya pada Wiyu dengan kalimat: "I completely disagree you, but I find your opinion interesting." (Saya benar-benar tidak setuju dengan kamu, tapi opinimu menarik).

Pada akhirnya, sesi diskusi sore itu usai tanpa harus mencari siapa yang paling benar. Wiyu Wahono melihat masa depan lewat percepatan teknologi dan pencatatan sejarah, sementara Timur Kadyrov mengingatkan kita pada kerinduan mendasar manusia akan kehangatan karya fisik buatan tangan.

Perbedaan pandangan ini justru menunjukkan bahwa di masa depan, kanvas bertabur cat minyak dan layar berpendar teknologi tidak saling menyingkirkan, melainkan tumbuh berdampingan.