Prada Marfa: Butik, Seni atau Kritik?

Arif Nurohman
Prada Marfa, Foto: Pradagroup

Karya seni sering kali muncul dari ide-ide yang enggak terduga, dan Prada Marfa adalah salah satu contohnya. Instalasi ini bakal bikin kita geleng-geleng sambil bertanya, “Kok bisa ya kepikiran bikin toko di tengah gurun?”

Bangunan ini adalah karya seni permanen berbentuk toko Prada, hasil kolaborasi duo seniman kontemporer asal Denmark dan Norwegia, Michael Elmgreen & Ingar Dragset, bersama organisasi seni Ballroom Marfa dan Art Production Fund. Dibangun pada 1 Oktober 2005, karya ini berdiri sendiri di tengah lanskap sepi, dekat kota kecil Marfa, Texas, Amerika Serikat.

Foto: Pradagroup

Sekilas, bangunan ini terlihat seperti butik Prada sungguhan. Tapi jangan mudah tertipu, “butik” ini tidak pernah buka. Tidak ada penjaga, tidak ada listrik, tidak ada toilet, bahkan tidak ada handle di pintunya. Ia hanya berdiri diam, seperti sedang menyamar jadi etalase.

Koleksi Prada Marfa, Foto: highxtar.com

Dengan luas sekitar 15 meter persegi, selain menggunakan logo Prada asli dan memiliki izin, instalasi ini menampilkan enam tas Prada dan empat belas pasang sepatu (semuanya hanya untuk kaki kanan) dari koleksi Fall/Winter 2005. Sesuai dengan koleksi label Prada di tahun itu. Semua koleksi tersebut dipilih langsung oleh Co-CEO Prada, Miuccia Prada, dan sengaja dimodifikasi agar tidak bisa dicuri atau dijual kembali—tasnya dilubangi, dan sepatunya hanya satu sisi.

Karena kerap jadi objek vandalisme dan pencurian, saat ini Prada Marfa sudah dilengkapi dengan sistem keamanan dan juga kamera pengawas yang standby 24 jam. Bahkan vandalisme hari pertama dalam 24 jam sejak dibuka, Prada Marfa dirusak — pintu dicongkel, tas dan sepatu dicuri, dinding dicoret.

Vandalisme di Prada Marfa, Foto: highxtar.com

Bangunannya bergaya minimalis, dibangun menggunakan material adobe brick, beton, plester, dan kaca. Interiornya dirancang layaknya butik mewah, lengkap dengan pencahayaan dan lantai karpet. Namun, keheningan sekitarnya menciptakan kontras yang tajam—brand mewah ditempatkan di tempat yang bahkan tidak memiliki target pasar.

Michael Elmgreen & Ingar Dragset, Foto: artspace.com

Makna di balik Prada Marfa bukanlah estetika semata. Elmgreen dan Dragset menggunakannya sebagai kritik terhadap budaya konsumerisme dan absurditas fashion mewah. Mereka mempertanyakan: apa gunanya kemewahan jika tidak bisa digunakan, tidak dibutuhkan, dan tidak bisa dibeli?

Proyek ini menghabiskan biaya sekitar US$80.000 (setara dengan ±1,2 miliar rupiah saat itu). Meski awalnya dirancang untuk membusuk seiring waktu, Prada Marfa justru menjadi landmark yang terus dirawat. Ia sempat dianggap ilegal oleh otoritas Texas karena menampilkan merek dagang di ruang publik, namun kemudian dikukuhkan sebagai karya seni non-komersial.

Beyoncé berpose di Prada Marfa, Foto: I am Beyonce Tumblr

Ironisnya, toko yang tidak pernah buka ini kini menjadi salah satu “toko Prada” paling terkenal di dunia. Ia muncul di serial Gossip Girl, dikunjungi selebriti dan fotografer, dan menjadi bagian dari identitas budaya Texas Barat.

Di tengah gurun yang sepi, bangunan ini berdiri sebagai pengingat: kadang, yang tidak berguna justru yang paling banyak dibicarakan.

SHARE :
WhatsApp
Facebook
Twitter
Email
Artikel Lainnya