Pacific Place selama ini dikenal sebagai destinasi gaya hidup dan belanja di Jakarta. Namun beberapa waktu lalu, ruang ini menghadirkan pengalaman yang berbeda. Di Bombo Space, ruang seni dan komunitas terbaru, digelar pameran bertajuk The Lighted Heart, sebuah pameran kolektif yang dikurasi oleh Sekar Atika. Melalui pameran ini, Bombo menghadirkan sudut ritel yang bertransformasi menjadi ruang refleksi, mengajak pengunjung untuk berhenti sejenak dan menengok ke dalam diri. Di tengah suasana Ramadan yang identik dengan perenungan, pameran ini menjadi pengingat bahwa makna “pulang” tidak selalu tentang tempat, tetapi tentang menemukan ketenangan dalam diri sendiri.

Terinspirasi oleh pemikiran penyair Sufi Rumi, pameran ini merangkai narasi tentang perjalanan pulang, bukan ke sebuah alamat, melainkan ke dalam diri. Alih-alih menghadirkan simbol religius secara eksplisit, pendekatan yang diambil terasa subtil dan reflektif. Hal ini selaras dengan semangat anikonisme dalam tradisi seni Islam, di mana fokus diarahkan pada pengalaman spiritual dan esensi, bukan representasi figuratif. Dalam konteks ini, “cahaya” tidak dihadirkan sebagai objek visual semata, tetapi sebagai metafora yang hidup di antara proses, ingatan, dan kesadaran personal.
Pengalaman ini semakin diperdalam melalui instalasi berbentuk kubah yang menjadi pusat perhatian dalam pameran. Terinspirasi dari arsitektur Islam, bentuk kubah dihadirkan sebagai simbol cakrawala yang luas dan tak terbatas, sekaligus sebagai ruang refleksi yang imersif.

Di dalam instalasi ini, pengunjung tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga partisipan. Mereka diajak untuk melalui serangkaian aktivitas sederhana namun bermakna, mulai dari memotong pola geometris sebagai bentuk purifikasi, menghiasnya dengan mika berwarna untuk menghadirkan ketenangan visual, hingga menuliskan harapan pribadi yang kemudian ditempelkan pada struktur kubah. Gestur-gestur kecil ini menciptakan pengalaman yang intim, sebuah praktik refleksi yang sederhana namun menyimpan resonansi emosional yang lebih dalam.
Pameran ini juga memperluas jangkauannya melalui berbagai aktivasi kreatif yang menghubungkan seni dengan praktik sehari-hari. Lokakarya yang dihadirkan tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga ruang berbagi pengalaman, di mana proses membuat menjadi bagian dari perjalanan memahami diri. Dalam konteks ini, seni tidak lagi berdiri sebagai objek yang diamati dari kejauhan, melainkan sebagai aktivitas yang hidup dan dapat dirasakan secara langsung.

Menariknya, narasi tentang refleksi dan ekspresi diri ini turut diperluas ke ranah gaya hidup melalui kurasi mode oleh Bimbi. Koleksi Raya 2026 yang ditampilkan menghadirkan dialog antara label internasional seperti Kenzo, Marc Jacobs, Emporio Armani, dan Givenchy dengan label lokal seperti Baby M dan Dear GG. Perpaduan ini mencerminkan semangat yang sama dengan pameran, bahwa identitas dan ekspresi tidak harus terikat pada satu bentuk, melainkan dapat berkembang melalui interpretasi yang personal dan kontekstual.
Sebagai pameran yang berlangsung pada momen Ramadan dan menjelang Idulfitri, The Lighted Heart menawarkan pendekatan yang tidak klise. Pameran ini tidak berbicara tentang spiritualitas melalui simbol yang gamblang, tetapi melalui pengalaman yang perlahan membangun kesadaran. Dalam keheningannya, pameran ini mengingatkan bahwa di tengah ritme yang serba cepat, selalu ada ruang untuk berhenti sejenak, mendengarkan, merasakan, dan mungkin menemukan kembali cahaya yang selama ini sudah ada di dalam diri.

Meski pameran ini telah berakhir pada 3 April lalu, kamu tetap dapat mengunjungi Bombo Space yang merupakan bagian dari multi-brand store Bimbi. Ruang ini menghadirkan area khusus untuk seni dan aktivitas komunitas, sekaligus dirancang sebagai tempat untuk bertemu, berdialog, dan merayakan praktik kreatif yang berakar pada nilai kebersamaan.