Pameran “Meanwhile”: Ketika Offline Jadi Kemewahan di Masa Kini

Kita hidup di tengah banjir informasi yang tiada henti. Media sosial, berita, hingga kehidupan orang lain, semuanya mengalir deras melalui layar kita setiap hari. Tanpa disadari, itu semua membentuk cara kita memandang dunia, bahkan diri kita sendiri. Tapi di saat yang bersamaan, justru semakin sulit untuk benar-benar memahami satu sama lain secara utuh.

Hal itu yang coba diungkapkan oleh seniman asal Indonesia, Naufal Abshar, dalam pameran tunggal terbarunya, Meanwhile, yang berlangsung di YIRI ARTS, Taipei, sejak 26 Maret hingga 9 Mei 2026. Dalam pameran ini ia menghadirkan beberapa rangkaian karya lukis dan instalasi yang memadukan teks, emosi, dan pendekatan visual yang reflektif. Dengan gaya khasnya, Naufal mengolah kegelisahan sehari-hari manusia menjadi sebuah pengalaman visual yang terasa dekat. Pameran ini bekerja sebagai ruang dialog antara humor, kritik sosial, dan ekspresi personal yang relevan dengan audiens masyarakat masa kini.

Pameran Meanwhile di YIRI ARTS. Sumber foto: yiriarts.com

Bagi yang sudah lama mengikuti perjalanan Naufal, gaya visualnya langsung terkenali: warna-warna cerah yang berani, garis tegas yang ekspresif, dan teks-teks spontan yang terasa seperti coretan pikiran yang tiba-tiba muncul di permukaan kanvas. Ada sesuatu yang ringan, bahkan jenaka, dalam cara ia menyusun elemen-elemen tersebut.

Tapi jangan terkecoh oleh tampilannya yang playful. Di balik estetika yang terasa ringan itu, tersimpan rasa gelisah, refleksi pribadi, bahkan kritik sosial, semuanya disampaikan tanpa menggurui, tanpa berteriak. Seperti teman yang berbisik sesuatu yang penting di tengah keramaian. Dalam Meanwhile, pendekatan ini semakin matang: setiap karya terasa seperti potongan adegan dari kehidupan sehari-hari yang disusun menjadi sebuah teater kecil, di mana tiap figur membawa cerita dan emosinya masing-masing.

Salah satu karya Naufal Abshar dalam pameran Meanwhile. Sumber foto: yiriarts.com

Banyak elemen dalam karya-karyanya terasa seperti datang dari “masa lalu”, bukan nostalgia yang spesifik, melainkan sebuah suasana yang akrab. Cara berpakaian, mobil yang digunakan, kebiasaan membaca koran. Seolah Naufal sedang mengingatkan kita bahwa kehidupan yang lebih lambat itu pernah ada dan mungkin kita rindukan tanpa benar-benar menyadarinya.

Dilansir dari website resmi yiriarts.com satu teks dalam karyanya bahkan menulis secara langsung: “Offline is the new ultimate luxury.” Kalimat itu terasa seperti lelucon sekaligus kebenaran yang menyakitkan. Di dunia yang selalu terkoneksi, waktu untuk benar-benar hadir tanpa notifikasi dan tanpa layar telah menjadi sesuatu yang langka, bahkan dianggap sebagai kemewahan.

Di beberapa lukisan, figur-figur yang ia tampilkan tampak sibuk dengan dunianya sendiri. Wajah mereka tertutup koran, atau tersembunyi di balik refleksi kacamata hitam. Ada jarak yang tidak terlihat, antara satu orang dengan yang lain, bahkan antara karya dan penontonnya. Mungkin inilah cara Naufal menggambarkan bagaimana kita berinteraksi sekarang: dekat secara fisik, tapi sesungguhnya jauh.

Beberapa karya Naufal Abshar dalam pameran Meanwhile. Sumber foto: yiriarts.com

Jarak itu tidak digambarkan dengan cara yang dramatis atau menghakimi. Justru sebaliknya: ia dihadirkan dengan nada yang tenang, hampir sehari-hari. Seolah Naufal ingin berkata bahwa kondisi ini bukan anomali, melainkan sudah menjadi bagian dari ritme hidup kita yang normal. Dan mungkin itulah yang paling mengusik: kita tidak lagi merasa aneh dengan jarak tersebut.

Detail-detail kecil pun berbicara. Penanda hari dalam seminggu yang muncul di beberapa karya, misalnya, terasa sederhana tapi sangat relatable. Karena hidup kita memang berjalan dalam pola yang berulang: hari kerja, akhir pekan, sibuk, lalu istirahat, dan begitu seterusnya. Rutinitas yang dulu terasa membosankan, kini justru terasa seperti kemewahan.

Salah satu karya Naufal Abshar dalam pameran Meanwhile. Sumber foto: yiriarts.com

Pendekatan Naufal di sini terasa seperti kolase kehidupan, kumpulan catatan tentang rutinitas, budaya konsumsi, hal-hal kecil yang sering kita anggap sepele. Tapi ketika semuanya disatukan dalam satu ruang, tiba-tiba terasa besar. Terasa penting. Ada semacam kehangatan yang muncul dari pengakuan bahwa hal-hal biasa itu juga berhak untuk dilihat dan dirayakan.

Dipilihnya Taipei sebagai lokasi pameran bukan tanpa alasan. YIRI ARTS dikenal sebagai ruang yang kerap mempertemukan praktik seni Asia Tenggara dengan audiens internasional yang lebih luas. Kegelisahan terhadap teknologi, kerinduan akan keteraturan, kelelahan dari budaya serba cepat, semua itu bukan hanya masalah orang Indonesia. Itu adalah kondisi manusia kontemporer di mana pun. Dan dalam Meanwhile, Naufal berhasil mengemas kondisi tersebut ke dalam bahasa visual yang tidak perlu diterjemahkan.

Pameran Meanwhile bukan pameran yang hanya dinikmati oleh mata. Ia mengundang kita untuk duduk sejenak dengan pikiran kita sendiri, melihat lagi hal-hal kecil yang sering terlewat, merasakan ritme hidup yang lebih manusiawi. Di tengah dunia yang terus bergerak cepat dan tanpa henti, Naufal menawarkan sesuatu yang langka: sebuah jeda.

Dan mungkin, itulah yang paling kita butuhkan hari ini. Bukan lebih banyak konten, bukan lebih banyak notifikasi, tapi satu momen untuk sekadar untuk berhenti, melihat, dan benar-benar merasa.

SHARE :
WhatsApp
Facebook
Twitter
Email
Artikel Lainnya