Cara kita menikmati karya seni sering kali ditentukan oleh ruang tempat karya itu berada. Sebuah patung dapat menghadirkan kesan yang berbeda ketika ditempatkan di galeri yang sunyi, ruang publik yang terbuka, atau di dalam rumah. Berangkat dari gagasan itulah Alaya Kala hadir. Melalui kolaborasi lintas disiplin, pameran ini mempertemukan seni pahat, desain interior, dan warisan budaya dalam sebuah pengalaman yang menyatu.
Memasuki area pameran, yang tersaji bukan sekadar deretan patung di atas pedestal. Setiap elemen dirancang untuk saling terhubung. Patung, furnitur, tanaman, permainan cahaya, hingga detail arsitektural hadir membangun narasi yang sama, menghadirkan suasana yang mengajak pengunjung berinteraksi dengan seni secara lebih dekat. Alih-alih hanya menjadi penonton, mereka diajak merasakan bagaimana setiap unsur saling melengkapi dalam membentuk pengalaman yang utuh.

Pameran yang berlangsung di Melting Pot GF, Ashta District 8, pada 3 hingga 26 Juli 2026 ini mempertemukan karya pematung Adi Gunawan bersama SANKHARA Art, Quatro Design Studio, Theory of Living, dan POLA Studio. Masing-masing datang dari disiplin yang berbeda, namun dipertemukan oleh satu gagasan yang sama yaitu menghadirkan ruang yang mampu menyimpan cerita.
Dalam bahasa Sansekerta, Alaya berarti tempat bernaung, sementara kala berarti waktu. Ketika keduanya disatukan, Alaya Kala menjadi metafora tentang sebuah ruang yang menampung perjalanan, jejak, dan ingatan. Sebuah rumah bagi memori yang terus bertambah seiring waktu.
Makna itu terasa dekat dengan perjalanan artistik Adi Gunawan. Lahir dan besar di Yogyakarta, karya-karyanya selama ini banyak berangkat dari pengalaman personal, hubungan antarmanusia, serta nilai-nilai budaya yang membentuk cara seseorang memandang dunia. Namun dalam Alaya Kala, akar budaya tersebut tidak diterjemahkan melalui simbol-simbol yang gamblang. Sebaliknya, ia hadir secara lebih halus melalui pengalaman ruang.

Rumah Joglo menjadi salah satu inspirasi utama. Bukan karena bentuknya hendak direplikasi, melainkan karena nilai-nilai yang dikandungnya. Dalam tradisi Jawa, rumah bukan sekadar bangunan, tetapi tempat berkumpul, berbagi cerita, dan membangun hubungan. Ia menjadi ruang yang menyimpan ingatan lintas generasi. Inilah yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa desain yang lebih kontemporer.
Proses menerjemahkan gagasan tersebut dipercayakan kepada Quatro Design Studio. Alih-alih membangun ruang pamer yang menyerupai rumah Joglo, mereka memilih mengolah esensinya. Kehangatan, keterbukaan, dan rasa kebersamaan diwujudkan melalui interpretasi elemen-elemen seperti empat soko guru, anyaman tradisional, ritme ruang, hingga permainan cahaya yang membimbing langkah pengunjung dari satu karya menuju karya berikutnya. Hasilnya bukan sebuah replika masa lalu, melainkan ruang baru yang tetap menyimpan jejak asal-usulnya.
Di balik keseluruhan pengalaman ini, SANKHARA Art berperan sebagai penghubung antara karya, seniman, dan ruang. Bagi mereka, perjalanan sebuah karya seni tidak berhenti ketika meninggalkan studio. Justru di situlah kisahnya dimulai. Sebuah karya akan terus menemukan makna baru setiap kali bertemu ruang yang berbeda, cahaya yang berubah, maupun orang-orang yang datang membawa pengalaman hidupnya masing-masing. Filosofi tersebut terangkum dalam semangat Crafting Art, Curating Spaces yang menjadi fondasi Alaya Kala.

Narasi ruang kemudian diperkaya oleh kehadiran Theory of Living. Furnitur yang dihadirkan tidak diposisikan sebagai pelengkap interior, melainkan sebagai bagian dari cerita. Seperti karya-karya Adi Gunawan yang mampu hadir dalam berbagai konteks tanpa kehilangan identitasnya, koleksi Theory of Living juga dirancang untuk hidup bersama ruang dan penghuninya. Pertemuan keduanya menghadirkan dialog yang terasa alami, seolah seni dan furnitur memang sejak awal ditakdirkan untuk berbagi tempat yang sama.
Sementara itu, POLA Studio menghadirkan dimensi lain yang tak kalah penting yaitu hubungan antara ruang dan alam. Sebagaimana rumah-rumah tradisional Jawa selalu memiliki kedekatan dengan tanaman di sekitarnya, elemen floral dan botanical yang dikurasi POLA Studio memperhalus batas antara interior dan alam. Kehadirannya memberi napas pada ruang sekaligus menghadirkan suasana yang terasa lebih hidup, tenang, dan akrab.

Alaya Kala bukan sekadar pameran yang memperlihatkan karya seni. Ia menawarkan cara untuk memahami bagaimana sebuah ruang dapat membentuk pengalaman, bagaimana desain mampu menerjemahkan memori, dan bagaimana seni dapat terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketika meninggalkan pameran ini, yang tersisa bukan hanya ingatan tentang patung-patung karya Adi Gunawan, melainkan juga pengalaman pernah berada di dalam sebuah ruang yang bercerita.