ICAD 2021: PUBLIK yang Mengundang Banyak Massa

Aurelia

Setelah berbulan-bulan membatasi mobilitas, saatnya mengunjungi ICAD 2021. Selama sembilan tahun berturut-turut datang ke pameran seni dan desain Indonesia Contemporary Art and Design (ICAD) di Grand Kemang Hotel Jakarta, baru tahun ini saya kesulitan melihat karya-karya seni lantaran ruang pamer penuh kerumunan.

Sebagian besar pengunjung yang nampaknya belum lama menginjak usia dewasa, mengerubungi dinding bertuliskan “Catatan 2020 Kamu”. Mereka berdiri berhimpit sambil menunggu giliran untuk bisa menempelkan post it bertuliskan ‘curhatan’ mereka ke dinding ruang.

pameran icad 2021
Komikazer – Catatan 2020

Sebagian lain mengantre berswafoto di salah satu karya yang dibangun dari gugusan ponsel dan tablet, milik Taba Sanchabakhtiar, yang berjudul Hello Goodbye. Karya ini juga jadi salah satu artwork paling banyak terlihat kalau kamu membuka kolom tag photos di Instagram ICAD.

karya pameran icad 2021
Taba Sanchabakhtiar – Hello Goodbye

Dua karya populer di atas bisa saja bikin pengunjung tidak menyadari bahwa di ruangan yang sama dipajang pula gambar-gambar karya Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat yang juga adalah seorang arsitek berprestasi. Lukisan bergaya kubisme tersebut diberi judul Neo Public Face.

icad 2021
Ridwan Kamil – Neo Public Face

Dalam keterangan karya, Ridwan menyatakan bahwa gambar-gambar itu adalah hasil interpretasi atas perubahan cara berpenampilan manusia pada masa pandemi. Ridwan merasa semua orang diseragamkan oleh masker wajah. Siapa yang sangka kalau konsep keseragaman itu dituangkan lewat gaya lukis Pablo Picasso. 

Mungkin juga orang tak sadar dengan karya Hestu Setu Legi, pendiri kolektif Taring Padi, yang tersebar di berbagai sudut ruang pamer. Ada yang berbentuk kepala manusia yang tergantung di bawah roda.

Ada juga karya Loro Blonyo yang berwujud dua kepala terbuat dari tanah liat yang diletakkan di lantai ruang pamer.

icad 2021
Hestu Setu Legi – Loro Blonyo

Bila berkarya atas nama Taring Padi, Hestu membuat gambar dan kata-kata yang jelas mengritik program pemerintah yang tidak ramah pada warga kelas bawah. Di ICAD, kritk-kritik itu terasa lebih sublim lantaran tertuang dalam rupa yang di luar kebiasaan. 

ICAD 2021 kali ini bertema PUBLIK. Seperti pameran-pameran sebelumnya, tetap ada kesan bahwa ICAD senantiasa berusaha mengajak insan kreatif dari berbagai bidang seni dan desain untuk terlibat dalam pameran. 

Di tengah karya-karya perupa, terpampang informasi perjalanan karier Adrianto Sinaga, perancang produksi sejumlah film Indonesia seperti Wiro Sableng, Pintu Terlarang, Bangsal 13, 30 Hari Mencari Cinta.

Pada sesi itu pengunjung juga bisa melihat gambar-gambar sketsa Adrianto saat merancang tata letak ruang dalam film. 

Kurator pameran juga ingin pengunjung tahu soal keberadaan dan aktivitas kolektif seni yang ada di Indonesia semisal Gubuak Kopi, komunitas asal Solok, Sumatera Barat. Informasi soal aktivitas dari kolektif seni ini dituangkan lewat instalasi botol-botol berisi sampel tanah dan sampah yang sedang berproses menjadi kompos.

Aktivitas membuat kompos adalah hasil kerjasama Gubuak Kopi dengan sejumlah warga Kelurahan Kampung Jawa dan Pesantren Darut Thalib. 

Tahun ini, ICAD 2021 melibatkan 40an orang seniman dan desainer. Salah satu karya desain yang nampak menonjol adalah The Invisible:Free Space yang didesain oleh Dea Widya. Sebelum tampil di ICAD, karya tersebut dipamerkan pada London Design Biennale 2021. 

icad 2021
Dea Widya – The Invisible:Free Space

Selain bisa melihat karya seni dan desain, dalam ICAD 2021 juga terdapat program Sinema Publik, dan talkshow. Ekshibisi tahun ini juga merupakan bagian dari Kemang 12730, sebuah inisiatif dari para insan kreatif yang berkarya di kawasan Kemang, Jakarta Selatan untuk mengadakan pameran atau agenda seni di galeri mereka.

Beberapa galeri yang terlibat dalam Kemang 12730 di antaranya Dia.lo.gue, 2Madison, dan Forme. ICAD 2021 masih bisa kamu kunjungi hingga 28 November 2021. Jadi, tunggu apa lagi?

SHARE :
WhatsApp
Facebook
Twitter
Email
Artikel Lainnya