Balagi Rattan di JIA Curated 2025: Tradisi yang Berlanjut, Regenerasi yang Tumbuh

Priyanka Setiawan

Seni dan desain selalu menemukan cara untuk bercerita. Di JIA Curated 2025, salah satu kisah yang paling hangat adalah hadirnya Balagi Rattan, label furnitur berbasis rotan yang berdiri sejak 1992. Dengan filosofi sustaining people, sustaining craft, sustaining nature, Balagi menegaskan komitmennya untuk menghadirkan desain modern yang tetap berakar pada tradisi, sekaligus meneruskan tradisi dan kerajinan Indonesia. 

Perpaduan Tradisi dan Desain Kontemporer

Partisipasi Balagi di JIA Curated bukan sekadar menampilkan produk. Lebih dari sekadar pameran, ini membuktikan bahwa desain Indonesia karya Indonesia bisa bersaing secara internasional sekaligus menjadi ruang regenerasi bagi generasi muda desainer dan pengrajin. Di tengah festival yang merayakan inovasi, kehadiran Balagi menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas.

Sejak awal berdiri, Balagi selalu menjadikan pengrajin sebagai inti proses kreatif. Teknik anyaman yang diwariskan turun-temurun dijaga ketat, namun dipadukan dengan desain modern agar tetap relevan dengan pasar global. Hasilnya adalah karya yang tidak hanya fungsional, tetapi juga mengandung narasi budaya yang hidup.

Generasi Baru dalam Desain: Pistache Chair

Sorotan utama dalam pameran tahun ini adalah Pistache Chair karya Jessica Sendjaja, mahasiswi ITB. Kursi ini terinspirasi dari bentuk organik biji pistachio, menghadirkan siluet lembut dan ergonomis yang sekaligus menyiratkan semangat regenerasi. Teruntu, Balagi, keberanian melibatkan talenta muda dalam JIA adalah langkah penting untuk memastikan karya tangan Indonesia terus relevan dan dihargai lintas generasi.

Pistache Chair by Balagi x Jessica Sendjaja

Sustainability Versi Balagi: Bukan Sekedar Material

Lebih jauh, Balagi ingin mengingatkan khalayak luas  bahwa sustainability sejati bukan hanya soal material. Meski seluruh rotan yang digunakan berasal dari panen yang dikelola dengan baik dan menjaga alam, fokus utama tetap pada kesejahteraan pengrajin. Furnitur terbaik lahir dari lingkungan kerja yang adil, sehat, dan manusiawi. Inilah yang membuat setiap karya Balagi memiliki sentuhan para pengrajin yang menaruh hati dan keterampilan mereka di dalamnya.

Mengapa JIA Curated?

Dalam JIA Curated 2025, Balagi juga membawa konsep booth yang unik, sebuah swing ride terinspirasi dari taman hiburan. Desain booth yang playful, hangat, dan harmonis ini menjadi representasi cara Balagi menghapus stigma bahwa sebuah karya itu kaku atau usang. Sebaliknya, bisa hadir dalam suasana menyenangkan, mengundang interaksi, dan dekat dengan publik.

Display booth Balagi di JIA Curated 2025


Bagi Balagi, JIA Curated bukan sekadar pameran, melainkan ruang penting untuk menunjukkan arah baru desain Indonesia. JIA dipilih karena menampilkan karya dengan kurasi ketat, mempertemukan desainer mapan dengan generasi baru, serta membuka percakapan tentang posisi Indonesia di kancah global. Kehadiran Balagi di JIA menjadi strategi untuk menunjukkan bahwa furnitur berbasis rotan mampu berdiri sejajar dengan desain kontemporer lainnya, sekaligus memperkuat peran Indonesia sebagai pusat kreativitas di Asia.

Kehadiran Balagi di JIA Curated diharapkan dapat membuka perspektif baru bahwa furnitur bukan sekadar objek, melainkan representasi nilai, manusia, dan tradisi. Setiap kursi, meja, atau karya rotan adalah hasil keterampilan luar biasa yang lahir dari Indonesia. Seperti yang ditegaskan tim Balagi, “Kami ingin audiens pulang dengan satu hal yang melekat di ingatan: Setiap karya Balagi menyimpan jejak para pengrajin Indonesia dan tradisi anyaman yang tumbuh bersama mereka.”

SHARE :
WhatsApp
Facebook
Twitter
Email
Artikel Lainnya