Dari kanvas tanpa cat hingga kritik terhadap budaya Bali, Valasara membagikan perjalanan dan perspektifnya sebagai seniman.

Made Wiguna Valasara, atau yang akrab disapa Valasara, merupakan seniman asal Bali yang telah mengembangkan praktiknya melalui eksplorasi material, tekstur, dan bentuk. Setelah menempuh pendidikan seni di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, ia menjalani perjalanan berkesenian di Jawa selama kurang lebih 12 tahun sebelum kembali ke Bali pada 2013.

Dalam karyanya, Valasara dikenal dengan pendekatan terhadap kanvas yang tidak konvensional. Alih-alih mengandalkan sapuan cat dan warna, ia mengeksplorasi permukaan, jahitan, volume, dan cahaya untuk membangun bentuk.

Praktiknya memperlihatkan bagaimana sebuah medium yang sederhana dapat membuka kemungkinan visual yang beragam. Written berbincang dengan Valasara mengenai perjalanan berkaryanya, eksplorasi medium, serta pengalamannya sebagai seniman yang tumbuh dan berkarya di Bali.

Carrousel, 2015, 300 x 800 cm, Cut out canvas. Dok. Valasara.

Bahasa Putih dan Perspektif

Written: Seni rupa Indonesia sekarang terkenal sangat ramai, penuh warna. Sementara itu karyanya Bli Vala malah polos? Apa yang mendasarinya?

Valasara (V): Masalah putih ataupun polos kanvas itu sebenarnya cara saya menggunakan kanvas sebagai bahasa. Artinya saya tidak mau melebih-lebihkan karya saya dengan warna. Saya malah memanfaatkan cahaya.

Cahaya itu sebagai yang menghasilkan bentuk. Saat tekstur bertemu cahaya itu akan menimbulkan sesuatu yang lebih daripada bentuk yang saya inginkan. Mirip surrealis mungkin ya.

Memang saya tidak ingin menjadi pelukis yang menggunakan cat sebagai alat untuk memunculkan ilusi. Jadi saya ingin menghadirkan ilusi itu real dengan tekstur itu.

Written: Subject matter apa yang banyak diangkat?

V: Setelah 12 tahun tinggal di Jawa, akhirnya saya pulang ke Bali. Saya berhadapan lingkungan Bali lagi. Itu sangat dominan mempengaruhi pikiran saya.

Jadi banyak yang muncul hal-hal yang berhubungan dengan tradisi Bali. Ketika awalnya saya lebih cenderung pada hal yang ada di luar, ketika saya pindah ke Bali, visual Bali itu ternyata sangat kuat memperngaruhi saya.

The monument, 2023, 30 x 17 cm, Polyester paint & car paint. Dok. Valasara.

Written: Bagaimana penyesuaiannya ketika kembali ke Bali? Ada pengaruh pada karya?

V: Mungkin perspektif ya. Saya mengangkat Bali itu bukan berarti saya mengulang masa lalu. Di titik ini saya mengangkat tema-tema Bali itu udah pada tahap mengkritisi. Apalagi saya sempat "jauh".

Perspektif Bali dari jauh itu kan pasti berbeda dengan perspektif dari dalam. Jadi, pada karya saya setelah kembali itu lebih pada mengkritisi tentang budaya saya sendiri ataupun ritual-ritual yang saya jalani juga. Muncul pertanyaan, ini apa sih sebenarnya? Ini ada pengaruh dari mana sih? Ini budaya ini lahirnya dari mana? Seperti saya belajar lagi tentang budaya saya sendiri.

Written: Kembali ke karya Bli Vala yang cenderung kosong, pernah ada interprestasi orang yang mengagetkan dari karya Bli?

V: Bahasa putih, saya menyebutnya begitu. Ini saya gunakan sejak saya residensi di Selasar Sunaryo. Sejak saat itu saya menemukan banyak persepsi orang tentang bahasa putih. Ada yang mengatakan karya saya itu mengerikan. Di situ saya sadar putih itu ternyata belum selalu diartikan baik, indah, atau kosong.

Putih itu bisa juga sesuatu yang sangat menakutkan untuk orang tertentu. Jadi tidak bisa digeneralisir, ternyata sangat berbeda di masing-masing orang.

Proses yang Tidak Terburu-buru

Written: Berapa waktu yang dihabiskan untuk membuat satu karya?

V: Secara prosesnya memang sebagian besar lama ya. Karena secara teknis kan itu sangat rumit. Paling lama satu karya makan waktu 7 bulan. Saya sendiri bukan orang yang suka mengerjakan sesuatu secara cepat. Saya senang menikmati prosesnya. Bahkan saya tidak merasa ini melelahkan.

Written: Karena prosesnya panjang, apakah pernah merasa jenuh ketika mengerjakan satu karya?

V: Pasti, karena pikiran tidak bisa dikontrol. Kayak letupan-letupan gagasan seniman kadang bisa terjadi. Makanya saya mengerjakan karya itu nggak selalu satu karya dalam sekian bulan. Tapi saya ada beberapa ide yang saya kerjakan secara bersamaan. Biasanya sebagai pengalihan saya mengerjakan karya yang berukuran kecil.

Konstruksi Semesta, 2017, 200 x 250 cm, Handstitched and stuffed canvas. Dok. Valasara.

Written: Ada artisan yang membantu Bli menyelesaikan karya, bagaimana agar pesan yang Bli mau tetap sampai walaupun dikerjakan di tangan artisan?

V: Memang berhubungan dengan artisan itu tidak mudah. Butuh waktu dan butuh tenaga yang sangat ekstra sebenarnya. Karena kita harus mengajari orang untuk memahami kita juga.

Kebetulan artisan saya itu saya kerjasamanya udah dari awal. Jadi dia bukan hanya pekerja tapi juga teman untuk sharing baik teknis maupun ide. Bahkan dia sudah jadi alter ego-nya saya. Dia mungkin 90% sudah paham dengan apa yang saya pikirkan, apa yang saya mau.

Written: Bagaimana dengan perawatan karya? Ada saran buat kolektor untuk merawat karya Bli yang dikoleksi?

V: Untuk kolektor biasanya saya menjelaskan bagaimana karya ini, maknanya, dan cara penyajian supaya awet. Biasanya saya menyarankan dengan frame kaca. Tapi sebagai seniman saya biarkan apa adanya. Kalaupun dimakan oleh waktu atau usang, ya biarkan saja karena ini alami.

Bali, Tradisi, dan Autokritik

Written: Karya Bli sering mempertanyakan Bali, ada contohnya tradisi yang kemudian ditranslasikan jadi karya?

V: Jadi saya banyak menggali lagi dari mana datangnya budaya atau ritual yang kami jalankan. Misalnya Ngaben salah satu ritual besar di Bali. Ngaben ini ada tingkatannya, nah aturan-aturan ini saya pertanyakan. Asalnya dari mana, ternyata ada kaitannya dengan kolonialisme.

Ini mungkin hal-hal yang jarang ditanyakan oleh orang Bali. Padahal ini sangat mengganjal bagi saya. Makanya yang bisa saya lakukan ya dengan karya. Saya cuma mengeluarkan segala isi pikiran saya tentang budaya saya sendiri.

Interpreting Carravagio #1, 2015, 300 x 200 cm, Stuffed canvas. Dok. Valasara.

Written: Apakah ada saran untuk seniman Bali yang masih muda dan sedang menempuh pendidikan? Apakah harus memasukan bahasa visual Bali dalam karya?

V: Saya merasa tidak perlu, karena rasanya itu bisa jadi malah menjebak. Biasanya saya sarankan pada teman-teman jangan menggunakan bahasa visual yang sama. Sebagai seniman gunakan bahasa yang kita sukai. Dan hal ini bisa dikembangkan tanpa harus keluar dari Bali dulu. Kita bisa tetap ekspresif dengan bahasa visual lain, meskipun tinggal di Bali.

Written: Karena Bli suka merawat tanaman di kala senggang, kira-kira tanaman apa yang paling cocok menggambarkan seorang Valasara?

V: Kamboja. Karena saya suka dengan bunga kamboja. Ia sederhana, proses tumbuhnya juga lama. Penampilannya tenang dan putih. Di rumah saya pun semua tanaman kamboja.