Dalam percakapan bersama Written, Dodit Artawan membicarakan perjalanan sebagai seniman, perubahan praktik, posisi seni dalam industri, dan bagaimana kehidupan Bali hari ini terus hadir dalam karyanya.
Dodit Artawan adalah seniman yang lahir dan besar di Bali, dengan praktik yang telah berkembang selama lebih dari dua dekade. Perjalanannya sebagai seniman juga membawanya melewati berbagai fase dan melewati perubahan zaman.
Dalam percakapan bersama Written, Dodit berbicara dengan cukup terbuka mengenai perjalanan tersebut: tentang bagaimana seorang seniman menghadapi perubahan dalam praktiknya, bernegosiasi dengan ekosistem seni yang terus berkembang, hingga melihat Bali bukan sekadar sebagai latar tempat tinggal, tetapi sebagai ruang yang ikut membentuk cara ia membaca dunia di sekitarnya.
Simak percakapan Written dengan Dodit Artawan...
Meninggalkan Fotorealisme, Menemukan Garis dan Titik
Written: Setelah sekitar 15 tahun berkarya dengan fotorealisme, apa yang membuat Bli memutuskan untuk berubah?
Dodit Artawan (DA): Sudah dari tahun 2015 jadi eksperimen dari karya fotorealis. Terus akhirnya nemu ini di tahun 2018. Dari sekian eksperimental dari karya fotorealis. Jadi dari karya fotorealis saya masukin warna flat, masukin kartun, masukin brushstroke, cipratan, lelehan, spray, garis.
Pas dari proses eksperimen saya mencoba banyak hal, mulai dari memotong karya, menempel, memindahkan objek, membuat coretan, pokoknya segala macam saya coba. Dari situ terpikir bagaimana jika menggunakan satu material utama, mulailah mencoba dengan marker. Karena menggunakan marker, maka karakter material akan paling menonjol dengan menggunakan garis sama titik.

Written: Apa yang terjadi pada 2015 sampai akhirnya merasa harus meninggalkan wilayah fotorealisme?
DA: Sudah di titik jenuh. Merasa sudah stuck, makanya harus move on.
Walaupun cukup berat ya. Karena itu saya udah punya self-branding yang kuat, udah dikenal publik di skena seni, dan udah punya base kolektor juga. Jadi ada konsekuensi dari perubahan yang saya lakukan. Sehingga butuh waktu untuk kembali mempromosikan karya saya.
Mulai ikut event, banyak penolakan. Banyak sekali penolakan. Semua galeri-galeri yang diajak kerja sama rata-rata nggak mau. Kolektor nggak mau. Iya kan berubah. Saya tahu itu konsekuensi. Jadi butuh waktu.
Written: Teknik garis dan titik ini secara fisik cukup menguras tenaga. Bagaimana Bli Dodit sendiri menikmati proses tersebut?
DA: Sebenarnya lebih joyful sih. Karena jenuh di karya fotorealis yang dulu itu butuh waktu yang jauh lebih lama. Dan banyak layer karya fotorealis. Jadi sekarang pakai material baru lebih happy, lebih menikmati sih sebenarnya.
Tapi tetap aja yang misalnya secara teknis, tarik garis, titik kayak gitu, tetap membuat pegal, baik di mata, tangan, bahu, dan leher. Tapi saya juga melihat ada impact untuk audiens. Mereka seakan ikut tahan napas kalau mengamati garis panjang.
Itulah alasan kenapa saya kadang membuat reels buat di Instagram, sengaja cari yang pas proses yang tarik garis panjang, jadi pelan-pelan orang ngelihatin. Itu impact psikologis. So, you can feel the muscle behind it.

Kemurnian Seni dan Tuntutan Industri.
Written: Di era seniman seperti sekarang, seberapa sulit untuk menjadi seniman saja tanpa harus sekaligus menjadi marketing?
DA: Sebenarnya itu permasalahan yang umum pada kebanyakan seniman juga ya. Lemah di urusan manajerial, di promosi, marketing, dan segala macam urusan jualan lainnya. Rata-rata sih kayak gitu.
Cuman di era sekarang ya dituntut untuk belajar hal itu, kecuali memang kerja sama sama galeri atau art management. Apabila seniman tidak terbiasa ya memang akan berasa kewalahan, seperti saya yang memang kadang membuat konten itu sangat berasa.
Makanya pentingnya mencari relasi, berjejaring dengan ekosistem seni. Karena ga mungkin seniman melakukan semuanya sendirian.
Written: Bli sering mengkritik konsumerisme dan gaya hidup kapitalis, sementara industri seni sangat dekat dengan kemewahan dan kolektor. Apakah pernah ada konflik batin di antara keduanya?
DA: Saya pribadi nggak pernah ada konflik batin. Kalau bagi saya, tema-tema konsumerisme itu sedang mengkritisi dan merayakan. Merayakan sebagai seorang individu yang menjadi bagian dari budaya global tersebut.
Jadi ada semacam self-critic juga. Saya akui saya juga konsumtif dan sulit untuk menghindarinya.
Selain itu, saya bekerja di seni rupa kontemporer, di mana market itu penting sekali. Jadi pastinya market itu bagian yang menghidupkan ekosistem. Jadi realistis saja, saya tidak pernah anti.
Written: Salah satu pameran yang melibat Bli baru dibuka, bisakah bercerita sedikit?
DA: Jadi pameran itu terselenggara di NADI Gallery bekerja sama dengan LANO Contemporary Art Gallery. Judulnya POST-TRADISI I: AMBANG BERLAPIS dan akan hadir di empat kota: Jakarta, terus lanjut ke Bandung, Jogja, terus terakhir di Bali.
Dalam pameran itu bersama dengan seniman dari daerah-daerah lain ya kita menggali tema post-tradisi itu. Kalau melihat karya atau seniman Bali mungkin ekspektasinya ya mengangkat mitologi atau ke-adiluhungan budaya Bali. Tapi saya lebih menonjolkan esensi sebagai seniman asli Bali yakni memiliki karakter kuat, keterampilan tinggi, ketelatenan, dan ketekunan.

Soal Mengarsipkan Bali Masa Kini
Written: Seberapa besar keadaan Bali sekarang memengaruhi Bli saat melukis dan berkarya?
DA: Sangat memengaruhi sih sebenarnya. Jadi secara tematik, konsep dari karya-karya semua, pilihan subject matter itu ya mencerminkan fenomena sekarang, kehidupan sehari-hari sekarang menurut saya.
Jadi nanti ke depannya orang melihat karya-karya saya ya mewakili spirit zamannya. Jadi semua karya-karya saya yang saya bikin sekarang ini ya, itu semua tentang waktu, tentang masa pada waktu dia dibuat. Jadi dia itu merepresentasikan fenomena dan spirit zaman pada saya masa hidup.
Written: Mengapa benda-benda sehari-hari menjadi subject matter yang penting dalam karya Bli?
DA: Saya milih daily life objects, domestic stuff kayak gitu itu untuk mengekspresikan dan mengkomunikasikan isu-isu sosial juga, isu sosial, isu lingkungan, ya cultural, isu di seputaran saya, di seputaran tempat tinggal saya.
Jadi bisa dipakai itu benda-benda sehari-hari. Jadi kita bakalan lihat itu benda-benda itu berada di mana-mana, dibuang di selokan, ya sama itu.
Nanti di masa depan, karya ini akan jadi semacam artefak. Sebuah penanda zaman, ketika orang melihatnya 100 tahun lagi, jadi tahu apa saja yang digunakan manusia pada era kehidupan saya.
Written: Jika Bli adalah sebuah warna, maka warna apakah Dodit Artawan itu?
DA: Kalau saya pilih kuning, karena sangat menarik perhatian, terang, terus ini bisa juga sebagai warning, peringatan. Dia itu sangat mencuri perhatian, terang. Warna kuning ya, jadi kayak eye catching, terang, mencuri perhatian, sangat menarik.