Peter Brannan, Managing Director Arquitectonica, membahas Transit-Oriented Development dalam perancangan kota yang berpusat pada manusia.

Kota metropolis modern berkembang dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, membawa perubahan populasi dalam skala besar yang menuntut kita untuk mengevaluasi kembali bagaimana kota-kota kita dirancang. Berdiri di garis depan transformasi global ini adalah Arquitectonica, pemimpin desain global dengan lima dekade pengalaman praktik internasional tingkat tinggi, yang di kawasan Asia dan Timur Tengah dipimpin oleh Peter Brannan.

Brannan baru-baru ini menandai sebuah tonggak penting dengan kembali ke Arquitectonica—firma arsitektur global tempat ia sebelumnya menghabiskan 18 tahun—untuk mengambil peran penting sebagai Managing Director untuk kawasan Asia Pasifik dan Timur Tengah.

Sebelumnya, ia memimpin praktik Asia Pasifik di Skidmore, Owings & Merrill (SOM). Kembalinya Brannan didorong oleh visi untuk menata ulang dan memperluas jejak firma, dengan memanfaatkan pertumbuhan ekonomi dan populasi yang luar biasa di kawasan ASEAN.

Berbasis di Hong Kong, filosofi desain Brannan menjembatani tipologi perkotaan yang beragam, mulai dari pembangunan dengan investasi besar di kawasan Teluk hingga struktur kota yang padat di megakota Asia Tenggara. Ia percaya pada pentingnya sistem transportasi publik dan Transit-Oriented Development (TOD), sebuah prinsip perencanaan kota yang telah terbukti di negara-negara kota Asia dan turut dibawa Arquitectonica ke pasar-pasar Barat.

Dengan pendekatan humanis, Brannan secara konsisten menantang pengembang dan pemerintah untuk mengesampingkan gimmick arsitektur yang hanya bersifat permukaan dan menangani persoalan infrastruktur mendasar yang menentukan kualitas hidup manusia.

Baca percakapan kami dengan Peter Brannan berikut.

Kembali ke Arquitectonica & Menjembatani Timur Tengah dan Asia

Written: Setelah masa Anda di SOM, Anda memilih untuk kembali ke Arquitectonica, tempat Anda telah mendedikasikan 18 tahun karier. Apa yang membuat Anda kembali ke firma ini pada tahap karier Anda sekarang?

Peter Brannan (PB): Arquitectonica adalah teman-teman baik saya dan saya memiliki sejarah panjang dengan mereka. Mereka meminta saya untuk bergabung kembali dan membantu menata ulang serta mengembangkan bisnisnya. Kami adalah firma global—dan memang selalu demikian—yang bekerja di 63 negara melalui 13 kantor, termasuk Miami, New York, Los Angeles, Paris, Dubai, Hong Kong, Shanghai, dan Manila.

Saat ini ada begitu banyak potensi bisnis di Asia dan Timur Tengah. Ketika melihat pertumbuhan ekonomi, perubahan populasi, dan momentum kawasan ASEAN, peluangnya sangat besar. Tantangan tersebut terbukti menarik bagi saya.

Adaro Energy Tower, Jakarta, Indonesia. Courtesy Arquitectonica.

Written: Tanggung jawab Anda saat ini mencakup Timur Tengah dan Asia Pasifik. Bagaimana Anda mendekati perancangan proyek berskala sangat besar di tempat seperti Dubai atau Riyadh dibandingkan dengan pasar Asia yang padat?

PB: Kita banyak membaca di media tentang hal-hal yang disebut “hyper-futuristic”. Di lapangan, pasar-pasar ini sangat berbeda, dengan politik, ekonomi, dan budaya yang juga berbeda.

Dubai dirancang untuk pembeli internasional dan untuk menarik kekayaan global ke kota bebas pajak, sehingga 95% populasinya adalah warga asing. Riyadh berbeda, dengan mungkin hanya 5% warga asing. Di sana, Anda merancang hunian untuk masyarakat lokal dan keluarga dengan pekerjaan biasa.

Merancang bangunan residensial di Riyadh sangat berbeda dengan merancangnya di Dubai, dan kembali berbeda dengan merancang di Hong Kong atau New York.

Written: Bagaimana Anda berhasil melakukan pertukaran filosofi desain di antara berbagai kawasan yang beragam ini?

PB: Anda melakukannya melalui pengetahuan dan pengalaman mengenai budaya yang telah cukup beruntung untuk Anda kenal dan terlibat di dalamnya. Secara historis di Arquitectonica, kami membawa gagasan dari Barat ke Timur. Saat ini, kami membawa gagasan tentang kepadatan tinggi yang berkembang di Asia dan menerapkannya di Barat.

Proyek Brickell City Centre kami di Miami merupakan model kepadatan tinggi ala Asia—mengintegrasikan ruang kantor, hotel, hunian, dan retail secara seamless. Membawa apa yang telah Anda pelajari selama tinggal di Hong Kong atau bekerja di tempat seperti Shenzhen dan Shanghai, lalu mengadaptasi prinsip-prinsip tersebut ke Jakarta atau Manila, adalah hal yang membuat Anda tetap tajam.


SM Mall of Asia, Manila, Philippines. Courtesy Arquitectonica.

Benturan Realitas di Jakarta: Kepemilikan Lahan dan Infrastruktur Kota

Written: Ketika berhadapan dengan konsep yang sangat bergantung pada infrastruktur seperti TOD di Jakarta, apakah Anda bisa langsung menerapkan kisah sukses dari tempat seperti Hong Kong?

PB: Tidak secara langsung, karena jaringan transportasi publik Jakarta secara historis masih berada pada tahap awal. Ada perbedaan struktural yang kompleks yang perlu dipetakan.

Di Hong Kong atau Singapura, kepemilikan lahan secara historis merupakan crown land di bawah sistem kolonial Inggris. Kepemilikan yang terpusat ini memberikan kebebasan bagi pemerintah untuk menerapkan proyek-proyek infrastruktur yang memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat.

Di Bangkok atau Jakarta, lahan dimiliki secara privat. Ketika Anda meminta pengembang swasta untuk menyerahkan sebagian lahannya demi kepentingan bersama kota, reaksi awalnya sering kali negatif. Hal ini membatasi manfaat yang dapat diberikan infrastruktur dan sistem transportasi kepada kota.

Written: Bagaimana Anda menembus pola pikir tersebut dan meyakinkan para pemangku kepentingan untuk membangun ruang kota yang terintegrasi?

PB: Mengatasi resistensi tersebut adalah tantangan desain yang sebenarnya. Mengintegrasikan ruang kota meningkatkan nilai bangunan di sekitar ruang tersebut.

Beberapa tahun lalu, saya membawa tim dari MRT Jakarta (MRTJ) ke Hong Kong agar mereka dapat melihat langsung depot yang terintegrasi. Karena harga lahan di Hong Kong tinggi, Anda tidak akan membiarkan depot kereta terbuka begitu saja.

Kami menunjukkan kepada mereka bagaimana sebuah depot dapat berada di dalam dan terintegrasi dengan ruang retail, sekolah, rumah sakit, dan menara residensial. Pada awalnya, mereka bahkan tidak dapat melihat depot tersebut karena sepenuhnya terintegrasi ke dalam struktur komunitas. Hal ini cukup membuka wawasan bagi MRTJ.

Tempo Scan Tower, Jakarta, Indonesia. Courtesy Arquitectonica.

Written: Apa yang secara mendasar masih kurang dari percakapan mengenai perencanaan kota di megakota yang sedang berkembang saat ini?

PB: Tidak cukup banyak platform institusional, debat, dan forum publik untuk membahas pertanyaan-pertanyaan kompleks ini secara terbuka. Selain itu, perancangan kota yang berhasil membutuhkan konsensus sosial yang mendalam. Lihat Barcelona; apa yang mereka miliki saat ini merupakan hasil dari proses uji coba, kesalahan, dan perdebatan institusional terbuka yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Saat ini, perencanaan kota masih sebagian besar tidak terkoordinasi di antara departemen-departemen pemerintah kota yang belum cukup berkoordinasi dalam hal perencanaan transportasi. Dibutuhkan lebih banyak koordinasi antardepartemen—Transport for London adalah contoh yang baik.

Arsitektur Humanis: Transportasi, Kesehatan, dan Pesan untuk Arsitek Muda

Written: Industri arsitektur menyukai jargon seperti “zero-carbon” atau “sponge cities”. Bagaimana kita menghilangkan jargon tersebut untuk membangun kota yang berkelanjutan secara praktis?

PB: Kita perlu membatasi jargon. Kita berbicara kepada orang-orang biasa yang tinggal di kota-kota ini. Konsep seperti sponge cities sangat mungkin diterapkan di Jakarta.

Namun inti dari keberlanjutan perkotaan adalah jaringan transportasi publik yang terintegrasi. Kota-kota paling sukses di dunia memiliki kesamaan dalam hal ini: mereka memprioritaskan kemampuan dasar warga untuk berjalan kaki dan bersepeda dengan aman, serta bergerak di dalam kota menggunakan transportasi publik yang bersih, efisien, dan terjangkau.

Hall of the Sun, Shanghai, China. Courtesy Arquitectonica.

Written: Jika Anda bisa memilih satu realitas penting yang perlu dipahami masyarakat umum tentang masa depan pusat-pusat kota kita, apa yang akan Anda pilih?

PB: Transportasi publik. Ia secara langsung menentukan kesehatan kolektif. Urban Land Institute di Washington DC baru-baru ini melakukan studi mengenai kesehatan dan TOD, yang mencatat bahwa Hong Kong telah melampaui Jepang sebagai wilayah dengan harapan hidup terpanjang di dunia. Rahasianya bukan gaya hidup yang ajaib; melainkan aktivitas fisik dan sosial yang dilakukan secara rutin.

Warga lanjut usia di Hong Kong terus bergerak—berjalan menuruni tangga, naik bus, menggunakan kereta, dan menumpang feri untuk bertemu teman untuk yum cha atau bermain mahjong.

Bandingkan dengan gaya hidup yang berpusat pada mobil di Jakarta, ketika Anda duduk pasif dalam kemacetan selama dua jam setiap pagi dan sore. Pola pikir yang berpusat pada mobil ini buruk bagi kesehatan Anda.

Written: Apa artinya menjadi seorang arsitek di era ini, dan apa pesan utama Anda untuk generasi mahasiswa desain berikutnya?

PB: Bagi arsitek muda, Anda tidak mungkin berada dalam profesi yang lebih baik. Pasar akan naik dan turun, politisi akan datang dan pergi, tetapi kota akan terus berkembang.

Di tempat seperti Indonesia, Anda melihat salah satu aglomerasi perkotaan terbesar di dunia, yang menghadirkan peluang luar biasa untuk mengejar ketertinggalan dan membuat kota-kota besar menjadi lebih baik lagi.

Namun kita harus merancang untuk manusia, bukan untuk mobil, agar kota memiliki jiwa. Dan terakhir, tanamlah pohon, banyak pohon.