Mencari kebaruan tanpa buru-buru mencari identitas
RAD+ar Architects merupakan kolektif desainer yang berkumpul dengan satu gagasan: membuat dunia yang lebih baik, inklusif, dan terdesentralisasi melalui desain. Bagi RAD+ar, arsitektur tidak semestinya hanya dinikmati oleh kalangan tertentu, sekaligus tidak terikat pada satu langgam atau paham yang menganggap satu solusi dapat diterapkan di semua tempat. Setiap proyek perlu membaca konteksnya masing-masing dan menghasilkan identitas yang berbeda.
Penasaran dengan prinsip RAD+ar membuat Written berkunjung ke studio mereka dan duduk bersama Felda Zakri, Head of Studio RAD+ar dan Partogi Pandiangan, Senior Associate Director. Keduanya berbicara tentang konteks, eksperimen, relasi dengan klien, hingga alasan mereka memilih untuk tidak buru-buru mendefinisikan identitas RAD+ar.
Arsitektur yang Terdesentralisasi
Written: RAD+ar menyebut pendekatannya sebagai arsitektur yang berkelanjutan dan terdesentralisasi. Apa sebenarnya arti “terdesentralisasi” bagi RAD+ar?
Felda Zakri (FZ): Terdesentralisasi artinya kami mencoba melepaskan arsitektur dari langgam atau paham globalisasi dan modernisme yang percaya bahwa solusinya hanya satu dan bisa diaplikasikan di semua tempat.
Menurut kami, satu solusi tidak cocok untuk semua konteks. Arsitektur harus lebih spesifik terhadap lokasi tanahnya, lingkungannya, dan konteks di mana bangunan itu berada. Jadi, setiap karya seharusnya menghasilkan identitas yang berbeda.

Written: Berarti benang merahnya adalah pendekatan desain yang melihat konteks?
FZ: Betul. Kami tidak percaya bahwa arsitektur harus sama semua. Kami selalu melihat konteks di mana bangunan itu berada.
Partogi Pandiangan (PP): Setiap proyek juga punya tantangannya masing-masing karena semuanya merupakan bagian dari konteks proyek tersebut. Kami tidak melihat tantangan sebagai rintangan. Justru kreativitas terbaik bisa dihasilkan karena tantangannya spesifik.
Tantangan itu yang kami sebut sebagai konteks. Kalau sebuah bangunan tidak punya tantangan, berarti terlalu general. Itu kembali lagi ke modernisme: satu solusi bisa ditempatkan di semua konteks, dan kami tidak percaya pada hal tersebut. Jadi, tantangan di setiap proyek justru menjadi bagian yang menyenangkan dalam desain.
Written: Menurut RAD+ar sebenarnya seberapa krusial peran arsitektur dan interior untuk menyembuhkan lingkungan perkotaannya?
PP: Kalau dibilang arsitektur sebagai sesuatu yang menyembuhkan kota, itu mungkin terlalu ekstrem, karena kota sangat kompleks dan dibentuk oleh banyak bangunan dengan fungsi yang berbeda-beda.
Pertanyaan kami lebih kepada: seberapa bermanfaat bangunan itu terhadap lingkungannya? Kalau bangunan itu ada di suatu tempat, apakah dia bisa memberikan dampak yang baik bagi lingkungannya? Kalau tidak, mungkin pertanyaannya adalah: apakah proyek atau bangunan itu harus ada? Kenapa harus ada?
FZ: Kalau bangunan itu tidak bisa membuat tempat menjadi jauh lebih baik, mungkin bangunannya tidak harus ada. Mungkin arsitektur tidak harus bekerja di situ.

Eksperimen, Material, dan Klien
Written: Bagaimana proses kreatif berjalan di dalam studio RAD+ar?
PP: Proses kreatif di RAD+ar sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum klien terpilih. Kami sangat selektif terhadap klien dan proyek yang akan kami kerjakan.
Setelah itu, kami mencari opsi dan solusi yang benar-benar kontekstual terhadap proyek tersebut. Kemudian, melalui eksperimen-eksperimen, kami mendorong kebaruan. Mendorong kebaruan bukan berarti menciptakan sesuatu yang berbeda, tetapi juga mendorong diskursus dan proses dalam arsitektur Indonesia secara lebih luas.
Written: Apakah alurnya dari atas ke bawah, atau sebaliknya?
FZ: Kami tidak selalu bekerja secara top-down. Artinya, tidak selalu dari principal ke associate atau dari atasan.
Kami berpikir secara kolektif. Setiap orang boleh mengutarakan pendapatnya. Kalau kami merasa itu adalah solusi terbaik yang bisa didapatkan pada saat itu, mungkin itulah yang kemudian dikonsepkan dalam desain.
PP: Makanya kami selalu mendorong diskursus dan ide yang baru supaya studio juga terus memiliki kebaruan.

Written: Bagaimana RAD+ar menjaga eksperimen tetap berjalan ketika berhadapan dengan proyek komersial dan kebutuhan klien?
FZ: Menurut kami, idealisme dalam proyek komersial bukan zero-sum game. Selama komunikasinya baik dan karyanya baik, banyak hal yang bisa dinegosiasikan. Jadi bukan seperti adu panco, seolah salah satunya harus kalah dan salah satunya harus menang.
Tugas kami sebagai arsitek bukan hanya meyakinkan dan mengedukasi klien. Di satu sisi, kami juga harus memastikan bahwa bahkan dalam kemungkinan terburuk sekalipun, minimum sustainability tetap bisa dipertahankan.
Di beberapa proyek, eksperimen dan idealisme justru bisa memberikan performa yang lebih baik secara komersial. Jadi menurut kami, idealisme dalam proyek komersial tidak harus mengorbankan salah satunya.
PP: Sebagian besar klien RAD+ar juga sudah mengetahui bagaimana kami bekerja dan sudah mengharapkan sesuatu dari RAD+ar. Karena kami sangat selektif, kami hanya mengerjakan apa yang memang ingin kami kerjakan.
Sekarang fokusnya adalah bagaimana kami sebagai studio desain dan klien bisa mengejar ide secara bersama. Ketika sudah masuk proses desain, kami lebih mendorong kami dan klien untuk mencari dan mengembangkan ide baru secara kolektif.
Kami menganggap klien sebagai teman diskusi, bukan berdasarkan permintaan mereka atau berdasarkan ego kami.
Mencari, Menguji, lalu Mengkhianati Identitas Lama
Written: RAD+ar menghindari definisi seperti studio tropis, sustainable, atau eksperimental. Mengapa?
PP: Kalau identitas sangat gampang dijelaskan, kemungkinan juga gampang ditiru. Jadi kami sangat menghindari untuk didefinisikan sebagai studio yang tropis, eksperimental, atau sustainable.
FZ: Kami memang lebih tertarik pada hal yang belum pernah kami buat. Kami berusaha lepas dari stigma bahwa RAD+ar adalah tropis atau sustainable. Prinsip-prinsip seperti itu seharusnya sudah menjadi bagian dari karya arsitektur zaman sekarang.
Written: Atau mungkinkan ada perbedaan pendekatan dari karya RAD+ar terdahulu dengan yang sekarang?
FZ: Kami percaya kalau sesuatu yang kami mulai pada 2015 atau 2020 masih sama sampai sekarang, justru berarti kami tidak improve atau tidak menjadi lebih baik.
Studio bukan museum dari pemikiran seseorang atau beberapa orang. Justru menurut kami, studio harus mengkhianati versi lamanya agar bisa tumbuh jauh lebih baik.

Written: Lalu bagaimana dengan material? Apakah eksplorasi juga menjadi cara RAD+ar mencari sesuatu yang baru?
FZ: Eksplorasi material, termasuk kegagalan, justru merupakan hal yang seru. Sebelum memulai, biasanya kami juga meminta kontraktor untuk membuat mock-up dan melakukan studi bersama. Justru risetnya ada di situ.
Kami berusaha menggunakan material yang biasa, tetapi menghasilkan sesuatu yang mungkin belum pernah dibuat dari material tersebut.
Tapi kami berusaha memastikan jika memang mau memakai sebuah material maka memang karena dibutuhkan, bukan karena ego kami semata. Jadi harus tepat baik dari segi klien, bisnis, dan maintenance.
Written: Apakah ada pesan bagi arsitek muda yang masih mencari identitas atau DNA studionya?
FZ: Justru menurut saya, kenapa harus buru-buru menemukan DNA?
DNA bukan logo, bukan sesuatu yang harus ditemukan di umur 25 tahun atau setelah menyelesaikan tiga proyek. DNA adalah sesuatu yang harus kita coba berkali-kali, membuat kesalahan berkali-kali, dan mencoba melupakan sesuatu yang kita percayai di awal.
Kalau pada akhirnya hal tersebut muncul kembali, mungkin itu baru layak disebut sebagai identitas.
Written: Jika RAD+ar adalah sebuah film, maka film apakah itu?
PP: Agak kompleks ya jika hanya satu film, cuma kalau dipilih secara genre, mungkin filmnya film petualangan gitu, karena di RAD+ar rasanya kita lagi bersama-sama mengejar mimpi kolektif kita semua.