Melalui keterbukaan tanpa sekat dan peleburan batas ruang, DS House karya Gohte Architects membuktikan bahwa perluasan hunian mampu melahirkan ekosistem resort yang personal di tengah kehangatan keluarga
Memperluas sebuah hunian kerap kali menyisakan persimpangan dilematis bagi pemilik maupun perancang. Bagaimana cara menambahkan lahan baru tanpa membuat bangunan lama terasa asing atau terpisah? Pertanyaan mendasar inilah yang menjadi titik pijak Gohte Architects dalam merancang DS House, sebuah proyek ekstensi yang mengawinkan rumah existing dengan lahan baru yang sebelumnya berisi bangunan kosong yang dirobohkan.
Di balik struktur barunya, DS House menghadirkan transformasi ruang yang melampaui sekadar penambahan meter persegi. Ia membuktikan bahwa proses renovasi skala besar dapat berjalan harmonis ketika arsitektur dirancang mengalir mengikuti pola hidup dan hubungan antar-anggota keluarga.
Membaca Pola Hidup dan Menerjemahkan Esensi Resort
Proses perancangan DS House diawali dari brief yang cukup abstrak dari pemilik rumah: menghadirkan suasana khas resort serta menciptakan tata ruang yang saling berinteraksi tanpa adanya area tersembunyi (no hidden spot). Alih-alih meresponsnya secara harfiah lewat dekorasi permukaan, Gohte Architects memilih untuk menggali lebih dalam dengan mengamati kebiasaan dan lifestyle harian keluarga tersebut.
Dari pengamatan tersebut, dipahami bahwa kedekatan antara orang tua dan anak-anak menjadi jiwa utama dari rumah ini. Konsep no hidden spot kemudian diterjemahkan ke dalam tata letak yang transparan. Seluruh area kamar tidur dirancang menghadap langsung ke arah courtyard utama dan kolam renang.
Pendekatan arsitektural ini memungkinkan orang tua memantau aktivitas anak dari berbagai sudut, sembari mengalirkan pencahayaan alami, penghawaan udara seger, dan konektivitas visual di seluruh penjuru rumah.
Sementara itu, esensi resort diwujudkan melalui peleburan batas antara area interior dan ekstrim secara halus. Atmosfer yang rileks tidak hanya dihembuskan di area publik seperti ruang keluarga, tetapi meresap hingga ke dalam area privat kamar tidur.
Elemen vegetasi hijau, pepohonan, gemericik air, serta aliran udara terbuka dirangkai menjadi satu ekosistem yang menghidupkan suasana liburan setiap hari.
Menyamarkan Sekat: Efisiensi Struktur dan Transisi Visual
Salah satu tantangan teknis terbesar dalam memadukan rumah lama dengan lahan baru adalah menjembatani perbedaan level lantai serta memikul keterbatasan struktur yang sudah ada. Gohte Architects mengambil strategi efisiensi biaya dan intervensi minimal dengan menjadikan massa bangunan baru sebagai pelengkap (complement) bangunan lama, sehingga pembongkaran masif pada struktur lama dapat ditekan selaras mungkin.
Untuk menjaga alur sirkulasi yang teratur, fungsi ruang utama didistribusikan secara terencana. Fungsi seperti ruang keluarga tidak dibuat ganda agar tidak redundan, melainkan fokus menambah area kamar tidur di lahan baru. Pembongkaran pada rumah lama secara cermat hanya dilakukan pada dua dinding berstruktur utama yang menjadi jalur konektivitas antar-massa.
Pada setiap titik temu antara bangunan lama dan baru, dipasang elemen transisi berupa bingkai atau gapura agar pergerakan antar-ruang terasa alami dan menyatu. Secara visual, penyatuan ini disempurnakan dengan memperbarui material finishing pada bangunan lama agar selaras dengan palet material rumah baru, menciptakan tampilan fasad yang utuh tanpa terkesan berlebihan.
Adaptasi Lapangan dan Sinergi Kepercayaan
Mewujudkan DS House merupakan perjalanan panjang yang membentang selama empat tahun. Durasi konstruksi yang panjang ini dipenuhi oleh ide, kreativitas, dan inspirasi baru yang terus dibawa oleh klien, terutama setelah mereka pulang berlibur. Perubahan dan penyesuaian materi terjadi hampir setiap dua bulan sekali, menuntut adaptabilitas tinggi serta komitmen ekstra dari tim arsitek.
Kecepatan respons dan ketepatan teknis diuji dalam beberapa momen krusial di lapangan. Salah satunya terjadi hanya seminggu sebelum pengecoran, ketika klien menyadari preferensi skala fisik dan menginginkan penambahan kedalaman pada level kolam renang.
Di lain kesempatan, saat proses finishing sudah berjalan, muncul keputusan untuk menambahkan fungsi rooftop. Menghadapi masalah penambahan beban struktur ini, tim arsitek bekerja sama erat dengan konsultan struktur untuk merencanakan ulang kapasitas beban dan menerapkan konstruksi struktur ringan (light structure) secara aman tanpa merusak estetika desain.
Agar perubahan yang dinamis ini tidak melenceng dari gagasan awal, seluruh alur informasi dan pendataan revisi dipusatkan dalam satu pintu (single source of truth) yang dikelola bersama kontraktor utama. Kunci utama kelancaran proses ini berada pada tingkat kecocokan, rasa saling percaya, serta komunikasi yang terbuka antara klien dan arsitek. Kebebasan yang diberikan oleh pemilik rumah menjadikan setiap tantangan lapangan sebagai diskusi yang menyenangkan, hingga akhirnya melahirkan sebuah karya hunian yang sangat personal.
DS House pada akhirnya berdiri bukan sekadar sebagai proyek perluasan fisik, melainkan manifestasi dari kepingan mimpi dan perjalanan sebuah keluarga. Melalui kepekaan Gohte Architects dalam merangkai ruang lama dan baru, mendengarkan kebutuhan penghuni, serta menavigasi dinamika lapangan selama bertahun-tahun, rumah ini berhasil menjelma menjadi oase privat yang transparan, hangat, dan bernapas dalam keharmonisan resort yang timeless.
Keterangan proyek
Arsitek: Gothe Architects
Fotografi: Mario Wibowo Photography