J+ Art Awards 2026 x Meiro Gallery menghadirkan 13 seniman terpilih dari 400+ submisi di 43 negara melalui “MIRAGE”, tentang realitas dan persepsi.
Apa yang sebenarnya kita anggap sebagai realitas? Sesuatu yang kita lihat, kita ingat, kita rasakan, atau justru sesuatu yang terbentuk dari pengalaman dan cara kita memandang dunia?
J+ Art Awards 2026 menjawab pertanyaan ini melalui pameran bertemakan “MIRAGE”. Melalui karya-karya para seniman terpilih, realitas hadir dalam berbagai bentuk—mulai dari identitas, memori, tubuh, lingkungan, dan teknologi, hingga kondisi sosial dan kemanusiaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Masing-masing seniman membawa pengalaman dan perspektifnya sendiri, membuat satu realitas dapat terlihat sangat berbeda ketika dilihat dari sudut pandang yang lain.

Tahun ini, lebih dari 400 submisi dari 43 negara masuk dalam proses seleksi J+ Art Awards. Dari ratusan karya tersebut, 13 seniman terpilih kemudian membawa praktik dan interpretasi mereka ke Jakarta. Keberagaman ini tidak hanya terlihat dari latar belakang para senimannya, tetapi juga dari medium yang digunakan, mulai dari lukisan, instalasi, patung, keramik, hingga eksplorasi berbagai material.
Di antara karya yang ditampilkan, Adril Wak Yong hadir dengan Diary, sementara Bayu Putra Pratama membawa Gatra Imateri I. I Ketut Mahendra menghadirkan VOID, dan Indra Widiyanto menampilkan Sea to Summit #2. Sementara itu, The Lost Coquette Girl karya Jesca Delaren menghadirkan pembacaan tersendiri mengenai pengalaman dan representasi.

Persoalan identitas dan pengalaman personal terasa dalam Split Identity karya Maryo Pratama, sedangkan Mivetboi menghadirkan Retak Yang Tumbuh (Growing Cracks). Monika Emania Kristienda membawa Heartscavated, sementara Naura Gizzella mempersembahkan My Mother’s Daughter.
Dua karya Rahardi Handining, Between the Grips of Structure dan Stringing Oneself to Create Movement, mengeksplorasi hubungan antara struktur, tubuh, dan gerak. Sementara itu, Rania Ramdhani (RAN) menghadirkan Sincere, Rivan dengan Monsters With(in) Us, serta Theano Giannezi dengan Karema, Wale, Ruga, dan Maruga.

Jika dilihat secara keseluruhan, karya-karya tersebut memperlihatkan bahwa “MIRAGE” tidak hadir sebagai satu gagasan yang seragam. Bagi satu seniman, realitas dapat ditemukan dalam hubungan dengan diri sendiri; bagi yang lain, ia muncul melalui tubuh, lingkungan, ingatan, atau sesuatu yang terbentuk di antara manusia dan teknologi. Perbedaan inilah yang membuat pameran terasa seperti kumpulan 13 perspektif yang saling berdampingan, tanpa harus memberikan satu jawaban yang sama.
Dari Kompetisi Menjadi Kolaborasi
J+ Art Awards pertama kali diinisiasi pada 2024 oleh Mona Liem, Founder Connected Art Platform (CAP). Sejak awal, program ini dibangun sebagai platform untuk menemukan sekaligus mendukung talenta di bidang seni, budaya, dan inovasi, dengan mempertemukan seniman dengan ruang seni, institusi, kolektor, dan publik yang lebih luas.
Karena itu, prosesnya tidak berhenti pada seleksi. Karya-karya terpilih kemudian memiliki kesempatan untuk melakukan perjalanan, berpindah dari satu ruang ke ruang lain, dan bertemu dengan audiens yang berbeda.

Kolaborasi dengan Meiro Gallery menjadi salah satu kelanjutan dari perjalanan tersebut. Setelah dipresentasikan di ARTOTEL Gelora Senayan, 13 seniman terpilih kini mendapatkan kesempatan untuk membawa karya mereka ke ruang Meiro Gallery dan memperluas percakapan di sekitarnya.
Bagi Connected Art Platform, pertemuan semacam ini menjadi bagian dari upaya membangun koneksi yang lebih dekat antara seniman dan berbagai elemen dalam ekosistem seni. Bukan hanya mengenai bagaimana sebuah karya dipamerkan, tetapi juga bagaimana karya tersebut dapat membuka percakapan, mempertemukan orang-orang baru, dan memberi kesempatan bagi seniman untuk memperluas jejaring mereka.
Mempertemukan Seniman dan Publik
Pembukaan J+ Art Awards 2026 x Meiro Gallery telah berlangsung pada 15 Agustus 2026. Acara tersebut dihadiri oleh para seniman, rekan, pecinta seni, kolektor, dan media, serta dibuka oleh Kenny Yustana, Founder Meiro Gallery, bersama Dhanny Sanjaya, Representative Connected Art Platform.
Tujuh seniman turut hadir dalam pembukaan, yaitu Bayu Putra Pratama, Indra Widiyanto, Maryo Pratama, Mivetboi, Naura Gizzella, Rahardi Handining, dan Rania Ramdhani (RAN). Kehadiran mereka memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk tidak hanya melihat karya, tetapi juga mengenal lebih dekat gagasan dan proses yang berada di baliknya.

Pada akhirnya, mungkin tidak ada jawaban tunggal untuk pertanyaan tentang apa yang kita anggap sebagai realitas. Ingatan seseorang dapat berbeda dari ingatan orang lain. Pengalaman yang sama dapat meninggalkan kesan yang berbeda. Bahkan sesuatu yang terlihat begitu nyata dapat berubah ketika dilihat dari perspektif yang lain.
Melalui “MIRAGE”, J+ Art Awards 2026 memberi ruang bagi perbedaan tersebut. Tiga belas seniman datang dengan cerita dan cara pandang masing-masing, lalu bertemu dalam satu ruang untuk memperlihatkan bahwa realitas mungkin bukan sesuatu yang selalu bisa didefinisikan. J+ Art Awards 2026 x Meiro Gallery sendiri berlangsung hingga 19 September 2026 dan terbuka untuk publik.