Galeri Ruang Dini menghadirkan pameran tunggal Achmad Toriq bertajuk Marginalia Lipatan Waktu di atas kanvas yang menyerupai lembaran buku tulis sekolah.

Siapa yang dulu suka corat-coret di pinggir buku tulis saat pelajaran terasa membosankan? Rasanya, hampir semua orang pernah melakukannya. Dari sekadar mengisi waktu, coretan kecil di sudut halaman sering kali justru menjadi ruang tempat imajinasi bermain.

Bagi Achmad Toriq, kebiasaan kecil tersebut menyimpan lebih banyak hal. Coretan di pinggir halaman yang dulu menjadi cara sederhana untuk mengusir bosan kini ia bawa kembali ke dalam praktik seninya, bersama karakter-karakter robot dan pahlawan yang pernah menemani masa kecilnya.

Lewat pameran tunggal Marginalia Lipatan Waktu di Galeri Ruang Dini, Bandung, Toriq menghadirkan kembali karakter-karakter ikonik dari animasi, komik, hingga film dari berbagai era. Alih-alih menggunakan kanvas dengan permukaan biasa, ia mengolah bidang lukisnya menyerupai lembaran buku tulis sekolah. Di atasnya, karakter-karakter tersebut hadir seperti coretan yang muncul di sela-sela halaman.

Pameran tunggal Achmad Toriq di Galeri Ruang Dini Bandung berjudul “Marginalia Lipatan Waktu”. Dok. Galeri Ruang Dini

“Pada dasarnya, buku tulis adalah panggung utama dalam seri karya ini, dan karakter-karakter di atasnya hadir sebagai marginalia: catatan dan coretan di tepi halaman,” ujar Toriq.

Bagi Toriq, karya-karya dalam seri ini bekerja seperti kapsul waktu. Ia mengambil fragmen dari masa lalu, memilih karakter yang pernah dekat dengannya, lalu membawanya ke ruang baru. Karena itu, karya-karyanya tidak berusaha mengembalikan masa lalu secara persis. Sebaliknya, ingatan diberi ruang untuk berubah, bercampur dengan imajinasi, dan menemukan bentuk baru.

Untuk menghidupkan kembali karakter-karakter tersebut, Toriq kembali menonton serial, membaca literatur, serta menelusuri berbagai rujukan visual yang pernah mengisi masa kecilnya. Proses ini membuat Marginalia Lipatan Waktu berada di antara ingatan personal dan interpretasi baru.

Pameran tunggal Achmad Toriq di Galeri Ruang Dini Bandung berjudul “Marginalia Lipatan Waktu”. Dok. Galeri Ruang Dini

Karakter yang dipilih memang memiliki rujukan yang jelas, tetapi Toriq tidak berusaha merekonstruksinya secara presisi. Beberapa detail sengaja dialihkan, komposisi diubah, dan elemen-elemen tertentu diperlakukan secara lebih bebas. Pilihan tersebut memperlihatkan bahwa ingatan tidak pernah benar-benar bekerja seperti arsip yang utuh. Ketika dipanggil kembali, ia dapat berubah, bergeser, dan bercampur dengan pengalaman maupun imajinasi yang datang setelahnya.

Menariknya, gagasan tentang waktu tidak hanya hadir melalui karakter dan cerita masa lalu, tetapi juga melalui proses pengerjaan karya. Toriq meremas kanvas sebelum mengolahnya menjadi permukaan lukisan. Lipatan-lipatan alami yang terbentuk kemudian menjadi bagian dari karakter visual setiap karya.

Permukaan kanvas pun tidak lagi tampil sebagai bidang datar yang netral. Ia menyimpan jejak dari proses yang telah dilalui, seperti halaman buku yang terlipat, kusut, atau meninggalkan bekas setelah lama digunakan. Dengan cara ini, material turut menjadi bagian dari cerita tentang waktu dan ingatan.

Pameran tunggal Achmad Toriq di Galeri Ruang Dini Bandung berjudul “Marginalia Lipatan Waktu”. Dok. Galeri Ruang Dini

Teknik tersebut memperkuat hubungan antara buku tulis, coretan, dan pengalaman personal yang menjadi dasar pameran. Jika karakter-karakter yang dilukis merupakan fragmen dari masa lalu, maka lipatan pada kanvas menjadi jejak fisik yang menandai perjalanan fragmen tersebut hingga kembali hadir di masa kini.

Pada akhirnya, nostalgia dalam karya Toriq bukan sekadar upaya untuk kembali ke masa kecil. Ia menjadi cara untuk melihat sesuatu yang familiar dari jarak waktu yang berbeda. Karakter-karakter yang dahulu hadir sebagai bagian dari tontonan dan bacaan kini dilihat kembali melalui pengalaman, ingatan, dan intuisi sang seniman.

Achmad Toriq. Dok. Galeri Ruang Dini

Achmad Toriq merupakan pengajar seni rupa sekaligus perupa yang menyelesaikan Pendidikan Seni Rupa di Universitas Negeri Surabaya pada 2015. Ia aktif berpameran di berbagai kota di Indonesia, terutama di Jawa Timur, serta terlibat dalam berbagai kegiatan komunitas seni rupa yang turut membentuk dinamika kesenian di wilayah tersebut. Dalam praktiknya, Toriq menggunakan cat akrilik di atas kanvas sebagai medium utama dan banyak mengeksplorasi tema nostalgia masa kecil, mulai dari film dan komik hingga poster-poster lawas. Elemen-elemen tersebut kemudian ia hadirkan kembali melalui visual yang hangat, penuh kenangan, dan dekat secara emosional.

Pilihan karakter, komposisi elemen, hingga perubahan sejumlah detail dari rujukan utama menjadi bagian dari proses personal tersebut. Di tangan Toriq, karakter-karakter yang familiar tidak sekadar direproduksi, tetapi dipindahkan ke dalam ruang baru yang mempertemukan budaya populer, ingatan, dan imajinasi.

Pameran Marginalia Lipatan Waktu oleh Achmad Toriq berlangsung pada 7 Agustus hingga 4 September 2026 di Galeri Ruang Dini, Jalan Anggrek No. 46, Bandung. Pembukaan dan Artist Talk akan dilaksanakan pada Jumat, 7 Agustus 2026. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui Instagram @galeriruangdini.