Danny Wicaksono Tentang Pembangunan Kota Setelah Pandemi

12 September 2020

Verra Aulia

Seperti yang sudah kita ketahui, wabah coronavirus di seluruh dunia mempengarungi hampir semua sisi kehidupan, tak terkecuali seni dan desain. Bagaimana dari sisi arsitektur? Untuk itu Written menghubungi Danny Wicaksono, founder dari studio arsitektur Studio Dasar sembari berbicara tentang perencanaan pembangunan kota/city planning di masa setelah pandemi. 

View this post on Instagram

Anjung Salihara #studiodasar #anjungsalihara

A post shared by studiodasar (@studiodasar) on

Pengaruh Pandemi ke Dunia Arsitektur

Written (W): Seberapa berpengaruhkah Covid-19 ke dunia arsitektur?

Danny Wicaksono (DN): Tentunya berpengaruh, tapi saya juga tidak bisa memprediksi apa yang terjadi kedepannya. Indonesia belum pernah mengalami hal semacam ini, jadi dunia arsitektur juga belum memiliki langkah jelas kemana harus melangkah.

W: Apa saja yang berubah dari proyek yang kamu kerjakan pre dan post pandemic?

DN: Yang jelas, ada kesadaran baru timbul di masyarakat. Kesadaran kalau ternyata kita bisa bekerja dari rumah. Jadi proyek yang terjadi setelah ada Covid-19 memiliki ide yang agak berbeda dari yang biasa kami desain. Tujuannya agar sang penghuni bisa lebih nyaman berlama-lama di dalam rumah yang ternyata bukan lagi jadi tempat singgah untuk beristirahat, tapi tempat bekerja juga.

W: Bisa dijelaskan lebih detail?

DN: Cara hidup ini mendorong desain rumah baru. The whole situation will be different, semua ukuran ruangan, interaksi antar ruang, elemen struktur bangunan harus dipertimbangkan kembali.

W: Apa masih ada lagi yang akan berubah selain desain interior?

DN: Seperti yang kita ketahui, ada orang yang high cautious dan low cautious. Menurut saya yang kita dibicarakan tadi itu adalah suasana interior sementara. Kalau nantinya vaksin sudah ditemukan, mungkin gak akan ada yang berubah, termasuk juga cara berinteraksi.

W: Tren apa sih yang mungkin akan ditinggalkan setelah ini?

DN: Ini bukan ramalan ya, tapi mari berbicara sesuai logika sementara. Pertama, ruang kantor seharusnya berkurang, karena kita bisa bekerja dari manapun. Ruang meeting besar juga berkurang karena harus membatasi jumlah partisipan. Penyewa ruang kantor harus mulai menyediakan kenyamanan seperti lift yang ditekan menggunakan kaki. Tempat seramai mall apakah bisa bounce back? Saya rasa retail juga akan memperhitungkan membuka gerai di lokasi yang tidak setertutup mall. Selain itu coworking space sepertinya juga terdampak. Lebih luasnya, sebaran kota tidak akan seterpusat sekarang. Ini kalau banyak orang bereaksi.

View this post on Instagram

Anjung salihara #studiodasar #anjungsalihara

A post shared by studiodasar (@studiodasar) on

Ruang Publik

W: Kalau kamu diminta membangun ruang publik setelah ini, akan membuat yang seperti apa?

DN: Taman seluas-luasnya! Akan ada cluster pohon di beberapa bagian untuk berteduh, ada macam-macam tanaman obat yang semua orang bisa gunakan dan jaga bersama. Tempat seperti ini akan memberi pembatasan sosial dan kebebasan untuk berhubungan dengan alam secara bersamaan. Kalau bangunan, mungkin bisa melirik ke tempat-tempat yang dibangun setelah ada wabah tuberkulosis dan influenza. Harus ada ruang-ruang untuk cuci tangan, didesain mudah dibersihkan, ada sinar matahari masuk, dan punya sirkulasi udara baik. 

W: Kalau di luar negeri, tempat mana yang bisa dijadikan acuan belajar?

DN: Saya suka Hyde Park dan taman-taman kecil di perumahan London. Ada juga bekas bandara Tempelhof di Berlin yang sekarang jadi ruang publik.

Credit: Studio Dasar

Perencanaan Pembangunan Kota / City Planning

W: Bagaimana dengan pembangunan kota? Bisa dijelaskan good living area itu seharusnya seperti apa?

DN: Satu hal yang pasti, di Indonesia modern belum ada kota yang baik. Sebenarnya hanya perlu waktu sekitar tiga tahun untuk belajar membuat kota yang baik. Kemudian mendesainnya butuh sekitar satu tahun. Kita harus mengubah semuanya. Mulai dari cara berpikir hingga cara membangun di semua lapisan. Di sini tidak ada mekanisme pengerjaan dan pengadaan apapun untuk pekerjaan seperti ini (pembangunan kota yang baik). Yang paling mendasar harusnya mengubah mekanisme kepemilikan tanah dengan aturan kota yang jelas. Kita harus membangun kota untuk ditinggali, bukan untuk memajukan pariwisatanya. Orang harus mau tinggal, bukan mau singgah, karena singgah itu akhirnya hanya meninggalkan jejak sampah. Ujungnya? Dibanding berkembang, lingkungan malah menjadi rusak.

W: Apa yang paling sulit dilakukan dari semua itu?

DN: Yang paling penting kita gak boleh sinis karena semuanya possible. Yang kedua, pengadaan tanah di sini sulit. Mekanisme kepemilikan tanah harus mendorong agar semua untung, kecuali ya punya satu penguasa. Kalau di sini bisa dibilang penguasanya adalah developer (bukan pemerintah) yang punya tanah ribuan hektar, jadi bisa membangun dengan leluasa, dengan tujuan yang tentu berbeda kalau dimiliki pemerintah.

W: Kalau Jakarta bagaimana?

DN: Sudah “terlanjur”. Kota ini dibangun untuk karyawan kantor asing dan pemerintah, mangkanya bentuknya begini. Kalau anak muda sekarang kebanyakan sudah bukan karyawan. Saya rasa mereka belum mau pindah hanya karena belum ada pilihannya. Kalau ada tempat tinggal dan kesempatan yang lebih baik pasti banyak generasi muda akan memilih pindah ke luar Jakarta.

W: Jadi kalau mau membangun smart city, apa saja yang harus ada?

DN: Saya gak tau harus menyebut smart city atau tidak, tapi kalau mau membangun kota untuk smart people harus ada jalur sepeda yang panjang, hal ini bermuara ke isu sustainability jadi orang gak perlu naik mobil terus. Lebih baik lagi kalau ada sepeda listrik. Ketergantungan mobil harus berkurang kecuali untuk logistik. Setelah itu pajak kendaraan dan tarif parkir bisa ditinggikan. Daerah yang dibangun hanya boleh 40%, sisanya ruang terbuka hijau. Di setiap distrik ada tipe rumah yang memungkinkan penghuninya bercocok tanam. Selain itu pintu rumah juga harus terhubung langsung dengan trotoar. Kemudian ada pengolahan limbah yang baik untuk sampah organik dan non-organik. Listrik harus ramah lingkungan, penggunaan solar panel dan wind turbin adalah solusi yang bisa kita contoh.

Nah, bagaimana? Ternyata masih ada harapan besar agar Indonesia punya kota yang mendukung kehidupan lebih baik seperti di London, Milan, Tokyo, Melbourne, ataupun Berlin. Kuncinya hanya sejauh mana kita semua mau mengubah mindset untuk memilikinya.

“Semua orang yang tinggal di kota (yang menurut kita bagus) di luar negeri, merasa kotanya jelek. Sampai mereka tau bentuk kota yang kita (orang Indonesia) tinggali.”

Danny Wicaksono

Sudah tidak sabar kan punya kota yang nyaman ditinggali dan bisa dibanggakan?

Share:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on email

Artikel Lainnya