Budiman Ong Bicara Tentang Eksplorasi Material dan Ekosistem Desain

Budiman Ong, Dok: Ong Cen Kuang

Nama Budiman Ong sudah tidak asing lagi di lanskap desain produk Indonesia. Sebelum dikenal sebagai desainer lampu hias yang lihai menaklukkan material tak biasa, perjalanannya berawal dari dunia pembuatan perhiasan perak (silversmithing) di jenama global, John Hardy. Alih-alih hanya berkutat pada logam mulia, posisinya di Departemen Research Lab dan Research & Development (R&D) memberinya kebebasan bereksperimen yang luar biasa. Mulai dari eksplorasi tanduk kerbau, koral merah, batu giok, hingga kulit ikan tilapia dan buaya, masa-masa penuh eksplorasi ini menjadi fondasi kuat yang membentuk intuisinya terhadap material. Kecintaannya pada eksperimen material itulah yang melahirkan Ong Cen Kuang pada tahun 2008, sebuah jenama kriya kontemporer yang berfokus pada pencahayaan.


Di era yang serba instan, desainer produk Indonesia ini bersikukuh mempertahankan proses pengerjaan tangan (handcraft), merangkul ketidaksempurnaan sebagai sebuah nilai tambah yang humanis dan personal. Kini, lebih dari sekadar merancang karya untuk klien, visi besarnya merambah pada penciptaan ekosistem desain global melalui inisiatif festival JIA Curated, membuktikan bahwa karya berbasis kriya lokal mampu berbicara lantang di panggung internasional.


Simak obrolan Written dengan Budiman Ong berikut ini…


Dari Perhiasan Perak ke Eksplorasi Material Lampu


Written: Kenapa dari silversmithing kemudian ada ketertarikan ke dunia jadi desainer lampu hias?


Budiman Ong: Kebetulan sewaktu lulus sekolah, tesis terakhir dan proyek setahun saya memang fokus ke lampu hias. Di John Hardy, saya masuk ke Departemen Research Lab dan bereksperimen dengan beragam bahan mewah, bukan khusus di perak saja. Dari sana ketahuan banget memang bahan yang selalu menjadi titik awal saya untuk memulai membuat apa pun.


Written: Dari material-material yang pernah dipakai, material mana yang prosesnya paling panjang dan berkesan?


Budiman Ong: Mungkin yang membuat saya sangat yakin bahwa yang saya buat itu benar adalah ritsleting. Koleksi pertama yang kita launching pada 2008 itu dari ritsleting, dan setelah 18 tahun, itu masih menjadi produk yang paling sukses dan sering dibeli orang di Ong Cen Kuang.

ALUR Kelopak by Ong Cen Kuang, Dok: Ong Cen Kuang


Written: Berarti satu material itu terus dieksplorasi hingga melahirkan wujud-wujud baru, ya?


Budiman Ong:
Benar. Kita butuh waktu 10 tahun di 2018 untuk berhasil membuat ukuran yang paling besar, yakni 120 cm, menggunakan 2 kilometer ritsleting untuk satu barang. Untuk saya sebagai desainer, selalu ada evolusi. Dari bahan yang sama, bentuk awal dan evolusi selanjutnya bisa kelihatan totally different.

Dok : Ong Cen Kuang


Written: Apakah ada material lain yang saat ini sedang dikembangkan oleh Ong Cen Kuang?


Budiman Ong: Saat ini saya ingin mengembangkan kertas. Dulu nilai kertas sering dianggap murah dan mudah rusak, tapi kualitas pendaran cahayanya tidak bisa digantikan bahan lain. Sekarang kita mencoba mengangkat kertas pisang dan kertas technical bernama Tyvek. Keduanya punya tingkat pendaran cahaya, warna, dan serat yang berbeda, memberikan unsur nilai tambah yang coba kita angkat.

ALUR by Ong Cen Kuang, Dok: Ong Cen Kuang


Written: Di era produksi massal dan AI yang serba presisi, Ong Cen Kuang tetap mempertahankan handcraft. Mengapa masih memilih jalur ini meski memakan waktu lama dan punya ketidaksempurnaan?


Budiman Ong: Justru menurut saya ini adalah nilai yang tidak bisa digantikan. Ketidaksempurnaan atau beda tangan dalam merajut (crochet), misalnya, buat saya itu nilai tambahan. Kalau dipotong sempurna, lampu akan kelihatan sangat kaku. Nilai-nilai dari sentuhan tangan itu malah menambah dinamika, jadi produk tidak kelihatan flat atau satu dimensi.

Craftmanship menjadi nyawa dalam setiap produk Ong Cen Kuang, Dok: Ong Cen Kuang


Written: Biasanya desainer bermain dengan sketch. Bagaimana strategi memberikan brief bagi pengrajin agar karyanya tetap berjiwa kriya kontemporer?


Budiman Ong: Cara kerja saya memang beda dengan desainer kebanyakan yang selalu menggambar. Saya tidak pernah menggambar. Saya menempatkan diri sebagai designer maker. Dimulai dari tim kecil yang fokus menggali bahannya dulu, kemudian menemukan tekniknya, lalu membimbing artisan-artisan yang kita latih di dalam perusahaan.


Written: Berarti pembelajarannya benar-benar dibentuk dari nol dan menumbuhkan rasa kepemilikan di dalam tim?


Budiman Ong: Benar. Kita malah tidak mencari orang yang sudah punya ilmu, karena kadang itu akan mengganggu kalau mereka merasa caranya harus sesuai teori yang mereka ketahui. Sedangkan bagi kita, bahanlah yang mendikte. Kita mendidik dari awal agar mereka sadar bahwa apa yang mereka buat itu berharga. Kalau mereka suka apa yang dibuat, otomatis produk yang dihasilkan Ong Cen Kuang kualitasnya akan bagus.

Jamur Collection at Jia CURATED 2025 – Dok: Ong Cen Kuang – Indra Wiras


Written: Apakah keterikatan personal pada karya kriya ini juga berusaha disalurkan sampai ke klien pembeli?


Budiman Ong: Tentu. Koleksi yang kita launching tahun lalu bernama Jamur Collection dari tembaga dan kayu itu sengaja dibuat agar klien ikut membentuknya. Klien ikut campur membentuk lampunya sendiri, sehingga mereka membuat ikatan emosi yang dekat dengan barang tersebut dan juga dengan sang pembuat.


Membangun Ekosistem Desain Lewat JIA Curated

Jia CURATED 2025, Dok: Jia CURATED, Credit: Priska Joanne


Written: Mari beralih ke JIA Curated. Boleh ceritakan bagaimana perkembangan JIA dari awal terbentuk pasca pandemi hingga hari ini?


Budiman Ong: JIA terjadi karena ada Ong Cen Kuang. Efek ketika pandemi COVID membuat pekerjaan menjadi berkurang, maka kita mengumpulkan rekan-rekan sesama jenama yang baru merintis ke dalam satu wadah, JIA kolektif. Tujuannya untuk berjualan bersama agar tim tetap bisa bekerja. Dari toko kecil berisi 40 brand, kita membuat bazar, dan akhirnya memutuskan membuat festival desain karena kita melihat di Indonesia belum ada event desain berkonsep outdoor yang kuat merespons komunitas seperti di Bali.

Jia CURATED 2025, Dok: Jia CURATED, Credit: Priska Joanne
Jia CURATED 2025, Dok: Jia CURATED, Credit: Priska Joanne


Written: Apa saja tantangan yang dihadapi, dari awalnya bekerja independen di studio sendiri hingga kini mendesain ekosistem pameran untuk banyak pihak?


Budiman Ong: Tantangannya banyak. Kita ingin ini jadi acara internasional yang berbasis di Indonesia, padahal dunia luar masih belum banyak mengerti kalau kita punya design talent yang mumpuni. Memberi lahan kosong outdoor untuk area pameran juga sulit, karena brand harus kreatif memikirkan pelindung booth mereka sendiri. Tapi justru dari sana kepuasannya muncul; melihat acara ini bukan dari sekadar kacamata event organizer, melainkan event kreatif dan place making.

Architecture in Scale, Jia CURATED 2025, Dok: Jia CURATED, Credit: Indra Wiras
Architecture in Scale, Jia CURATED 2025, Dok: Jia CURATED, Credit: Indra Wiras


Written: Ada bocoran sesuatu yang baru atau seru untuk perhelatan JIA tahun ini?


Budiman Ong: Tahun lalu kita sukses dengan program Architecture in Scale yang mengkurasi 24 arsitek Indonesia. Nah, tahun ini kita fokus memperluasnya ke panggung internasional dengan komposisi 70% arsitek Indonesia dan 30% internasional. Kita juga bekerja sama dengan Charmaine Chan yang merupakan Design Editor South China Morning Post sekaligus seorang penulis buku yang based di Melbourne, agar kurasi JIA memiliki objective view yang kuat terhadap arsitek-arsitek di Asia.


Written: Sebagai penutup, setelah berkarya selama 18 tahun dan menciptakan ekosistem besar, batasan apa lagi yang ingin didobrak oleh seorang Budiman Ong?


Budiman Ong: Memiliki koleksi limited edition atau yang sifatnya one of a kind. Ini menjadi goal kita di Ong Cen Kuang, dan masih terus kita pelajari.

SHARE :
WhatsApp
Facebook
Twitter
Email
Artikel Lainnya