Kesempatan GO INTERNATIONAL!

Bergabunglah dengan Indonesia Pavilion di FIND – Design Fair Asia 2024

Temui para profesional desain terkemuka dan temukan peluang bisnis baru di ajang desain paling bergengsi di Asia. Pelajari lebih lanjut bagaimana Anda bisa menjadi bagian dari Indonesia Pavilion

0 +

Pengunjung

0

Brands

0 USD

Rencana Penjualan Setelah Pameran

0

Luas Area Pameran

INDONESIA PAVILION at FIND 2024

Written.id berkolaborasi dengan ICAD dan HDII DKI Jakarta akan mempersembahkan Indonesia Pavilion perhelatan FIND – Design Fair Asia 2024.

Paviliun ini akan menampilkan brand dan desainer terkurasi yang akan menghadirkan beragam produk dan gagasan desain. Anda berkesempatan untuk menjadi salah satunya!

We Offer Financial & Superior Services

A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary
regelialia. It is a paradisematic country, in which

Request a Call Back?

A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradise

Make an Appointment

for any inquiry

Testimonials

A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradise

Elizabeth Sofia CEO

Behind the word mountains, far from the countries Vokalia and top consonantia, there live the blind the texts Separated.

Jillian J. Dooley WordPress Dev.

Behind the word mountains, far from the countries Vokalia and top consonantia, there live the blind the texts Separated.

Freda B. Walker WordPress Dev.

Behind the word mountains, far from the countries Vokalia and top consonantia, there live the blind the texts Separated.

Jillian J. Dooley WordPress Dev.

Behind the word mountains, far from the countries Vokalia and top consonantia, there live the blind the texts Separated.

Elizabeth Sofia CEO

Behind the word mountains, far from the countries Vokalia and top consonantia, there live the blind the texts Separated.

Latest News

A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradise

Inspirasi Patung Gendut dan Gemoy Karya Adi Gunawan

Arif Nurohman

Berbicara tentang seni sangat erat kaitannya dengan nama-nama seniman besar Indonesia yang selalu punya ciri khas atau identitas yang dicurakhan dalam setiap karya yang dilahirkan, salah satunya adalah Adi Gunawan yang selalu menghadirkan karakter “gendut” dan “gemoy” di setiap karyanya.

Apa aja sih pandangan Adi Gunawan tentang dunia seni? dan bagaimana perjalanan beliau dalam menemukan karakter “gendut” dan “gemoy” yang saat ini menjadi ciri khas di setiap karya patung yang dibuat olehnya? Yuk kita simak perbincangan Written bersama Adi Gunawan tentang perjalanan kariernya sebagai seorang perupa dan juga pandangan beliau tentang dunia dunia seni.

Written : Boleh ceritain nggak pak, perjalanan pak Adi tuh dari awal emang dari kecil pengen jadi seniman atau gimana tuh ceritanya?

Adi Gunawan : Dari kecil itu saya udah punya bakat. Bakat seni, terus apalagi kita kan orang Bali itu seni itu kan beriringan. Tanpa kita sadari kan orang tua udah ngajarin bikin canang sari, itu sajen nih. Itu kan karya seni, kita kan nggak sadar kalau itu karya seni kan. Orang tua udah ngajarin, jadi kita tumbuh dengan seni bersamaan. Nah kebetulan saya ada bakat juga, terus begitu lulus SMA pengen sekolah ke ISI memang niatnya.

Written : Tapi emang senangnya membuat sesuatu gitu ya, bukan ngelukis, bukan ngegambar gitu?

Adi Gunawan : Iyaa, dari kecil udah bikin kerajinan-kerajinan. Jadi membuat tiga dimensi. Walaupun saya juga suka menggambar, suka melukis. Tapi basic saya lebih ke tiga dimensi.

Written : Oh gitu. Terus akhirnya melanjutkan ke ISI Jogja itu tahun berapa?

Adi Gunawan : Tahun 95

Written : Tahun 95 itu berarti langsung jurusan patung?

Adi Gunawan : Langsung jurusan patung. Cuman waktu di ISI Jogja, kita tuh gak cuman melulu patung thok yang diajarin kan. Melukis, fotografis, seni grafis. Memang basic utama kita masuk ke situ jurusan patung. Jadi kita semua dapet,tapi memang 80 persen patung. Cuman mata kuliah lain tuh tetep dapet. Makannya banyak yang jurusan lukis akhirnya jadi jurusan patung, jadi pelukis juga ada. Karena kita diajarin. Cuman saya secara basic memang niatnya di patung aja. Bukan berarti saya gak bisa melukis, saya melukis juga. Cuman lebih banyak di patung.

Written : Nah setelah dari ISI tuh langsung berkarya tuh?

Adi Gunawan : Nah ini saya mau ceritain. Kenapa yang lulusan ISI Jogja entah kampus mana lah. Mereka jadi seniman setelah lulus. Sebenarnya menjadi seniman itu udah dilalui di kampus sebenarnya. Banyak temen-temen yang berharap nanti saya setelah lulus baru mau jadi seniman. Salah besar, malu besar. Kita itu dari semester 2, 3 itu udah rajin pameran. Dan itu pun akan terbukti nantinya setelah dia lulus. Kalo berharap setelah lulus baru jadi seniman,  gak ada yang jadi seniman kayak gitu. Bayangin kita tuh kuliah, banyak tugas, tapi tetep ikut pameran. Bayangin ikut pameran tuh kan dobel nantinya berkarya kan. Disitu mental kita udah terlatih.

Written : Nah pameran itu memang pameran di kampus atau gimana Pak?

Adi Gunawan : Pameran di kampus juga ada, di luar kampus juga ada. Nah model-model pameran itu kan seperti kompetisi sebenarnya di Jogja itu. Jadi even ada pameran apa, kita tuh ngumpulin foto karya diseleksi. Sederhana FKY lah, (Festival Kesenian Yogyakarta). Mereka itu kan bikin pameran, bikin pameran itu kan mereka bikin tema. Terus kita kalo mau ikut ngirim foto. Itu kan secara tidak langsung kita diseleksi di sana. Nah karya terbaik yang lulus itu sudah dilatih sebenarnya buat kompetisi dan ketika lulus kan liat nama, “ihh karya saya lulus” Itu kan bangga, bangganya luar biasa itu.

Written : Pas kuliah tuh berarti Bapak udah sering pameran? Seberapa sering Pak? Berarti sering terpilih dong?

Adi Gunawan : Sering. Bukan cuma pameran disitu sih, pameran ke galeri-galeri juga. Inisiatif ngajukan proposal. Bikin kelompok-kelompok kecil, pameran ke galeri Jakarta, di Bali. Saya ngajuin kelompok-kelompok 5 orang, itu cuma kuliah loh itu.

Written : Oh gitu jadi sama temen-temen, memang seniman patung juga atau lintas?

Adi Gunawan : Enggak, campur bukan sepatung aja, kita bikin kelompok kecil gitu. 5-6 orang, ada yang kelompok 9 orang, itu yang saya bilang, menjadi seniman tuh nggak bisa tiba-tiba setelah lulus baru berkarya, nggak ada. Nggak ada seniman lulus baru berkarya. Jadi seniman-seniman yang di Jogja, yang beredar sekarang tuh memang sudah aktif di kampus dari mahasiswa.

Written : Tapi dari awal, ini kan kalau pak Adi ini aku lihat banyak figur ya, memang apakah dari awal berkarya tuh kayak gini?

Adi Gunawan : Enggak, Waktu saya masuk ke kampus ke ISI, ada seorang seniman hebat. Namanya Pak Nusaphati. Pernah denger nggak? Itu dosen kita waktu kita masuk, dia dosen Indonesia kualitasnya internasional. Perupa kontemporer yang internasional lah dia. Dia sering diundang pameran-pameran di luar negeri. Itu mempengaruhi kita luar biasa. Jadi, ketika kita masuk selalu terinspirasi karya dia tuh, konsep karya dia. Dan bukan cuma saya, banyak mahasiswanya yang juga terinspirasi. Nah, saya ketika bikin karya pengaruh dia tuh kuat sekali karya-karya saya tuh. Sebagus apapun saya buat, selalu “wah kayak Pak Ninus” . Sebagus apapun saya bikin, walaupun saya lebih bagus tetap kayak Pak Ninus. Jadi, konsep dia tuh kuatnya luar biasa mempengaruhi kita. Dan setelah saya lulus, saya mau pameran tunggal di Bentara Budaya tahun 2007. Waktu itu saya ajuin proposal ke Bentara Budaya Jogja. Masih tema-tema konsep  karya lama itu, yang kontemporer, yang kena pengaruh Pak Nusapati itu. Jadi saya pameran. Tapi belum pameran waktu itu. Persiapan pameran. Jadi proposal masuk di Bentara itu kan 1 tahun. Nah, tinggal 3 bulan pameran tunggal. Saya jenuh. Wah, jenuhnya minta ampun. Saya kayak mau batalin aja pameran itu. Tinggal 3 bulan. Masa-masa jenuh saya itu saya iseng bikin karya. Tapi masih kecil waktu itu, ada cewek duduk di batu sampe tidur. Sehari satu model, tapi dibuat pakai tanah. Ada berapa karya itu saya bikin. Terus saya mikir “kok asik ya ini karya ya” . Waktu itu perempuan-perempuan saya buat. Istri saya pas hamil juga waktu itu kan

Written : Oh, pas istri bapak lagi hamil?

Adi Gunawan : Saya buat perempuan hamil. Saya gak sadar itu udah 10. Dalam 1 bulan itu saya bisa dapet 10 karya. Tapi masih model tanah. Saya bilang “kok asik ya ini ya”. Saya sendiri bilang asik gitu loh. Waktu itu saya lagi persiapkan karya-karya yang kontemporer gitu . Langsung saya ketemu kepala Bentara Budaya Yogyakarta. Pak Hermanus sama Romo Sindhunata yang ngelola di sana. Saya ketemu mereka Saya bilang, “Pak, saya mau ganti judul pameran”. ”Apa lagi kamu mau buat, tinggal 3 bulan masa mau diganti?”  kata mereka. Terus saya liatin foto-fotonya kan. Saya udah foto, cetak, tapi masih model tanah. Saya bilang, saya punya karya baru. ”mana? Ih, bagus ya.” ”Bisa nggak, kamu ngejar tinggal 3 bulan?”  Saya bilang, “bisa”. Oh, saya bikin karya cepat gitu. Karena saya ketemu enjoy. Saya nggak  ada tekanan bikin karya ini. Bikin karya-karya ini tuh enaknya luar biasa. Kemudian bikin dan akhirnya terlaksana pameran tunggal saya. Entah sudah di situ mungkin jalannya. Karena dulu kan saya susah banget gitu. Bikin karya sebagus apapun. Dibilang kayak Nusapati. jadi dijual susah.

Saya ngangkat isu perempuan waktu itu. Memang karya saya lebih banyak perempuan ya. Waktu itu ide saya dibentuk oleh media. Pengertian cantik itu tinggi, kurus, ramping, rambutnya lurus. Saya melawan itu. Cantik versi Adi Gunawan ini. Gendut, kribo, belentet. Nah itu, Di situ ide saya awalnya. Akhirnya jadi ciri khas saya sampai sekarang.

Written : WOW !!!  Oh jadi memang melawan stereotipe ya sebenarnya?

Adi Gunawan : Ya stereotipe kecantikan itu aja sebenarnya awalnya ide saya. Nah pas saya pameran tunggal, ada galeri dari Singapur. Galeri Red Scene punya orang Ingrris. Dia Beli satu-satu. 17 karya waktu itu. ” Ini saya ambil semua” dia bilang

Jadi satu ini ada delapan edisi. Jadi dia beli 7-8 waktu saya lupa. Pas dia beli, saya disalamin, ”Selamat ya. Karya kamu tuh original”. Saya kaget dan bilang “kok bisa original pak?”. Terus dia jawab ”Saya tuh keliling dunia cari karya. Gak ada karya seperti kamu. Botero gemuk, tapi dia tinggi. Tinggi besar tapi gemuk. Jadi proporsi orang Eropa tapi gemuk. Nah di Cina juga ada gemuk-gemuk. Tapi beda. Kamu ini gemuk, gendut, kribo. Gak ada di dunia. Coba buka di Google” katanya. Bener gak ada!!! hahaha.

Written : Waktu itu materialnya apa Pak?

Adi Gunawan : Sudah fiber sama bronze

Written : Oh memang dari awal itu fiber sama bronze. Itu kenapa Pak alasannya?

Adi Gunawan : Karena secara bahan itu lebih menarik, lebih tahan lama, lebih bagus dan orang mau ngoleksi yang begitu dibanding yang karya-karya kontemporer.

Nah, saya mau bercerita lagi. Bahwa menjadi seniman itu sebenarnya apa yang kita buat semua masalalu sebenarnya. Bukan ide yang dicari-cari sekarang. Kayak babi, naik perahu, yoga itu semua masalalu. Saya dari kecil sudah dilatih yoga sama orang tua saya. Saya orang Bali gitu. Setelah dewasa, saya yoga lagi. Saya latih-latih yoga, ini bagus dibikin patung. Gerakan ini indah. Di situ aja. Jadi sebenarnya, momen itu sebenarnya momen masalalu sebenarnya. Kalau babi kan, kita peternak babi kan dari kecil.

Written : Oh gitu Ya?Aku memang mau tanya. Pak, ini kenapa banyak banget babi ya? Dan memang ini paling banyak kan? Paling banyak yang muncul gitu. Hewan-hewan lain kayaknya jarang gitu. Ini kuda, aku baru kali ini liat ada kuda

Adi Gunawan : Kita punya kuda. Kalau perahu, bapak saya tuh punya empang. Jadi kalau hari Sabtu kita nengok empang kan. Nengok perahu. Jadi memang memori-memori itu. Nah, sekarang gini. Orang gak pernah melakukan gerakan yoga. Terus dia disuruh bikin patung yoga pasti jelek. Karena dia belum pernah mencoba. Makanya sekarang kenapa saya bikin? Secara bentuk kan menarik. Karena saya pernah bikin. Nah, itu kayak spa itu. Saya pernah punya spa gitu. Makanya seniman itu apa yang dia bikin sebenarnya karya apapun yang dia bikin lewat jujur loh. Jujur sama nurani, sama hatinya, sama masa lalunya.

Written : Berarti Bapak untuk inspirasi bikin koleksi itu sebenarnya buat Bapak gak terlalu sulit ya? Maksudnya karena memang dari pengalaman Bapak ya?

Adi Gunawan : Iya, Kalau yang kontemporer dulu kan mencari-cari, mengkonsepkan bentuk dulu, merancang. Oh gini konsep tentang tema politik. Oh gini harus dirancang. Itu kan mencari-cari. Sekarang kan ide itu mengalir. Sebenarnya sudah ada di kepala itu ide, cuma butuh momentum aja. Saya latihan yoga dari kecil. Kenapa gak dibikin? Nah, kayak gitu kan cuma butuh momentum. Ketika saya latihan yoga baru saya lihat. Ih, ini bagus sekali dibikin patung.

Written : Dari awal tuh karya bapak udah colorful seperti ini atau seperti apa?

Adi Gunawan : Awalnya hijau-hijau. Ini ketemu warna ini pas 2019. Tapi yang bener-bener matang warna 2022 abis COVID itu loh. Nah COVID itu kan masa-masa gelap kan, kalau saya mau pameran tunggal saya cuma ngadirin karya gelap, tambah gelap lah dunia. Jadi saya ada kesadaran baru tuh. Saya harus berwarna full color biar dunia dicerah. Itu ide nya.

Written : Nah kalau untuk seniman-seniman muda nih pak, kira-kira yang baru mulai pengen jadi pematung apa saran bapak buat mereka?

Adi Gunawan : Jadi pematung itu berat, saya jujur. Pematung itu kan kolektornya dikit dibanding pelukis. Bikin karya patung aja udah mahalnya minta ampun bahannya, ngabisin modal udah banyak. Jualnya susah, kolektornya sedikit. Kuncinya cuma satu, jangan menyerah. Bikin karya yang bagus, terus eksis di pameran pasti momenmu akan ketemu. Saya aja dulu,udah punya anak dua, saya masih jadi artisan. Artisan tuh bantu-bantu seniman kaya bikin patung, tapi saya kan enggak berhenti cuma jadi artisan. Saya tetap berkarya. Saya tetap bikin karya walaupun saya disuruh bantu Pak Guna, Pak Mas Kanding Utama, ayo bantu-bantu di cetak aja, bikin modal di cetak. Tapi saya tetap berkarya, bikin karya. Jadi ada pameran apa saya ikutin.

Kebanyakan teman-teman pematung jeleknya, dia sudah dibantu jadi artisan seniman besar, tapi dia lupa bikin karya itu lho. Dia enggak punya karya di rumah, tambah lagi enggak pernah posting di medsos. Orang lupa sama kamu, saya bilang.

Karya Karya Adi Gunawan : Dokumen Written
Karya Karya Adi Gunawan : Dokumen Written
Karya Karya Adi Gunawan : Dokumen Written
Karya Karya Adi Gunawan : Dokumen Written
SHARE :
WhatsApp
Facebook
Twitter
Email
Artikel Lainnya
Laid Bare: Frida's Inner World, Dok. Written
13 June 2024
Seni
Search