Dua puluh tahun adalah waktu yang panjang untuk terus relevan di industri musik. Bagi Edward Fernandez, atau yang dikenal dengan nama Andezzz, waktu hanya mengubah medium, bukan esensinya. Lulus dari kampus prestisius Berklee College of Music jurusan Jazz Composition, ia justru mengukir legasinya di ranah elektronik.
Sejak mencuri perhatian publik bersama duo SOVA di tahun 2004, Andezzz tidak hanya menjadi saksi evolusi kultur malam Jakarta menuju era listening bar masa kini, tetapi juga bertransformasi menjadi kurator soundscape premium untuk brand mewah global.
Kini, di tahun 2026, Andezzz siap mendefinisikan ulang batasannya lewat album studio kelima, The Verve. Melalui single bernuansa city pop bertajuk “Cerita Kita“, Andezzz memberi kejutan dengan merekam vokalnya sendiri. Kepada written.id, Andezzz membedah seni mempertahankan ‘nyawa’ dalam musik, belajar merangkul kompromi, serta cara menavigasi tanpa kehilangan identitas.

Perjalanan Musik & The Verve
Written (W): Bagaimana latar belakang akademis Jazz Composition dari Berklee, memengaruhi struktur lagu Andezzz di ranah elektronik?
DJ Andezzz (A): Sejujurnya, semua yang dipelajari waktu di zaman kuliah dulu tidak ada yang terpakai. Dulu saya mengambil jazz composition karena itu adalah salah satu jurusan yang paling mudah saat itu. Tugasnya hanya menganalisa dan membuat komposisi menggunakan pensil dan kertas tanpa alat musik. Meski begitu, sistem pendidikan seperti mentoring dan kelas ensambel memang sangat membantu. Di era sekarang, penulisan lagu jauh lebih simpel dan tidak seribet musik jazz zaman dulu, karena pada dasarnya komposisi musik itu memiliki rumus dan pola chord yang sudah ada.
W: Seperti apa proses berkarya di dalam studio? Cari beat-nya dulu kah? atau liriknya?
A: Setiap musisi punya cara masing-masing. Ada yang liriknya dulu, melodi dulu, ada juga yang chord-nya duluan. Kalau saya akan mulai dengan beat-nya dulu. Mau buat jenis lagu apa dulu, nih, nu disco kah atau house music atau pop. Setelah dapat aset drum, saya lanjut membuat chord progression, mau lagunya sedih atau happy. Kemudian baru cari ritme, groove, ditambahkan bass, melodi, dan terakhir baru liriknya.
W: Apa perbedaan yang paling fundamental dari musik yang Andezzz ciptakan di awal berkarya 20 tahun lalu dengan yang diproduksi sekarang?
A: Mungkin metaforanya mirip seperti kita menciptakan menu makanan. Jadi sebenarnya pada akhirnya memang untuk menghibur diri kita, menghibur orang lain. Dalam perjalanannya saya banyak berkolaborasi dengan orang lain yang juga punya ceritanya sendiri. Akhirnya setiap kolaborasi pun punya journey-nya masing-masing.
Mungkin kalau dulu lebih idealis, lebih enggak peduli sama situasi negara, atau situasi musik pada saat itu, atau bahkan ada juga karya-karya yang ter-influenced banyak dengan situasi yang terjadi di saat itu. Misalnya di era 2000-an itu belum ada yang namanya Electronic Dance Music (EDM), lebih banyak progressive house. Dan di 2010 itu sudah era EDM, kemudian musik-musik yang sebenarnya soulful atau R&B, tapi nuansanya tetap nuansa EDM.
Jadi setiap perjalanan punya ceritanya masing-masing. Namun yang pasti, I will never stop making music.
W: Kenapa memilih “Cerita Kita” sebagai single pembuka album ke-5 The Verve, dan mengapa akhirnya untuk pertama kalinya Andezzz bernyanyi sendiri?
A: Ceritanya lucu sebenarnya. Jadi biasanya saya kalau ngerjain sebuah karya tuh selalu mengerjakan sendiri dengan peralatan rekaman yang ada di rumah. Nah, pertengahan tahun lalu saat baru mau memulai, komputer saya crash, nggak bisa nyala, nggak ngerti apa penyebabnya. Sementara semua ide udah di kepala, jadi harus tersalurkan.
Saya lalu menelepon teman, Jonathan Mono pinjam studionya untuk rekaman. Selama proses rekaman album, dia secara tidak langsung sangat mendukung dengan memberi masukan, menemani, sampai ke pemilihan lagunya. Tema lagunya adalah a happy goodbye.
Soal menyanyi juga itu usul Mono untuk membuat gebrakan baru. Biasanya saya menyanyi hanya sebatas guide vocal (panduan) untuk penyanyi aslinya nanti. Saya sempat bilang bahwa suara saya bukan suara diva. Namun kami sepakat bahwa saat ini yang banyak diterima pendengar bukan lagi kualitas vokal layaknya diva, melainkan penyampaian pesan yang bisa relate dengan pendengar.
W: Pembuatan lagu ini juga mengajak Toma dari Mocca. Ceritanya bagaimana?
A: Ini berawal dari hardisk lama. Di dalamnya ada materi demo lagu dari tahun 2017-an yang dulu saya buat berdua bersama Toma, tapi cuma sebatas 32 bar. Saya bongkar hardisk lagi, menemukan lagu tersebut, merapikannya, dan akhirnya menelepon Toma untuk meminta izin karena ada campur tangan dia juga.
Analogi Soul di Era AI
W: AI Generatif sekarang mampu menciptakan musik presisi dalam waktu singkat. Sebagai musisi yang mengutamakan soul, bagaimana memastikan karya Andezzz tidak terdengar kaku seperti buatan algoritma?
A: Ciptakan apa adanya, jujur aja. Secara teori, mungkin lagu buatan AI dan buatan manusia sulit dibedakan. Namun menurut saya, ada dua indra manusia yang enggak bisa dibohongi: indra perasa (lidah) dan indra pendengaran. Kalau kita mendengarkan sebuah nada yang enak, kita enggak bisa bohong. Pada akhirnya, karya seni belum bisa 100% tergantikan oleh mesin karena musik hanya bisa dinilai dari rasanya, enak atau enggak enak.
W: Di era digital yang serba sempurna dan quantized, seberapa penting mempertahankan ‘ketidaksempurnaan’ atau human error dalam rekaman?
A: Masih penting. Di lagu Cerita Kita, ada satu nada di bagian chorus yang sebenarnya sengaja dibuat slightly out of tune atau fals. Tujuannya supaya ada perpaduannya menjadi frekuensi menjadi lengkap. Kalau semuanya dibuat 100% pitch perfect, hasilnya akan terdengar seperti robot. Tapi ini hanya orang-orang yang pendengarannya terlatih yang bisa dengar.
Denyut Suara Jakarta dan Tren Musik
W: Kultur Jakarta bergeser dari clubbing ke listening bar dan coffee culture, bahkan muncul fenomena coffee rave. Apakah musik Andezzz berevolusi mengikuti ritme kota ini?
A: Nggak. Dalam menciptakan karya biasanya tidak ada hubungannya dengan tempat atau acara yang saya perform. Sebagai kota besar, di Jakarta punya banyak banget pengaruh. Apa sih yang namanya clubbing, kalau chill di lounge itu dengerin lagu apa, ada juga yang sudah health conscious jadi enggak clubbing lagi, dan lain sebagainya. Jadi, saat berkarya itu I just make music, what makes me happy.
Tentang fenomena coffee rave, menurut pandangan, eh menurut keyakinan saya, itu sifatnya hanya sementara, sekadar momentum. Nightlife akan selalu berjalan dan Jakarta akan terus menjadi panutan dunia hiburan.
W: Durasi lagu sepertinya semakin singkat nih ya, dulu masih ada lagu 5 menit, sekarang bahkan ada yang kurang dari 3 menit. Apa respon Andezzz terhadap hal itu?
A: Iya, nggak ngerti juga nih kenapa ya (sambil tertawa). Ini mungkin karena era digital dan swipe, otak manusia hanya butuh 3 sampai 5 detik untuk mencerna sesuatu. Saya enggak punya jawaban yang pasti alasannya, tapi intinya kita harus beradaptasi.
Kalau zaman dulu intro lagu itu agak panjang, mungkin ada gitar dulu, drum, apa lagi, baru nyanyi. Sekarang saya mencoba beradaptasi dengan versi cepat, intro sedikit, langsung masuk ke vokal.
W: Terakhir, bertahan lebih dari 20 tahun adalah pencapaian luar biasa. Di luar merilis album, Andezzz juga menjadi Music Director dan bekerja dengan jenama global. Apa kuncinya saat menghadapi bisnis: idealisme atau fleksibilitas?
A: Sangat simpel: ketika kita bekerja untuk brand atau perusahaan lain, tidak ada idealisme sama sekali. Kita harus berkompromi, beradaptasi, dan memfasilitasi apa yang mereka butuhkan dengan pengalaman dan keahlian kita. Dan ini sama sekali nggak sulit. Kalau mau idealis, ya buat lagu sendiri saja. Namun saat bekerja dengan klien, kita harus profesional dan menyesuaikan dengan identitas serta music policy mereka.