Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang terus bergerak cepat, kehadiran Art Jakarta Gardens 2026 menawarkan pengalaman melihat seni yang terasa lebih cair dan dekat dengan keseharian. Tidak berada di dalam ruang putih galeri yang tertutup, karya-karya yang hadir justru ditempatkan di area terbuka, berdampingan dengan pepohonan, jalur pejalan kaki, hingga ruang interaksi publik. Situasi ini membuat pengunjung dapat menikmati seni dengan cara yang lebih santai sekaligus personal.
Tahun ini, Art Jakarta Gardens kembali menghadirkan berbagai karya patung dan instalasi outdoor yang mencuri perhatian, baik melalui skala visualnya maupun cerita yang dibawanya. Beberapa karya tampil playful dan mengundang interaksi, sementara lainnya menawarkan refleksi mengenai kehidupan modern, spiritualitas, hingga hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya.
Berikut lima karya patung outdoor pilihan Written di Art Jakarta Gardens 2026.
Naufal Abshar — The Space Boy (2026)
Karya The Space Boy karya Naufal Abshar menampilkan sosok astronot yang sedang membaca koran di luar angkasa. Pada koran tersebut tertulis kalimat “Never Give Up”, yang terasa seperti pengingat personal bagi dirinya sendiri untuk tetap bertahan meski berada jauh dari rumah.

Dengan pendekatan visual yang playful namun emosional, karya berbahan fiber reinforced plastic ini menghadirkan sosok astronot yang tidak tampil heroik, melainkan terasa dekat dan manusiawi. Di balik tampilannya yang sederhana, karya ini berbicara mengenai ketahanan, kesepian, dan harapan.
Karya ini dipersembahkan oleh Museum of Toys, museum mainan desainer pertama dan terbesar di Indonesia yang didirikan oleh Win Satria dan Ando Saputra.
Putu Sutawijaya — Aku Menjadi Tumbuh #1,2,3 (2026)
Melalui karya Aku Menjadi Tumbuh #1,2,3, Putu Sutawijaya menghadirkan figur dengan tubuh tertunduk yang merepresentasikan proses refleksi diri. Sikap tubuh tersebut menggambarkan momen ketika seseorang berhenti sejenak untuk memahami perjalanan yang telah dilalui sebelum menentukan arah baru ke depan.

Menggunakan material iron dan brass, karya ini menghadirkan suasana yang kontemplatif sekaligus emosional. Gestur tubuh yang sederhana justru memperlihatkan pergulatan batin manusia dalam mencari pemahaman, pertumbuhan, dan perubahan.
Karya ini dipersembahkan oleh Can’s Gallery, salah satu galeri seni rupa kontemporer yang aktif mendukung perkembangan seniman Indonesia.
Huang Yulong — By My Side (2018)
Sosok figur ber-hoodie khas karya Huang Yulong kembali menjadi perhatian melalui karya By My Side. Seniman asal China tersebut dikenal melalui karakter anonim menggunakan hoodie yang banyak dipengaruhi budaya urban dan street culture barat.

Penempatan patung di sisi bangku dengan posisi tubuh menghadap pengunjung membuat karya ini terasa interaktif. Pengunjung seolah diajak duduk berdampingan dan membangun dialog imajiner dengan figur tersebut. Pendekatan ini membuat karya tidak hanya menjadi objek visual, tetapi juga bagian dari pengalaman personal pengunjung.
Karya ini dipersembahkan oleh Art WeMe Contemporary, galeri internasional berbasis di Kuala Lumpur yang berfokus pada seni modern dan kontemporer Asia.
Tisna Sanjaya — Aura Kesenian Aura Capital (2011)
Sebagai salah satu figur penting dalam seni rupa kontemporer Indonesia, Tisna Sanjaya dikenal melalui karya-karya yang sarat kritik sosial dan refleksi kemanusiaan.
Dalam karya Aura Kesenian Aura Capital, ia menghadirkan sosok telanjang yang berdiri di atas bola dunia berpola grid sebagai simbol keterjebakan manusia dalam sistem kapitalisme global. Cabang-cabang yang tumbuh dari tubuh figur tersebut, lengkap dengan elemen hewan, merepresentasikan relasi manusia dengan alam yang semakin terpinggirkan.

Lengkungan menyerupai aura dalam karya ini menjadi simbol energi seni sebagai jembatan spiritual yang melampaui batas-batas modernitas. Melalui pendekatan simbolik tersebut, Tisna menghadirkan dialog visual mengenai ekologi, budaya, spiritualitas, dan kritik terhadap kapitalisme.
Karya ini dipersembahkan oleh Theo Gallery, galeri seni kontemporer internasional asal Seoul yang kini juga hadir di Jakarta.
Sugiri Willim — Mandi Kembang (2026)
Lewat karya Mandi Kembang, Sugiri Willim menghadirkan sosok Lala, seorang anak kecil dengan ekspresi tenang yang tengah berendam di dalam bak mandi. Visual yang ringan dan approachable ini menjadi cara baru untuk membaca praktik mandi kembang dalam konteks yang lebih kontemporer.

Postur tubuh Lala yang rileks menghadirkan suasana hening dan reflektif, seolah mengajak penonton memasuki ruang kontemplasi antara manusia, alam, dan spiritualitas. Sementara itu, penggunaan resin dengan finishing industrial paint menciptakan permukaan reflektif yang memperkuat kontras antara tradisi dan estetika modern.
Karya ini dipersembahkan oleh Puri Art Gallery, galeri seni kontemporer Indonesia yang aktif mempromosikan karya-karya seniman Tanah Air.
Melalui berbagai karya outdoor yang hadir tahun ini, Art Jakarta Gardens kembali menunjukkan bagaimana seni dapat hadir lebih dekat dengan publik. Tidak hanya menjadi objek untuk dilihat, karya-karya tersebut juga membuka ruang interaksi, refleksi, dan pengalaman baru di tengah ruang kota.
Dari kelima karya tersebut, masing-masing menawarkan pendekatan dan pengalaman yang berbeda bagi pengunjung. Ada yang menghadirkan refleksi personal, kritik sosial, hingga eksplorasi spiritualitas melalui bahasa visual yang unik dan kuat.
Kalau dari kelima karya ini, mana yang menjadi favorit kamu?