Memetakan Ulang Kiprah Perempuan Perupa dalam IWA #4 “ON THE MAP”

Pengunjung di depan karya KaNA Fuddy Prakoso yang bertajuk “Zirah Kesadaran“. Dok. GNI

Jakarta kembali menjadi titik temu penting dalam lanskap seni rupa kontemporer Indonesia melalui penyelenggaraan Indonesian Women Artists (IWA) #4: ON THE MAP. Bertempat di Galeri Nasional Indonesia, pameran ini dibuka secara resmi pada Kamis, 9 April 2026 oleh Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan.

Diselenggarakan oleh Museum dan Cagar Budaya melalui Galeri Nasional Indonesia, dan bekerja sama dengan Yayasan Cemara Enam, edisi keempat IWA memang hadir sebagai penutup dari seri pameran sebelumnya yang telah terselenggara sejak 2007 ini, namun nantinya dipastikan akan hadir format yang lebih besar dan luas, seperti biennale atau triennale untuk perempuan perupa Indonesia di masa depan. 

Dikuratori oleh Carla Bianpoen, Vidhyasuri Utami, dan Bagus Purwoadi, IWA #4 menampilkan 12 karya dari 12 perempuan perupa yang berasal dari berbagai lintas usia. Kedua belas perempuan perupa tersebut adalah Bibiana Lee, Citra Sasmita + Cinta Bumi Artisan, Dyantini Adeline, Endang Lestari, Ines Katamso, Irene Agrivina, KaNA Fuddy Prakoso, Ni Nyoman Sani, Nona Yoani Shara, Rani Jambak, Tara Kasenda, dan Ve Dhanito.

Membaca Peta, Membaca Tubuh

Karya Ines Katamso bertajuk “Biji NAGA” yang merujuk pada siklus kehidupan menurut mitos Dewi Sri. Karya ini didukung oleh BYO Living. Dok. Written.

Konsep “peta” diangkat dalam pameran ini bukan sekadar representasi geografis, tapi mencoba memetakan pengalaman personal para perupa, di mana tubuh adalah titik awalnya. Kemudian karya-karya menjadi refleksi dari pengalaman tersebut. Menariknya, pendekatan ini tidak berhenti pada ranah individual. Ia meluas ke relasi yang lebih besar, yang terlihat membagi ke-12 karya dalam tiga tema besar yakni tubuh, alam, dan warisan budaya.

Lintas Generasi, Lintas Medium

Karya dari Irene Agrivina berjudul “PIGMENTS OF THE GODDESS“. Dok. Written.

Selain menampilkan karya-karya para perupa muda, IWA #4 turut memamerkan karya para perempuan perupa senior seperti Umi Dachlan dan Lucia Hartini dihadirkan berdampingan dengan praktik kontemporer dari generasi yang lebih muda. Bahkan karya-karya perempuan perupa yang sudah berpulang seperti Sri Astari Rasjid, Marida Nasution, dan Hildawati Soemantri.

Tidak hanya itu, eksplorasi medium dalam pameran ini juga menunjukkan perluasan praktik seni rupa ke ranah interdisipliner. Sains, teknologi, dan pendekatan eksperimental menjadi bagian integral dari karya-karya yang ditampilkan. Hal ini menegaskan bahwa praktik seni perempuan perupa Indonesia hari ini tidak hanya reflektif, tetapi juga progresif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Ruang yang menampilkan karya para “maestra” seni rupa Indonesia. Dok. Written.

Menuju Ekosistem yang Lebih Inklusif

Pameran ini sekaligus menjadi pengingat bahwa sejarah seni rupa tidak pernah final. Ia selalu terbuka untuk ditulis ulang, dengan perspektif yang lebih inklusif, lebih beragam, dan lebih jujur terhadap kompleksitas pengalaman manusia. Pada akhirnya, IWA #4 bukan hanya tentang menempatkan perempuan “di dalam peta,” tetapi tentang mempertanyakan siapa yang menggambar peta tersebut, dan bagaimana kita membaca ulang garis-garisnya hari ini.

Pameran IWA#4 berlangsung di Gedung A, Galeri Nasional Indonesia mulai 10 April hingga 30 Juni 2026. Harapannya dengan durasi pameran yang cukup panjang, publik mendapat pengalaman dan pengetahuan menyeluruh mengenai sosok para perempuan perupa di Indonesia, serta menebarkan inspirasi bagi para perempuan perupa lainnya untuk terus berkarya dalam ranah seni rupa Tanah Air.

SHARE :
WhatsApp
Facebook
Twitter
Email
Artikel Lainnya