Di lanskap arsitektur Ubud yang padat, di atas tebing yang menghadap ke Sungai Petanu, resort Bumi Kinar hadir sebagai sebuah anomali konseptual. Properti ini bukanlah satu entitas tunggal, melainkan sebuah dialog arsitektur antara dua generasi dan dua master desain Indonesia.
Bumi Kinar berawal dari vila liburan yang dirancang oleh arsitek legendaris Hadiprana. Ini adalah fondasi, masa lalu, dan kenangan keluarga pemilik. Saat itu Hadiprana merancang tiga vila liburan yang masih dipertahankan dan menjadi bagian dari Bumi Kinar hingga kini. Heritage namanya. Namun, pemilik merencanakan sebuah babak baru Bumi Kinar.
Dalam wawancara kami dengan Andru Subowo, pemilik Bumi Kinar, ada tiga visi desain yang ingin ia terapkan di babak baru tersebut. Pertama adalah membuat suatu bangunan ikonis yang dapat mengikuti keindahan alam di tepi Sungai Petanu.
Kedua, ia menginginkan “Kesan kontras antara bangunan lama dan baru, sebagai lambang keseimbangan antara dua perbedaan alam, seperti Bumi dan Matahari (Earth & Sunlight) atau Yin & Yang”.
Dan yang terakhir, ia ingin Bumi Kinar menjadi kompleks bangunan yang membaur dengan alam. Misalnya setiap vila memiliki pemandangan yang berbeda karena mengikuti aliran sungai yang tidak linear.
Arahan inilah yang melahirkan area Bumi Kinar yang baru, sebuah karya modern radikal yang dirancang bersama dengan TWS & Partners, dan baru-baru ini memenangkan Bronze A’ Design Award 2024-2025.
Kedua area dipisahkan oleh kontur dan dihubungkan oleh sebuah “Flying Bridge” penuh makna. Berfungsi lebih dari sekadar jalur pejalan kaki; ia adalah simbol fisik dari koneksi antara masa lalu dan masa kini. Ide ini juga lahir dari visi Andru.
Konsepnya datang dari sebuah pita terbang dalam sebuah buku arsitektur Jepang. Jembatan yang seakan melayang ini menggambarkan kamu sedang berjalan di awan, melangkah dari tradisi menuju modernitas yang menyimpan inovasi.
Area Skylight, namanya, bukanlah sekadar tambahan, melainkan sebuah testimoni tentang bagaimana arsitektur modern dapat menghormati alam, berdialog dengan masa lalu, dan berfungsi sebagai sarana relaksasi.Dipisahkan oleh kontur dan dihubungkan oleh sebuah “Flying Bridge” penuh makna, karya TWS di Bumi Kinar (disebut Skylight Villas) bukanlah sekadar tambahan, melainkan sebuah testimoni tentang bagaimana arsitektur modern dapat menghormati alam, berdialog dengan masa lalu, dan berfungsi sebagai sarana relaksasi.
“Flying Bridge” yang menghubungkan keduanya berfungsi lebih dari sekadar jalur pejalan kaki; ia adalah simbol fisik dari koneksi antara masa lalu dan masa kini.
Filosofi di Balik Arsitek: Identitas di Atas Gaya
Langkah pertama pemilik Bumi Kinar mendefinisikan keseluruhan proyek. Mereka sengaja tidak mencari arsitek “ternama” yang gayanya sudah dikenal publik. “Bumi Kinar sengaja tidak ingin menjadi salah satu ciri khas desain atau gaya dari arsitek ternama,” ungkap Andru. Mereka menghindari skenario ketika pengunjung akan mengidentifikasi bangunan dengan gaya khas arsiteknya, seperti Frank Lloyd Wright atau bahkan Hadiprana sendiri.
Sebaliknya, mereka memilih TWS & Partners karena TWS “dapat mewujudkan keinginan owner untuk merancang suatu bangunan yang membuat pengunjung akan mengidentifikasi bangunan dengan ciri khas Bumi Kinar itu sendiri dan bukan ciri khas gaya arsiteknya”.
Brief-nya jelas: membangun sesuatu yang ikonis, tapi tetap “menjaga kelestarian dengan alam sekitarnya dengan niat untuk menghormati tanah”.
Purifikasi di Masa Pandemi
Proyek Skylight lahir dari momen refleksi global yang unik: pandemi COVID-19. Pada akhir tahun 2020, arsitek Tonny Wirawan Suriadjaja dari TWS dihubungi oleh Andru, yang ingin mewujudkan mimpinya untuk sebuah healing retreat. Visi “healing” ini menjadi fondasi konseptual. Tonny kemudian menyarankan konsep daun teratai, yang dikenal dengan nama “lian hua“.
Bagi Tonny, “lian hua” adalah simbol purifikasi—filosofi tentang bagaimana air berlumpur diubah oleh tanaman menjadi embun pagi yang murni, sebuah metafora untuk “sesuatu yang broken menjadi healed“. Konsep ini selaras sempurna dengan visi Andru yang “ingin membuat sebuah tempat yang dapat memberikan kedamaian dan keharmonisan spiritual”.
Mandat Utama Arsitektur Rumah Panggung
Dari semua visi desain, ada satu mandat yang tidak dapat ditawar: “Mitigasi kerusakan/jejak (footprint) daripada bangunan kepada alam terutama tanah”. Tantangan terbesar di Bumi Kinar adalah kontur lahannya yang curam. Alih-alih melakukan cut-and-fill besar-besaran, Andru dan Tonny sepakat pada pendekatan yang jauh lebih sulit: membuat arsitektur itu “mengambang” (floating).
Secara spesifik, mereka memilih desain “rumah panggung” (stilt house). Seluruh bangunan, mulai dari clubhouse hingga delapan Skylight Villas, berdiri di atas “kaki-kaki” atau stilts. Filosofi ini sejalan dengan keinginian Andru, yang menyatakan bahwa mereka tidak ingin mengubah tata letak lahan atau menebang pohon besar.
Pendekatan “floating” ini memberikan sejumlah keuntungan teknis yang brilian seperti:
Penghormatan Ekologis: Dengan tidak menyentuh tanah, intervensi terhadap bumi diminimalkan.
Pendinginan Alami: Ruang kolong di bawah bangunan memungkinkan angin untuk berhembus masuk, menciptakan natural cooling system yang mendorong udara panas naik dan keluar.
Persembunyian Utilitas: Area di bawah bangunan juga menjadi lokasi yang pas untuk menyimpan elemen utilitas yang mengganggu secara visual —seperti unit AC outdoor dan pipa MEP.
Saat selesai dibangun, tim lanskap Bumi Kinar berinisiatif untuk “menyembunyikan” elemen utilitas yang masih tetap kelihatan. Mereka bekerja keras untuk menutupnya dengan alami menggunakan tanaman yang dirawat di sekelilingnya.
Desain atapnya sendiri merupakan interpretasi dari konsep “lian hua“. TWS tidak ingin meniru bentuk daun secara harfiah, melainkan mengejar “rasa”-nya. Hasilnya adalah atap yang bergelombang, meniru efek riak air (ripple effect).
Desain Sebagai Orkestrasi Alam
Pendekatan desain yang “bersahabat dengan alam” menghasilkan bonus yang bahkan tidak direncanakan oleh sang pemilik maupun arsitek. Karena setiap vila ditempatkan mengikuti kontur asli, orientasi dan ketinggian mereka sedikit berbeda satu sama lain. Hasilnya? Setiap vila memiliki soundscape yang unik.
“Favorit saya, ternyata suaranya beda-beda dari satu vila ke vila lain,” ujar Tonny. Beberapa vila mendengar gemercik sungai yang lebih keras, sementara yang lain mendengar suara air terjun yang lebih lembut. Arsitektur Skylight secara tidak sengaja, telah menjadi instrumen yang mengorkestrasikan suara alam.
Fitur desain yang paling sering beredar di media sosial—bagian ceiling kamar tidur yang bisa dibuka dan menampilkan pemandangan langit—juga merupakan hasil pemikiran ulang konseptual. Andru dan Wiwied Muljana yang juga mengarahkan seluruh desain interior di Bumi Kinar, menginginkan penyerapan cahaya alami yang maksimal.
Di siang hari tamu mendapatkan paparan sinar matahari, sementara di malam hari dapat tidur dengan nyaman di bawah romansa kelip bintang. Fitur unik ini jugalah yang melahirkan nama “Skylight” yang berarti cahaya dari langit.
Desain Interior: Manifesto Talenta Indonesia
Jika arsitektur adalah kerangka konseptualnya, maka desain interior adalah jiwa yang menghidupkannya. Desain interior seluruh properti Bumi Kinar dikurasi oleh Wiwied Muljana. Impiannya sederhana tetapi kuat: properti ini harus menjadi manifesto talenta Indonesia.
“Semuanya dari Indonesia,” tegasnya. “Itu sangat penting… karena Indonesia juga memiliki banyak bakat, terutama kreativitas”.
Filosofi ini diterapkan secara total. Mulai dari sofa, karpet, hingga perlengkapan kamar mandi (amenities), semuanya bersumber dan dibuat oleh perajin dan perusahaan Indonesia. Tujuannya adalah untuk menunjukkan kepada tamu—dan kepada orang Indonesia sendiri—kualitas dan kebanggaan pada karya lokal.
Bumi Kinar adalah sebuah studi kasus yang langka dalam harmoni arsitektur. Properti ini berhasil menjadi dua hal sekaligus: sebuah penghormatan pada warisan (Heritage) dan sebuah pernyataan modern yang berani (Skylight).
Fasilitas Bumi Kinar
Selain dipukau dari sisi desain interior dan arsitekturnya, tamu yang menginap di Bumi Kinar tentu saja akan dimanjakan oleh beragam fasilitas. Kedua restorannya, Jingga dan Lokal Kafe menawarkan suasana bersantap yang berbeda, tapi keduanya memamerkan keahlian olah kuliner dari chef lokal berbakat. Lokal Kafe tepat untuk sarapan dan afternoon snack yang santai, sementara tata cahaya nan syahdu di Jingga menjadikannya tempat yang spesial untuk makan malam.
Kedua restoran juga memiliki akses kolam renang yang dengan pemandangan yang berbeda. Berenang di tepi Lokal Kafe yang berada di area Heritage kamu merasa seperti sedang berkunjung ke vila keluarga, warm and cozy. Di sisi lain, berenang di kolam yang berbatasan dengan Jingga menawarkan kesegaran baru lewat pemandangan alamnya.
Bangunan utama yang menyambut seluruh tamu yang datang ke area Skylight menyimpan berbagai ruang untuk dieksplorasi. Ada sebuah ruang galeri, yang mungkin kedengaran tidak asing untuk resort yang berada di Ubud, tapi komitmen untuk mendukung seniman muda akan bergaung dari ruangan ini.
Melangkah lebih dalam kamu akan bertemu dengan sebuah infinity pond yang membuka arah ke berbagai ruangan. Tidak ketinggalan ruang perpustakaan. Sebuah sentuhan personal yang menyimpan koleksi buku pribadi keluarga yang dapat dinikmati. Mulai dari tentang sneakers hingga sejarah, semua buku dapat kamu temukan di sini. Di atasnya terdapat area rooftop yang menampilkan pemandangan memukau seluruh area Skylight.
Di bawahnya terdapat Jingga Restaurant & Bar dan kolam renang setengah melingkarnya, dan di lantai dasar terdapat spa. Semuanya dirancang untuk melengkapi pengalaman menginap di Bumi Kinar yang spesial dan mengembalikan keseimbangan dalam hidup. You’ll go home rejuvenated and refreshed. We did.
Keterangan Proyek
- Arsitek: TWS Architect
- Kurasi Desain Interior: Wiwied Muljana
- Kontraktor: Total Bangun Persada
- Lokasi: Ubud, Bali, Indonesia
Simak artikel lainnya seputar proyek interior dan arsitektur di sini.