Kursi Ampas Kopi Hingga Meja Sangkar Indonesia di Salone Satellite

Setelah perjalanan panjang yang dipenuhi dedikasi dan konsistensi, empat desainer produk muda Indonesia kini tampil di salah satu panggung paling prestisius di dunia desain. Cynthia Margareth, Frans Sihombing, Cokorda Suryanata, dan Zulyo Kumara terpilih untuk berpartisipasi dalam Salone Satellite 2026 yang berlangsung pada 21–27 April 2026 di Milan, Italia.

Salone Satellite. Sumber foto: salonemilano.it/Ludovica Mangini

Proses kurasi ajang ini dikenal ketat. Untuk menjadi bagian dari Salone Satellite, tidak cukup mengandalkan hasil akhir, tetapi juga konsistensi berkarya, kedalaman eksplorasi artistik, serta ketekunan dalam membangun praktik desain menjadi faktor krusial. Lebih dari sekadar pencapaian personal, partisipasi keempat desainer ini menandai kematangan ekosistem desain Indonesia yang semakin terstruktur dan kompetitif. Karya-karya yang mereka hadirkan mencerminkan perpaduan antara kearifan lokal dan pendekatan kontemporer, sebuah narasi desain yang relevan secara global sekaligus memiliki identitas yang kuat.

Keberhasilan ini tidak hanya lahir dari upaya individu semata, tetapi juga didukung oleh sinergi kelembagaan yang semakin solid. Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif bersama Forum Desain Furnitur Indonesia di bawah naungan Aliansi Desain Produk Industri Indonesia turut memberikan pendampingan strategis, akses jejaring internasional, serta dukungan manajerial yang memperkuat kesiapan para desainer ini untuk tampil di kancah global.

Para Desainer dan Karya Mereka

Cynthia Margareth, Mergrath Design

Di Salone Satellite, Cynthia Margareth mempersembahkan Crafting Contours di Booth E29, Pavilion 7. Koleksi ini mengeksplorasi lekukan halus dan bentuk-bentuk yang terus berkembang di alam sebagai dasar penciptaan furnitur, lampu, dan berbagai objek. Setiap karya menerjemahkan ritme tersebut melalui material, proporsi, dan keahlian tangan.

Karya dari Cynthia Margareth di Salone Satellite. Sumber foto: Dokumentasi Mergrath Design

Salah satu karya yang ditampilkan adalah Kambra Side Table, yang terinspirasi dari tebing pantai yang terbentuk oleh erosi dan waktu. Siluetnya menangkap kesan pahatan yang berlangsung perlahan, mengubah lanskap alam menjadi objek yang ringkas dan bernilai artistik. Permukaannya dilapisi logam cair yang telah teroksidasi, sehingga tampilannya akan terus berubah seiring waktu. Karya ini menghadirkan gagasan tentang patina sebagai jejak material terhadap lingkungannya.

Selain itu, terdapat Coral Chair yang merujuk pada struktur organik terumbu karang. Anyaman melingkar pada sandaran punggungnya membentuk ritme visual yang khas, sekaligus berfungsi sebagai elemen struktural dan ekspresif. Pola ini tidak sekadar dekoratif, melainkan menjadi penentu karakter keseluruhan objek.

Frans Sihombing & Cokorda Suryanata, Studio Banda

Frans Sihombing dan Cokorda Suryanata dari Studio Banda. Sumber foto: Dokumentasi Studio Banda

Frans Sihombing dan Cokorda Suryanata tergabung dalam Studio Banda, sebuah studio desain industri berbasis di Bali yang mengeksplorasi wilayah antara yang terukur dan yang tak terduga. Dengan kepekaan terhadap material dan rasa ingin tahu yang mendalam terhadap proses, Studio Banda mendekonstruksi norma-norma industri dengan mengangkat kembali kerajinan lokal dan teknik fabrikasi daerah untuk membayangkan masa depan baru dalam budaya material.

Produk pertama mereka adalah Alas Lamp, sebuah lampu yang menunjukan bisa seberapa lentur material yang pada dasarnya kaku bisa dibuat. Lampu ini terinspirasi dari cara kerja tirai gulung, mulai dari cara lipatannya, potongan-potongannya, cara menggulung, hingga cara mempertahankan bentuknya. Bedanya, kalau tirai mengatur cahaya dengan cara menghalanginya, Alas justru menjadi sumber cahayanya sendiri. Saat lampunya mati, Alas terlihat seperti kayu solid biasa. Saat dinyalakan, veneer kayunya menjadi sedikit tembus cahaya dan titik-titik lampu LED di baliknya mulai terlihat. Seluruh sistem kabel listrik tersembunyi rapi di dalam struktur kayu yang bisa ditekuk, semuanya dibuat dengan tangan.

Produk Alas Lamp dan Espresso Chair & Stool dari Studio Banda. Sumber foto: Dokumentasi Studio Banda

Produk kedua adalah Espresso Chair & Stool, kursi yang terbuat dari ampas kopi. Lahir dari masalah yang sangat khas Indonesia sebagai salah satu produsen kopi terbesar di dunia: ampas kopi dihasilkan dalam jumlah besar setiap harinya, namun hampir semuanya dibuang begitu saja. Proses pembuatannya terinspirasi dari cara kerja mesin espresso, di mana tekanan diberikan pada bahan organik untuk menghasilkan sesuatu yang padat, seragam, dan kuat secara struktur. Hasilnya adalah C-Foam, sebuah material komposit yang karakternya mirip gabus, cukup keras, sedikit mengikuti berat badan saat diduduki, dan stabil saat digunakan. Rangkanya terbuat dari baja stainless yang dilas dengan tangan. Kursi ini bisa dilipat rata, ditumpuk, dan dirakit hanya dengan alat sederhana, dengan satu detail kecil yang sering diabaikan pada kursi umumnya: tempat menggantung tas yang diintegrasikan langsung ke sandaran belakang.

Zulyo Kumara, Zulyo Kumara Studio

Zulyo Kumara adalah seorang desainer produk yang terinspirasi oleh material dan digerakkan oleh proses. Dengan filosofi “mengembalikan sentuhan manusia ke dalam desain”, ia berfokus pada pendekatan yang menyeluruh, memadukan berbagai konteks budaya, menggabungkan unsur seni dan cara berpikir desain, serta mencerminkan nilai-nilai budaya Indonesia yang diseimbangkan dengan modernitas. Karyanya telah dipamerkan di berbagai ajang internasional, antara lain Salone del Mobile Milan, Singapore Design Week, Hebei Design Week China, Index New Delhi India, dan Sarawak Design Week Malaysia.

Karya dari Zulyo Kumara di di Salone Satellite. Sumber foto: Dokumentasi Zulyo Kumara Studio

Dalam ajang ini, Zulyo membawa Sangkar Rattan Coffee Table sebagai karya utama. Sangkar berarti kandang burung. Koleksi ini hadir dengan pesan yang dalam: sama seperti kandang yang melindungi burung dari predator, cuaca buruk, dan berbagai bahaya, kita pun harus menjaga seni kerajinan tangan dari ancaman kemajuan teknologi yang terus menggerus keberadaannya. Selain itu, ia juga memamerkan Luwes Rattan Bench dan Kaya Chair sebagai bagian dari koleksi yang ia hadirkan.

Tentang Salone Satellite

Salone Satellite sendiri merupakan program bergengsi dalam Salone del Mobile Milano, pameran furnitur terbesar di dunia, yang didedikasikan khusus untuk desainer muda berbakat berusia di bawah 35 tahun. Ajang ini menjadi wadah bagi kreator muda global untuk memamerkan prototipe produk inovatif, menonjolkan craftsmanship, serta membangun koneksi langsung dengan industri desain internasional. Kehadiran empat desainer Indonesia di dalamnya, dengan demikian, bukan pencapaian kecil.

Melalui kehadiran keempat desainer Indonesia di Salone Satellite 2026, Indonesia tidak hanya mengirimkan perwakilan, tetapi juga menyampaikan pernyataan bahwa praktik desain di tanah air telah berkembang melampaui batas domestik dan siap berkontribusi dalam percakapan desain internasional. Momen ini menjadi titik penting, bukan hanya bagi perjalanan karier para desainer tersebut, tetapi juga sebagai sumber inspirasi bagi generasi baru yang tengah membangun masa depan desain Indonesia.

SHARE :
WhatsApp
Facebook
Twitter
Email
Artikel Lainnya