Di Balik Desain Trianzani Sulshi

Bagi Trianzani Sulshi, arsitektur tidak pernah benar-benar dimulai dari bentuk. Ia justru lebih tertarik pada bagaimana material bekerja, bagaimana ruang direkam tubuh manusia, hingga bagaimana keseharian yang sering dianggap biasa sebenarnya menyimpan pengetahuan spasial yang kompleks.

Cara pandang itu terbentuk dari perjalanan yang cukup panjang. Setelah lulus dari Universitas Katolik Parahyangan, Zani, begitu ia biasa disapa, bekerja di Singapura. Kemudian ia melanjutkan studi di Architectural Association School of Architecture, lalu sempat bekerja di India sebelum akhirnya kembali ke Indonesia setelah hampir delapan tahun berada di luar negeri. Pengalaman berpindah konteks itulah yang perlahan membentuk cara ia membaca ruang, bukan hanya sebagai objek visual, tetapi sebagai hasil dialog antara material, manusia, budaya, dan lingkungan di sekitarnya.

Trianzani Sulshi. Foto: Dok. Trianzani Sulshi

Simak perbincangan Written dengan Trianzani Sulshi. 

Kacamata Asing Untuk Melihat Indonesia

Written: Banyak cara pandang Anda terhadap ruang terasa sangat observasional. Itu terbentuk dari pengalaman di luar Indonesia? 

Trianzani Sulshi (TS): Sepertinya begitu, karena saya hampir delapan tahun di luar Indonesia. Saya kerja di Singapura, lanjut sekolah di UK, lalu sempat kerja di India sebelum akhirnya balik lagi ke Indonesia. Jadi sebenarnya saya cukup lama melihat Indonesia dari jarak jauh. Dan ketika jauh, kita jadi bisa membaca hal-hal yang sebelumnya terasa biasa saja dengan lebih sadar. Saya juga jadi tidak punya referensi arsitektur Indonesia yang terlalu spesifik karena memang tidak pernah bekerja di kantor arsitek lokal sebelumnya. Jadi mungkin cara melihat saya terbentuk dari campuran pengalaman luar itu.

Booth Serumpun di JIA Curated. Foto: Dok. Trianzani Sulshi.

Written: Lalu bagian mana yang paling berpengaruh dalam perspektif Anda sebagai arsitek hari ini?

TS: India sih salah satunya yang paling besar pengaruhnya. Waktu pertama kali sampai di Mumbai, saya cukup kaget karena semuanya sangat intens, visualnya, suaranya, baunya, ritmenya. Tapi justru di situ saya belajar menemukan keindahan dari keseharian. Saya mulai memperhatikan warna-warna di pasar bunga, tekstur ruang informal, sampai bagaimana orang membangun sesuatu dengan sangat spontan tapi tetap fungsional. Dari situ saya sadar bahwa banyak pengetahuan spasial sebenarnya lahir dari keseharian, bukan cuma dari ruang formal atau bangunan besar.

Written: Di titik mana ketertarikan terhadap material mulai terbentuk? 

TS: Mungkin itu dipengaruhi ketika saya di Hooke Park. Fokus studi saya design and make, dan itu membuat saya paham bahwa arsitek harus memahami material yang akan digunakan. Material bukanlah benda mati, tapi material punya perilaku, punya respon terhadap cuaca, terhadap manusia, terhadap lingkungan di sekitarnya. Kalau kita pakai kayu misalnya, dia memuai, menyusut, bergerak, bahkan bunyinya berubah. Dan buat saya itu menarik, karena ada dialog yang terjadi antara material, ruang, dan tubuh manusia.

Written: Ketertarikan Anda terhadap material juga sering berkaitan dengan bagaimana manusia mengalami ruang. Seberapa penting hubungan itu dalam proses mendesain? 

TS: Menurut saya sangat penting. Karena material itu bukan cuma soal struktur atau konstruksi, tapi juga tentang bagaimana tubuh manusia merasakan ruang. Saya rasa tubuh kita sebenarnya menyimpan memory terhadap ruang dan material sejak kecil. Karena dari dalam kandungan kita sudah ada di sebuah ruang kan? Ceiling rendah bisa bikin orang merasa lebih tertekan, sementara ruang yang tinggi mungkin membuat kita merasa terkoneksi dengan sesuatu yang lebih besar. Tekstur kayu, transparansi kain, cahaya alami, bahkan suara material ketika disentuh atau diinjak itu semuanya memengaruhi atmosfer ruang dan pengalaman emosional seseorang.

Ketika Material Menjadi Titik Awal Desain

Written: Apakah cara Anda yang material-driven juga terbawa ke workflow Studio Aliri

TS: Betul, makanya kami akan memulai proses dengan membiarkan klien bercerita tentang kebutuhannya lewat form. Dari situ bisa jadi filter cara berpikir dan keseriusan mereka terhadap proses design. Setelah itu baru observasi site, diskusi internal, lalu mulai melihat kemungkinan material dan konstruksinya seperti apa. Jadi dari awal kami memang mencoba memahami proyeknya secara cukup dekat.

Salah satu desain Trianzani untuk sebuah proyek di Lombok. Foto: Dok. Trianzani Sulshi.

Written: Apakah itu juga alasan kenapa Studio Aliri sempat banyak mengerjakan design and build

TS: Iya. Karena waktu design and build, jarak antara arsitek, material, tukang, dan klien itu jadi sangat dekat. Menurut saya kedekatan itu penting, apalagi ketika budget proyeknya kecil. Arsitek jadi benar-benar paham bagaimana sesuatu dikerjakan di lapangan dan keputusan desainnya bisa lebih realistis. Dan dari situ juga saya belajar bahwa banyak kualitas ruang sebenarnya lahir dari proses-proses kecil yang sering tidak terlihat orang.

Unseen Blueprint dan Hal-hal Di Balik Sebuah Desain

Written: Apakah Anda bisa berbagi unseen blueprint seorang Trianzani Sulshi?

TS: Dulu saya sempat ikut cukup jauh dalam tahap awal pengembangan Taman Literasi Jakarta. Waktu itu kami diajak untuk ikut mengerjakan preliminary design dan feasibility study-nya. Saya meeting beberapa kali dengan Pak Anies (Baswedan), MRT, Dinas Pertamanan, sampai tim-tim lain yang terkait dengan transportasi dan ruang publik di area itu. Jadi proses risetnya sebenarnya cukup panjang.

Tapi di tengah jalan prosesnya berhenti di kami lalu dilanjutkan pihak lain. Dan ketika saya lihat hasil jadinya, banyak approach awal dari kami yang masih terasa. Tidak berubah terlalu jauh sebenarnya. Dari situ saya sadar bahwa di arsitektur memang ada banyak layer pekerjaan yang akhirnya tidak terlihat publik. Orang biasanya cuma lihat hasil akhirnya saja.

Desain proyek hunian Trianzani Sulshi. Foto: Dok. Trianzani Sulshi

Written: Apa yang membekas dari pengalaman itu? 

TS: Mungkin saya jadi makin sadar bahwa arsitektur itu sangat kompleks dan politis. Ada banyak kepentingan, perubahan arah, dan dinamika di belakang sebuah proyek publik. Dan kadang sebagai arsitek kita harus menerima bahwa proses desain itu tidak selalu berjalan linear atau ideal. Tapi pengalaman itu juga membuat saya semakin menghargai pentingnya proses riset dan pemikiran awal, walaupun akhirnya tidak selalu terlihat di permukaan.

Written: Apakah pengalaman seperti itu memengaruhi cara Anda menjaga idealisme dalam praktik? 

TS: Lebih ke bagaimana kita tetap punya batas terhadap hal-hal yang menurut kita tidak benar. Misalnya proyek yang jelas-jelas merusak konteks kota, area hijau yang dipaksa jadi bangunan, atau sesuatu yang dampaknya buruk buat lingkungan sekitar. Karena menurut saya keputusan-keputusan kecil dalam arsitektur tetap akan meninggalkan dampak ke lingkungan dan orang-orang yang hidup di dalamnya.

SHARE :
WhatsApp
Facebook
Twitter
Email
Artikel Lainnya