Mengenal Eugenio Hendro, desainer produk Indonesia yang membawa desain furnitur lokal ke panggung dunia lewat emosi, visi, dan kolaborasi desain UMKM.
Bagi Eugenio Hendro, mendesain bukan sekadar menciptakan benda fungsional, melainkan merupakan sebuah medium untuk menerjemahkan emosi manusia dan identitas bangsa. Lulusan Desain Produk Institut Teknologi Bandung (ITB) ini memulai karier profesionalnya pada 2008 dengan sebuah cerita yang unik—ia melamar ke sebuah perusahaan yang ia kira berlokasi di Dubai, tapi ternyata membawanya ke pabrik Box Living di Cileungsi, Bogor.
Terbiasa menangani tuntutan produksi massal, matanya pun terbuka luas saat dikirim ke pameran internasional di Singapura hingga IMM Cologne. Pengalaman berharga ini menyadarkannya bahwa karya para desainer Asia membutuhkan identitas serta nilai yang autentik agar bisa diakui secara sejajar di panggung desain dunia.
Karier desainer produk Indonesia ini pun terus berevolusi melewati berbagai fase pencarian jati diri yang mendewasakan. Eugenio kini diakui sebagai salah satu nama besar di balik deretan karya desain furnitur lokal dan ruang yang prestisius. Ia menjadi figur pengarah kreatif untuk koleksi jenama komersial seperti Bika, Vivere, Arbor & Troy, hingga Iwan Tirta.
Menariknya, walau kakinya menjejak kuat di industri komersial, hati Eugenio tak pernah lepas dari kolaborasi desain UMKM. Bersama para perajin di berbagai daerah, ia membuktikan bahwa desain adalah salah satu alat pemberdayaan yang mampu menggerakkan denyut nadi ekonomi komunitas.
Simak cuplikan obrolan Written dengan Eugenio Hendro berikut.
Mencari Akar Keindonesiaan dan Sentuhan Sentimental
Written: Dalam karya-karya Eugenio Hendro, identitas “Indonesia” selalu menjadi napas utama. Bagaimana kamu mendefinisikan Indonesia?
Eugenio Hendro: Indonesia itu ibarat sumber daya dan sumber inspirasi yang tidak ada habisnya karena sifatnya yang sangat multifaset. Dulu saya sempat berpikir keindonesiaan adalah bentuk fisiknya saja, tapi semua asumsi itu perlahan terpatahkan. Bagi saya sekarang, Indonesia adalah human emotion-nya, intensinya, dan kebijaksanaan masa lalunya. Dari kekaguman ini, kami (Eugenio Hendro Design Studio) berusaha mendesain sambil terus belajar tentang Indonesia. Saya menemukan banyak sekali hal yang menginspirasi, bahkan seakan tidak ada habisnya, ketika mempelajari identitas bangsa ini. Oleh karena itu, mungkin kutipan yang paling menggambarkan desain saya saat ini adalah we design for the future by learning from the past.
Written: Apakah itu berarti inspirasi desain bisa datang dari hal-hal keseharian yang sangat sederhana?
Eugenio Hendro: Betul, pencarian keindonesiaan saya digali dari keseharian, bukan sekadar filosofi yang sangat berat. Inspirasi saya bisa lahir dari melihat telur asin, tikar, atau bahkan soto ayam yang kemudian dijadikan sebuah produk. Selama ini saya belajar bahwa semakin gampang kita menjelaskan sesuatu ke market, maka produknya juga akan semakin gampang dimengerti dan diterima oleh masyarakat sebagai penggunanya. Tugas saya adalah sebagai penyampai pesan melalui medium bentuk.
Written: Bagaimana proses kreatif seorang Eugenio ketika mengeksekusi ide-ide tersebut menjadi sebuah karya?
Eugenio Hendro: Proses mendesain saya banyak dieksekusi di alam bawah sadar, terutama untuk mencari inspirasi. Kebanyakan terjadi ketika travelling, saat saya menikmati apa yang ada di sekitar. Atau bisa juga terjadi saat di mobil, di kereta, bahkan ketika tidur. Karena di momen tersebut saya betul-betul hadir untuk diri saya tanpa distraksi. Justru kalau saya mencari stimuli dari internet, rasanya “tumpul” karena tidak diolah dulu secara pribadi. Bahkan ketika ada inspirasi, sengaja saya “tidurkan” dulu, dan saat bangun saya sudah bisa langsung membuat sketsanya.
Written: Sempat menyebut ingin menjadi “Alexander McQueen”-nya desain produk. Apa yang membuat sosoknya begitu spesial?
Eugenio Hendro: Garis desain McQueen itu poetic dan raw, tapi juga berani dan tegas. Di industri desain produk, orang biasanya selalu bicara mengenai fungsi, efisiensi, dan angka yang kaku. Menurut saya, hal-hal baku itu justru membuat desain produk menjadi dingin, padahal kita juga butuh sentuhan sentimental yang bermain dengan rasa dan mimpi.
“We design for the future by learning from the past.”
Kolaborasi Multidimensi: Dari Brand Mewah hingga Perajin Lokal
Written: Bagaimana menyeimbangkan idealisme dengan napas jenama komersial seperti Bika, Vivere, hingga Arbor & Troy?
Eugenio Hendro: Setiap kolaborasi pasti memiliki visi yang berbeda-beda. Contohnya Bika, mereka menginginkan barang luxurious yang tidak ada di tempat lain, dan bisa bersaing dengan produk dari Eropa meskipun buatan lokal. Brief ini kemudian menjadi arah kemana saya harus bergerak. Misalnya mengemas keindonesiaan dengan visual internasional, atau menggali produk-produk lawas jadi sesuatu yang lebih kontemporer. Dari arahan tadi muncul sebuah kursi makan modern yang terinspirasi dari tusuk konde Solo, atau steger bambu yang menjadi meja aneka warna. Atau di brand lain gaya kelokalan bisa tetap bersanding dengan estetika modern. Semua mungkin asal kita bisa memahami DNA dari tiap brand, target pasar, dan kesukaan mereka.
Written: Di sisi lain, Eugenio juga dikenal sangat aktif berkolaborasi dengan UMKM dan artisan lokal di daerah. Apakah pendekatannya terasa sangat kontras?
Eugenio Hendro: Bekerja sama dengan UMKM adalah hal yang saya sukai meskipun dunianya cukup berbeda. Justru dari perbedaan itu saya belajar tentang hidup dan manusia. Jika di jenama besar saya dibiarkan berekspresi dengan bebas, saat bersama UMKM saya harus memastikan desain saya benar-benar bisa dipakai dan dijalankan oleh mereka. Karena tiap keputusan desain akan mempengaruhi kehidupan mereka. Membuat produk anyaman yang cantik tidak sulit, namun menghasilkan produk anyaman yang bisa menghidupi seluruh desa dan menginspirasi generasi muda lokal, itulah yang harus dilakukan. Di sini saya benar-benar merasa desain bisa berguna bagi kehidupan di Indonesia.
Written: Adakah momen yang paling menyentuh saat bekerja berdampingan dengan para perajin di daerah?
Eugenio Hendro: Ada, saat saya membantu penenun gedog di Tuban. Saya bertukar ilmu dengan mereka untuk mengatasi ketidaksempurnaan benang dan warna-warna alam sebagai sebuah kekuatan produk mereka. Setelah berkali-kali mencoba selama enam bulan, akhirnya hasil kainnya bagus. Di situ saya menyarankan pada mereka untuk mematenkan namanya. Setelah dijelaskan oleh Kementerian Perdagangan, si ibu malah menolak dan bilang, “Nanti kalau saya patenkan, teman-teman saya nggak bisa ikut makan.” Saya merasa ketampar mendengarnya. Sesuatu yang kita anggap sudah biasa, sebagai alat proteksi diri dan kekayaan intelektual di industri ternyata tidak mereka butuhkan. Saya lupa bahwa ini adalah craft, sesuatu yang lahir dengan mereka, di tanah mereka, dan cara hidup mereka.
Regenerasi Profesi dan Tantangan Era AI
Written: Mengapa isu regenerasi profesi desainer produk begitu mendesak?
Eugenio Hendro: Industri kita butuh asupan darah baru agar rantainya tidak putus di tengah jalan. Sering kali, lulusan mahasiswa desain produk kebingungan harus melangkah ke mana dan akhirnya justru keluar dari profesinya. Memang ada banyak faktor, tapi saya merasa harus survive untuk membuktikan kepada generasi di bawah saya bahwa kalian bisa hidup dari profesi ini. Profesi yang mungkin kalah gaungnya jika dibanding desainer interior atau arsitek. Sehingga kemudian saya merasa selain mengibarkan keindonesiaan, saya juga punya tanggung jawab lain yakni memastikan ada regenerasi desainer produk Indonesia.
Written: Hal ini juga yang menjadi latar belakang lahirnya Millimeter Manifesto?
Eugenio Hendro: Betul. Peran desainer produk sering kali tidak terlihat di industri, bahkan arsitek atau desainer interior pun sering kali ikut merancang furnitur. Millimeter Manifesto dibentuk sebagai wadah desainer produk atau studio desain yang sebenarnya memiliki visi berbeda namun punya tujuan yang sama yakni mengembangkan ekosistem desain Indonesia. Kami ingin berupaya menerapkan cara kerja dan etika bisnis yang jelas, sehingga jadi salah satu ruang edukasi untuk regenerasi desainer produk Indonesia.
Written: Di dalam Eugenio Hendro Design Studio sendiri, bagaimana cara mendidik dan membimbing desainer muda agar mereka siap terjun ke industri?
Eugenio Hendro: Saya sebenarnya masih mencari sistem yang pas untuk ini. Menerima brief di awal sudah pasti, namun yang harus terus diasah adalah kepekaan, kemampuan mengolah rasa dan memahami karakter pasar. Kebanyakan yang saya temui menggantungkan riset lewat AI, seakan lupa bahwa mereka adalah manusia yang bisa mengolah rasa dengan merasakan, melihat, menyentuh, berpikir, dan yang sering dilupakan yakni bertanya. Sehingga kemudian saya sering mendorong merekaa untuk keluar studio, ke showroom, acara desain, ikut kegiatan budaya, hingga pameran atau agenda sosial lainnya. Apakah ini cara terbaik? Saya masih belum tahu, tapi karena cara tersebut berhasil pada diri saya, maka saya coba duplikasi.
Written: Perkembangan Artificial Intelligence (AI) saat ini tak terbendung. Bagaimana kamu melihat fenomena ini di kalangan desainer muda?
Eugenio Hendro: AI memang sangat memangkas waktu untuk kebutuhan data, tapi saya jauh lebih mengkhawatirkan sisi kualitas manusianya. Tim saya bahkan pernah sehabis rapat dengan klien, malah mengetik ke AI dan bertanya, “Tolong, ini maksud kliennya apa ya?”. Bukannya mencerna percakapan sendiri, dia justru memercayai AI, dan menurut saya itu mematikan insting serta rasa.
Saya menggunakan AI juga untuk beberapa hal, untuk memangkas waktu bekerja. Namun apabila saya menyerahkan pada AI untuk menjawab pertanyaan-yang saya miliki, setelahnya saya merasa ketagihan apalagi saat terdesak. Dan itu bahaya banget, ketika kita sudah menyerahkan kemampuan berpikir kita pada AI.
Written: Apa dampaknya bagi kreativitas jika ketergantungan ini terus dibiarkan?
Eugenio Hendro: Orang-orang akan semakin malas berpikir kritis dan ketakutan untuk mengambil risiko mencoba eksperimen baru. Kalau kreativitas hanya didorong oleh algoritma yang sama, kehidupan kita akan selalu diarahkan. Ujung-ujungnya, di industri kreatif, semua produk akan menjadi sekadar template yang seragam tanpa ada nilai yang benar-benar baru. Para pelaku industri pun nantinya akan tidak kreatif karena bukan lagi merasa tapi meniru rasa.
Written: Lalu, apa senjata utama desainer untuk bisa melawan arus teknologi instan tersebut?
Eugenio Hendro: Kelemahan AI adalah dia tidak bisa membuat kesalahan yang tidak sengaja. Sebaliknya, produk yang dibuat terlalu lurus, kaku, dan sempurna justru mengecilkan peran rasa yang membuat manusia spesial ketimbang teknologi. Tubuh dan indra manusia butuh merasakan tekstur, ketidaksempurnaan bentuk, dan sesuatu yang dibuat oleh tangan manusia. Sentuhan human feeling inilah yang akan menjadi barang mahal di masa depan.