Finishing sering ditempatkan sebagai tahap akhir dalam sebuah proyek interior. Lapisan terakhir sebelum ruang selesai digunakan. Namun bagi Ferdinand William Widjaja, finishing justru menjadi titik awal untuk memahami bagaimana sebuah ruang bekerja, mulai dari pengalaman pengguna, pengambilan keputusan, hingga bagaimana sebuah proyek dijalankan secara realistis.
Cara berpikir tersebut kemudian berkembang menjadi Colours of Chroma, sebuah brand material dan eksplorasi finishing yang dibangun bersama Stanly Trisna. Di dalamnya, Ferdinand lebih banyak melihat sisi teknis pembacaan problem proyek di lapangan dan decision making, sementara Stanly fokus pada komunikasi dan melihat kebutuhan pasar. Bagi keduanya, Colours of Shroma adalah sebuah pencarian panjang untuk menjawab berbagai persoalan tentang keterbatasan material, iklim di Indonesia, proses instalasi, hingga bagaimana material bisa bekerja lebih realistis terhadap kebutuhan manusia.
Berangkat dari pengalaman sebagai interior project dan finishing consultant, Ferdinand melihat material bukan sekadar elemen estetis, melainkan medium problem solving yang dapat memengaruhi banyak aspek dalam ruang. Finishing bukan sekadar lapisan akhir, tapi bagian dari cara membaca risiko, kenyamanan, durability, maintenance, hingga pengalaman manusia di dalam ruang. Dari perspektif itu praktik dan eksplorasinya berkembang: mempertanyakan standar yang sudah terlalu lama dianggap mutlak, dan mencari kemungkinan baru dari hal-hal yang terlihat familiar.
Simak selengkapnya dalam perbincangan Written bersama Ferdinand William Widjaja.
Ketika Desain Tidak Cukup Menjawab Proyek
Written: Bagaimana menjelaskan peran seorang finishing consultant bagi orang awam?
Ferdinand William Widjaja (FWW): Finishing consultant itu sebenarnya membantu owner membaca proyek dari sisi yang sering terlewat: hasil akhirnya. Banyak orang fokus di desain atau konstruksi, padahal yang nantinya benar-benar dirasakan pengguna justru material, tekstur, pencahayaan yang memantul, hingga bagaimana sebuah ruang terasa saat dipakai sehari-hari.
Seorang konsultan bukan cuma memilih finishing yang “bagus”, tapi membantu menghubungkan desain, budget, timeline, dan realita di lapangan. Karena keputusan finishing itu bisa mempengaruhi kenyamanan, maintenance, durability, bahkan efisiensi struktur dan biaya proyek secara keseluruhan.

Written: Sebagai finishing consultant, bagaimana cara mengatur budget yang baik?
FWW: Saya selalu bilang untuk investasi pada material yang langsung berinteraksi dengan tubuh manusia dan pengalaman sehari-hari. Misal, kursi yang ergonomis, meja dengan material kuat, atau area eye level yang paling sering kita lihat. Selama ini banyak orang yang melihat marmer untuk memberi kesan mewah, dan memang bisa jadi bagian penting dalam desain. Namun bagi saya, kenyamanan bisa tercipta dari bagaimana berbagai elemen finishing bekerja secara seimbang, mulai dari dinding, pencahayaan, tekstur material, hingga pengalaman manusia di dalam ruangan. Tugas penting finishing consultant adalah menyusun prioritas berdasarkan experience kita terhadap ruang, bukan berdasar tampilan visual semata.
Written: Dalam website Anda ada kalimat, “Time is not managed, it is decided.” Maksudnya apa?
FWW: Menurut saya, proyek bukan soal mengatur waktu tapi menentukan prioritas keputusan di tiap fase kerja. Banyak hal yng awalnya dianggap kecil, tapi kemudian di tengah jalan jadi sangat penting bahkan memengaruhi seluruh timeline. Begitu waktu diputuskan, sebenarnya banyak keputusan lain yang terkunci. Dan menurut saya waktu lebih sulit dinegosiasikan dibanding budget. Karena saat owner tidak bisa kompromi soal waktu maka biaya proyek akan ikut naik.
Written: Sedikit mengenai Colours of Chroma, bagaimana awal mulanya?
FWW: Jadi Colours of Chroma dibentuk oleh saya dan Stanly Trisna sebagai buah dari keresahan kami akan banyaknya masalah berulang di proyek. Kami sepakat bahwa finishing seharusnya bukan jadi “lapisan akhir”, tapi bagian dari cara berpikir proyek itu sendiri. Jadi ini bukan hanya sekadar eksplorasi estetika, tapi sebuah jawaban dari permasalahan.
Melihat Material Sebelum Ia Menjadi Bentuk

Written: Colours of Chroma mengolah beragam material, lantas kenapa selalu melihat material sebagai granula?
FWW: Karena semua material sebenarnya berasal dari bentuk kecil-kecil itu, granula. Kita cuma terlalu terbiasa melihat bentuk akhirnya saja: marmer ya keras, metal ya kaku, wallpaper ya ditempel. Padahal material bisa direkayasa terus, misalnya dengan di-engineer ulang, kemudian di-binder, di-press, atau dikembangkan performanya. Dari situ kemungkinan material menjadi sangat luas.
Written: Berarti material tidak seharusnya dibatasi oleh fungsi konvensionalnya?
FWW: Betul, kita terlalu sering dididik lewat kebiasaan industri. “Metal harus begini”, “modul harus sekian ukurannya”, “wallpaper harus begitu”. Padahal belum tentu. Yang harus dipahami itu karakter alaminya, bukan keterbatasannya. Kalau kita tahu sifat dasarnya, kita bisa mencari pendekatan lain untuk mengolahnya. Bagi saya material selalu compliment shape. Bentuknya mungkin dibuat desainer, tapi material yang memberi rasa ke ruang itu.
Written: Dalam eksplorasi material, pasti banyak menemui kegagalan. What keeps you going?
FWW: Banyak sekali gagalnya. Mungkin karena tabiat saya yang suka “mencari masalah”. Semua eksplorasi yang saya lakukan mulai jadi serius ketika pandemi. Saya mulai bermain dengan material cair dan melihat kemungkinan-kemungkinan baru di sana. Tapi dari kegagalan yang saya alami, saya malah belajar bahwa eksplorasi material bukan soal menemukan jawaban cepat, tapi terus memahami karakter dasar material. Intinya saya tidak bisa berdiam diri. Tantangan justru akan membuat saya terus bereksplorasi.
Saat Finishing Menjadi Bahasa Ruang
Written: Menurutmu seberapa besar finishing mempengaruhi pengalaman manusia di dalam ruang?
FWW: Sangat besar. Karena material bisa menciptakan persepsi dan rasa yang berbeda pada tiap orang. Tanpa kita sadari permukaan yang kasar, refleksi cahaya pada tekstur tertentu, atau temperatur material ketika disentuh, turut membentuk pengalaman ruang secara emosional. Jadi finishing itu bukan cuma soal tampilan, tapi bagaimana sebuah ruang bisa menciptakan rasa tertentu bagi manusia yang menggunakannya. Jadi material bukan pelengkap desain saja, tapi menyempurnakan pengalaman ruang itu sendiri.
Written: Bicara tentang sustainability dan circular design sekarang semakin ramai. Dalam konteks material, apakah narasi ini bisa berdampingan dengan desain premium?
FWW: Bisa sekali. Tapi ekspektasinya harus jelas dulu. Luxury itu apa? Eco-friendly itu apa? Karena kadang material yang disebut eco-friendly tapi produksinya malah menghabiskan energi yang jauh lebih besar. Menurut saya sustainability ini harus dilekatkan dengan konteks Indonesia: iklim, cuaca, humidity, dan cara ruang digunakan sehari-hari. Karena material yang berhasil di negara lain belum tentu relevan di sini. Hal yang sama berlaku juga untuk luxury. Harus paham dulu maknanya pada tiap proyek, baru bisa kita memilih finishing yang tepat untuk mencapai makna mewah itu.
Written: Mindset seperti apa yang menurut Anda harus dimiliki mahasiswa desain atau desainer muda hari ini, agar ilmu mereka bisa tetap relevan 5-10 tahun ke depan?
FWW: Jangan terlalu percaya sama kalimat “nggak bisa”. Sekarang bukan zamannya lagi fokus pada keterbatasan material. Yang ada itu kelebihan dan kelemahan material. Alam memang menentukan sifat dasarnya, tapi bagaimana kita mengolahnya itu masih bisa terus dikembangkan. Rasa ingin tahu dan keberanian mempertanyakan kebiasaan lama, akan jauh lebih penting dibanding mengikuti tren industri.