Sejak kerap mengulas berbagai karya desain, baik dari dalam maupun luar negeri, Written percaya bahwa sebuah karya tidak selalu berawal dari ruang studio. Terkadang, ia justru berangkat dari penemuan yang hadir dalam kehidupan sehari-hari. Dari momen ketika seseorang berhenti sejenak, memperhatikan, lalu bertanya tentang makna di balik benda yang ia temui. ROH Table Lamp berangkat dari pengalaman semacam itu, dari sebuah pertemuan tak terduga dengan benda-benda lama yang diam, namun menyimpan cerita panjang tentang kepercayaan, kehidupan, dan kematian.
Dari pengamatan dan proses tersebut, Rêmên, sebuah brand desain asal Indonesia, merumuskan sebuah karya pencahayaan yang tidak hanya berfungsi sebagai sumber cahaya, tetapi juga sebagai medium refleksi. Lampu ini diberi nama ROH, merujuk pada gagasan tentang roh yang tak terlihat, sebuah konsep yang kemudian diterjemahkan secara puitis ke dalam komposisi visual yang dinamis.
Gagasan ROH Table Lamp bermula dari ditemukannya banyak Chinese Burial Coins yang berada di dalam akar sebuah pohon dengan diameter sekitar 1,5 meter di wilayah Jawa. Koin-koin ini merupakan bagian dari tradisi pemakaman Tiongkok, yang secara simbolis digunakan sebagai bekal bagi roh dalam perjalanannya menuju alam setelah kematian. Di balik bentuknya yang kokoh dan megah, koin-koin tersebut memuat makna yang bersifat dual. Ia dapat dimaknai sebagai simbol keberuntungan sekaligus kesialan, kehidupan sekaligus kematian, tergantung dari sudut pandang yang digunakan untuk memaknainya.

Proyek ROH Table Lamp dimulai pada pertengahan tahun 2024, berangkat dari riset kecil mengenai makna di balik koin Cina. Proses ini kemudian berkembang melalui kolaborasi dengan perajin lokal yang tepat, hingga akhirnya lampu ini diluncurkan secara resmi pada Februari 2025. ROH Table Lamp hadir dengan ukuran diameter 220 mm dan tinggi 300 mm, proporsi yang membuatnya tampil sebagai lampu aksen yang hadir dengan tenang tanpa mendominasi ruang.
Di bagian inti lampu, sebuah bola kaca merah yang ditiup tangan ditempatkan sebagai pusat energi. Warna merah dipilih karena dalam budaya Tiongkok ia erat dikaitkan dengan kemakmuran dan keberuntungan. Udara yang mengalir melalui struktur lampu menggerakkan koin-koin di sekitarnya, menciptakan pantulan cahaya berkilau dari bola kaca yang bersinar. Interaksi antara gerakan, material, dan simbolisme ini menghadirkan pengalaman yang tidak hanya bersifat visual, tetapi juga emosional, seolah memori budaya yang telah lama terpendam kembali menemukan ruang untuk berbicara.

Menariknya, pengalaman yang ditawarkan ROH Table Lamp berubah bergantung pada kondisinya. Ketika lampu tidak dinyalakan, kehadiran koin pemakaman menghadirkan nuansa hening yang lekat dengan gagasan kematian dan ketidakberuntungan. Namun saat lampu dinyalakan, cahaya merah perlahan mengisi ruang dan memunculkan identitas roh tersebut. Makna pun bergeser, dari kesan muram menjadi simbol keberuntungan dan kehidupan.
“Penikmat lampu ini dibawa untuk merasakan nuansa ketidakberuntungan yang erat kaitannya dengan kematian ketika lampu tidak dinyalakan. Sedangkan ketika lampu dinyalakan, sebuah identitas roh itu muncul dengan bendera cahaya merah yang mensimbolkan keberuntungan,” ujar Sylviana Putri Soegondo, selaku desainer, kepada Written.
Pergeseran inilah yang menjadi inti dari ROH Table Lamp, bahwa makna tidak pernah bersifat tunggal dan selalu bergerak mengikuti konteks. Cahaya menjadi medium yang mengubah cara kita memandang objek, sekaligus membuka lapisan makna yang berbeda dalam satu bentuk yang sama.
ROH Table Lamp juga mengusung nilai keberlanjutan budaya melalui praktik upcycling. Koin-koin pemakaman Tiongkok digunakan dalam kondisi aslinya, lengkap dengan patina hijau yang terbentuk secara alami oleh waktu. Perlakuan material dilakukan secara minimal untuk menjaga keaslian dan integritas objek, sehingga jejak usia dan sejarah tetap hadir sebagai bagian dari narasi desain.

Keunikan pendekatan konseptual dan kejelasan visual ROH Table Lamp mengantarkannya meraih 2025 LIT Lighting Design Award pada kategori Decorative Accent Lamp. Ajang penghargaan internasional yang diselenggarakan oleh 3C Awards ini diikuti oleh lebih dari 1.000 karya dari 62 negara, menjadikan pencapaian tersebut sebagai pengakuan atas kekuatan narasi dan kualitas desain yang dihadirkan oleh karya ini.
Ke depan, Rêmên berencana memperluas eksplorasi desainnya dengan menggali aspek lain dari warisan budaya melalui pendekatan kontemporer. Saat ini, mereka tengah mengembangkan koleksi baru yang menggabungkan karakter manusia dengan ukiran kayu khas Indonesia, sembari terus menempatkan penceritaan dan kesinambungan budaya sebagai fondasi utama praktik desainnya.
Bagi kamu yang percaya bahwa desain selalu menyimpan cerita, Written mengajak untuk melihat lebih dekat makna di balik setiap karya. Jelajahi beragam ulasan dan perspektif desain lainnya di written.id.