Apa jadinya jika taman hijau di tengah kota Jakarta yang teduh berubah menjadi ruang seni? Mungkin kita sebagai pengunjung akan merasa betah menghabiskan waktu lebih lama di sana. Perasaan itulah yang muncul saat mengunjungi Art Jakarta Gardens 2026 yang berlangsung pada 5–10 Mei 2026 lalu di Hutan Kota by Plataran. Pameran ini menghadirkan pertemuan antara seni rupa kontemporer, lanskap urban Jakarta, dan ragam program publik multidisipliner dalam suasana ruang hijau terbuka di tengah kota.
Sejak pertama kali digelar, Art Jakarta Gardens memang menawarkan pengalaman yang berbeda dibanding pekan seni pada umumnya. Jika banyak pameran seni identik dengan ruang tertutup dan atmosfer formal, Art Jakarta Gardens justru mengajak publik menikmati karya seni dalam suasana yang lebih santai dan terbuka. Tahun ini, sebanyak 26 galeri dari Indonesia dan kawasan Asia turut berpartisipasi. Jumlah partisipasi yang terus bertumbuh sejak edisi perdana menunjukkan meningkatnya antusiasme terhadap format pameran seni luar ruang yang kini semakin diminati.

Beragam Karya di Art Jakarta Gardens
Art Jakarta Gardens 2026 menghadirkan presentasi karya di ruang dalam dan ruang luar yang tersebar di area Hutan Kota by Plataran. Melengkapi presentasi indoor, pekan seni ini kembali menghadirkan segmen utama Sculpture Garden, format khas yang menjadi pembeda Art Jakarta Gardens dari ajang seni lainnya.
Pada edisi tahun ini, Sculpture Garden menampilkan karya-karya yang memancing rasa penasaran sekaligus kekaguman melalui bentuk, skala, dan dialognya dengan lingkungan sekitar. Salah satu karya yang mencuri perhatian adalah T-REX karya Indra Lesmana dari ZEN1 Gallery, berupa patung balon metalik yang menghadirkan kesan futuristik sekaligus reflektif terhadap ruang di sekelilingnya.
Sementara itu, Dian Hardiansyah dari Rachel Gallery menghadirkan Dialog Hijau (Living on Affinity), karya berbahan porselen dan stoneware dengan bentuk-bentuk organik yang terasa kontemplatif. Ada pula Tisna Sanjaya melalui karya Aura Kesenian Aura Capital yang merefleksikan hubungan antara manusia, alam, dan seni. Sedangkan Yunizar dari Gajah Gallery kembali menampilkan karakter visual khasnya lewat karya Turtle, sosok hewan fantastis yang tampak sederhana namun menyimpan banyak tafsir.

Keberadaan karya-karya tersebut tidak hanya memperkaya pengalaman visual, tetapi juga mengubah cara publik menikmati seni. Pengunjung tidak sekadar datang untuk melihat, melainkan berjalan di antara karya, mengamati detail, hingga merasakan bagaimana instalasi-instalasi tersebut menyatu dengan suasana hijau di tengah kota Jakarta.
Program Publik dan Kolaborasi Multidisipliner
Melengkapi pengalaman menikmati karya seni, Art Jakarta Gardens 2026 juga menghadirkan serangkaian program publik multidisipliner. Di antaranya Kisah dari Samudera oleh Agus Nur Amal PM Toh persembahan MTN Seni Budaya, serta Laku Swargaloka oleh Swargaloka yang didukung Bakti Budaya Djarum Foundation. Kehadiran program-program ini memperlihatkan bagaimana Art Jakarta Gardens tidak hanya menjadi ruang pamer seni rupa, tetapi juga ruang pertemuan berbagai disiplin kreatif.
Salah satu kolaborasi yang cukup menarik perhatian tahun ini datang dari iForte Energi bersama desainer Sigit D. Pratama melalui instalasi media baru bertajuk Solagua. Instalasi berbasis panel surya ini menggabungkan energi matahari dan elemen air dalam sebuah sistem yang bergerak ritmis. Kabut air yang muncul secara berkala membersihkan permukaan panel surya, menjaga efisiensinya sekaligus menghadirkan refleksi tentang hubungan antara teknologi dan siklus alam.
Melalui Solagua (Sun and Water), pengunjung diajak melihat energi bukan hanya sebagai komoditas, tetapi sebagai bagian dari kehidupan yang terus bergerak dan saling terhubung.

Sementara itu, TACO merancang ticket box dengan eksplorasi material ACP bernuansa merah yang selaras dengan tema visual Art Jakarta tahun ini. Sebagai penyedia solusi material interior dan eksterior, TACO juga mendukung penyediaan base berbahan HPL untuk seluruh karya patung di segmen Sculpture Garden.
Kolaborasi multidisipliner lainnya hadir melalui Bibit yang bekerja sama dengan seniman asal Yogyakarta, Mangmoel. Dalam presentasi bertajuk Tentacles of Wealth, pengunjung diajak merefleksikan perjalanan investasi melalui karakter gurita yang dikenal adaptif dalam berbagai situasi. Mangmoel menghadirkan Mogus (Monster Gurita Sigarantang), instalasi ikonik berbahan rajutan yang menampilkan visual gurita dengan bentuk ekspresif dan imajinatif. Melalui karya ini, Bibit mencoba menghubungkan karakter gurita yang lentur dan mampu bertahan di tengah perubahan dengan cara masyarakat menghadapi ketidakpastian dalam berinvestasi saat ini.

Dengan ragam karya, instalasi, dan kolaborasi yang dihadirkan tahun ini, Art Jakarta Gardens semakin menegaskan posisinya sebagai ruang seni yang menawarkan pengalaman berbeda di tengah lanskap urban Jakarta. Tidak hanya menghadirkan seni rupa dalam ruang terbuka, pameran ini juga membuka kemungkinan baru tentang bagaimana seni dapat hadir lebih dekat dengan publik, menyatu dengan alam, dan menjadi bagian dari pengalaman keseharian kota. Melalui pendekatan yang eksploratif namun tetap akrab, Art Jakarta Gardens 2026 berhasil menghadirkan pengalaman menikmati seni yang terasa hidup, rileks, dan relevan dengan dinamika Jakarta hari ini.
Kalau kamu suka mengikuti pameran seni dan cerita-cerita menarik dari dunia kreatif, jangan lupa cek artikel seni lainnya hanya di Written.id