Yang Tertinggal, Dihidupkan Kembali: Tiga Perspektif Keberlanjutan di ARTJOG 2026

Keberlanjutan dalam seni tidak selalu hadir dalam bentuk lanskap hijau atau bahkan pesan lingkungan yang disampaikan secara gamblang. Di ARTJOG 2026: ARS LONGA: GENERATIO, gagasan tersebut justru muncul melalui sumur, kulit jagung, limbah plastik, hingga tekstil yang mampu merespons sentuhan.

Tiga karya berikut memperlihatkan bagaimana “selimut” sustainable dapat membungkus sebuah karya dengan cara yang berbeda. Ada yang membicarakan hak masyarakat atas air, ada yang menghidupkan kembali material terbuang, dan ada pula yang merajut hubungan antara teknologi, tradisi, dan ekologi.

Sumur Sinaba: Menjaga Air, Menjaga Kehidupan Bersama

Dok. Written.

Melalui Sumur Sinaba, Sirin Farid Stevy dan Paseduluran Nandur Banyu menghadirkan dua gambaran sumur yang bertolak belakang. Sumur pertama dibangun dari batu kapur, kayu, kendi, dan benda-benda yang mengingatkan pada kehidupan masyarakat tradisional. Di sisi lain, struktur sumur dari besi dipenuhi botol plastik, galon, serta kemasan konsumsi sehari-hari.

Dok. Written.

Kontras tersebut menunjukkan perubahan cara manusia memandang air. Dahulu, sumur menjadi ruang bersama yang dirawat masyarakat. Kini, air semakin sering hadir dalam kemasan, masuk ke dalam sistem distribusi, lalu diperjualbelikan sebagai komoditas.

Karya ini berangkat dari kegiatan Paseduluran Nandur Banyu di Gunungkidul, yang menanam pohon konservasi, merawat sumber air, serta menggali pengetahuan lokal. Melalui sumur, mereka mempertanyakan narasi bahwa Gunungkidul semata-mata kekurangan air. Persoalannya juga menyangkut pengelolaan, akses, dan perubahan fungsi lahan.

Di sini, plastik bukan sekadar simbol sampah, tetapi penanda bahwa sumber kehidupan bersama perlahan bergeser menjadi produk yang harus dibeli.

Resonansi: Ketika Limbah Kembali Memiliki Suara

Dok. Written.

Dahana Rupa Interior Lab. BINUS Jakarta mengajak pengunjung memasuki lorong yang disusun dari plastik bekas, limbah tekstil, kulit jagung, pewarna alami, dan berbagai material lainnya.

Berjudul Resonansi, instalasi ini tidak hanya mengandalkan penglihatan. Pengunjung dapat merasakan tekstur material, mencium aromanya, serta mendengar suara gesekan kulit jagung kering. Limbah yang biasanya disingkirkan dari kehidupan sehari-hari hadir kembali sebagai pengalaman yang melibatkan tubuh.

Dok. Written.

Material karya ini berasal dari limbah industri, pasar, dan kawasan komersial di sekitar Jakarta Barat. Plastik, sisa bahan pangan, serta pakaian bekas menjadi gambaran tentang cepatnya pola konsumsi perkotaan.

Namun, karya ini tidak sekadar mengatakan bahwa sampah dapat diubah menjadi sesuatu yang indah. Resonansi mempertanyakan bagaimana manusia memberi nilai pada benda. Material yang dianggap tidak berguna ternyata masih menyimpan sejarah, fungsi, dan kemungkinan baru.

Keberlanjutan pun hadir sebagai upaya memahami perjalanan sebuah benda, sejak diproduksi, digunakan, dibuang, hingga akhirnya diwariskan kepada generasi berikutnya.

Knitwork: Merajut Teknologi, Tradisi, dan Ekologi

Dok. Written.

Dalam ruang berwarna biru, enam panel tekstil setinggi lebih dari tujuh meter menjulang seperti gunungan futuristis. Itulah Knitwork karya Irmandy Wicaksono, instalasi yang dibuat dari poliester daur ulang, spandeks, termoplastik, serta benang konduktif.

Tekstil tersebut bukan benda pasif. Serat konduktif di dalamnya dapat merespons sentuhan dan gerakan pengunjung, lalu mengaktifkan suara secara langsung. Kain menjadi penghubung antara tubuh manusia dan sistem digital.

Terinspirasi oleh gunungan wayang, setiap panel membayangkan dunia masa depan yang berbeda: kota bertenaga surya, kehidupan bawah laut, bioteknologi, ruang angkasa, hingga pertemuan antara makhluk mitologis dan robot.

Knitwork memperluas pembicaraan tentang sustainability. Keberlanjutan tidak hanya menyangkut penggunaan material daur ulang, tetapi juga teknologi seperti apa yang ingin dibangun manusia. Apakah teknologi akan semakin menjauhkan kita dari alam, atau justru membantu membentuk hubungan yang lebih peka?

Ketiga karya ini menunjukkan bahwa seni dapat menjadi ruang untuk melihat persoalan lingkungan secara lebih luas. Keberlanjutan bukan hanya perkara mengolah sampah, melainkan juga menjaga sumber daya, pengetahuan lokal, budaya, serta hubungan antargenerasi. Di ARTJOG 2026, masa depan tidak hanya dibayangkan, ia dipertanyakan, lalu dirajut kembali.

SHARE :
WhatsApp
Facebook
Twitter
Email
Artikel Lainnya