Bagi Muhammad Sagitha, Principal Architect ArMS, keputusan memilih material tidak pernah dimulai dari pertanyaan “mana yang paling ramah lingkungan?” atau “mana yang sedang tren?”. Sebaliknya, semuanya selalu berangkat dari satu pertanyaan yang lebih mendasar: pengalaman ruang seperti apa yang ingin diciptakan?
Di balik setiap potongan kayu, bidang beton, hingga detail konstruksi yang tampak sederhana, tersimpan proses berpikir yang mempertemukan rasionalitas, estetika, dan kesadaran terhadap bagaimana sebuah bangunan akan dihuni.

Simak perbincangan lengkap Muhammad Sagitha dengan Written.
Material Sebagai Bahasa Arsitektur
Written: Dalam praktik di ArMS, bagaimana Anda memandang hubungan antara efisiensi material yang sangat rasional dengan desain yang dituntut estetik?
Muhammad Sagitha (MS): Saya teringat dengan salah satu wawancara yang dilakukan arsitek Peter Zumthor. Dia pernah ditanya kenapa menggunakan kayu? Karena kesannya tidak sadar lingkungan. Jawaban Zumthor, “saya itu arsitek bukan enviromentalist“. Arsitek punya kewajiban menciptakan pengalaman ruang. Dengan memilih kayu asli maka hangatnya ruangan, tekstur kayu, dan juga bau kayu tidak bisa diganti dengan material artifisial lainnya. Yang perlu diatur adalah bagaimana ekosistem produsen kayu tersebut menjadi supply dan demand yang baik untuk lintas generasi.
Jadi pemanfaatan material atau estetika semuanya kembali pada permintaan klien. Ada yang budget constraint, ada juga yang mau perfeksionis, misalnya ruas kayunya harus saling bertemu. Sehingga kemudian waste-nya pasti banyak. Tapi ada juga klien yang memang inginnya efisien dan less waste.
Written: Bagaimana kalau keinginan Anda dalam menggunakan sebuah material jadi bertentangan dengan keinginan klien?
MS: Tentunya saya harus menghormati permintaan klien. Material kan layaknya pakaian klien, jadi memang hak mereka untuk menentukan maunya pakai apa. Kita sebagai arsitek hanya bisa memberikan opsi dengan penjelasannya, keputusan akhirnya tetap di mereka. Makanya mungkin cocok-cocokan ya antara klien dan arsitek, tapi kadang di tengah jalan suka ada plot twist. Awalnya kita pikir kliennya detail sekali dan “sulit” malah ternyata klien itu tahu apa yang diinginkan jadi cepat sekali membuat keputusan. Intinya klien dan arsitek harus saling respect agar proyek bisa selesai dengan baik.
Written: Apakah ada pengalaman material yang gagal malah jadi bagus dan diadaptasi di proyek lain?
MS: Ada, dulu membuat tangga dengan railing besi yang memanjang dan menjuntai dari lantai dua ke bawah. Kalau dipegang malah bergerak karena tension, padahal niatnya kami supaya tidak goyang. Ternyata klien malah suka. Jadi kalau klien tidak suka ya artinya gagal, tapi kalau klien suka ya artinya berhasil. Nah desain ini kemudian kami pakai juga di proyek lain bahkan dari lantai 3 ke basement.

Antara Hunian dan Komersial
Written: Apa jenis proyek yang paling banyak ditangani oleh ArMS, residensial atau komersial?
MS: Saat ini masih kebanyakan residensial. Komersial biasanya kan lebih townhouse dan merembet ke fasilitas umumnya. Pernah kami mendesain sebuah F&B compound, saat itu kami tawarkan konsep yang telah kami gunakan di Bintaro Design District, namanya Rumah Tampung. Jadi material dinding dan atap sama, sehingga lebih efisien secara biaya. Namun karena mereka budget constraint, jadi sepertinya sudah takut duluan karena memakan biaya yang lebih mahal di tenaga manusia.
Written: Boleh cerita tentang kantor ArMS?
MS: Jadi kantor ini adalah rumah yang dibangun tahun 1985, kemudian kita renovasi dan selesai di tahun 2021. Kebetulan di tahun yang sama pemenang Pritzker Architecture Prize adalah Anne Lacaton dan Jean-Phillipe Vassal yang memiliki prinsip “do not demolish, please reuse”. Jadi sesuai sekali dengan apa yang kami lakukan di kantor ini. Struktur kantor ini masih dari bangunan lama, bahkan sebagian dinding masih kami reuse. Electrical dan plumbing kami ganti semua untuk memastikan keamanan.
Sedikit insight untuk anak muda sekarang, lebih baik mencari hunian di kawasan yang sudah jadi seperti ini. Memanfaatkan kondisi yang sudah ada, menghidupkan sesuatu menjadi berguna daripada membuat baru, lalu meninggalkan yang lama.

Written: Di wawancara yang pernah Mas Agit lakukan, dijelaskan bahwa rumah masa depan akan banyak menggunakan prefab, terutama kelas menengah. Sementara craftmanship akan lebih banyak dimanfaatkan pada high end residensial. Apakah craftmanship bisa untuk kelas menengah?
MS: Kalau yang digunakan adalah master craftmanship, yang memang memberikan human touch dengan presisi yang luar biasa ya pastinya butuh biaya yang besar, sehingga proyek high-end lebih mungkin untuk memanfaatkannya. Sama dengan brand fashion saja. Tapi craftmanship juga bisa untuk yang sederhana, seperti rumah tradisional. Memang tidak presisi tapi tetap masuk craftmanship.
Arsitektur sebagai Sutradara Pengalaman Ruang
Written: Di antara instrumen spasial, seperti cahaya, transisi ruang, material, dan sebagainya, mana yang paling efektif untuk mengarahkan emosi manusia?
MS: Menurut saya yang paling mudah untuk diadaptasi adalah lanskap, misalnya ketika masuk ruangan akan mendengar suara air, suara burung. Atau misalnya efek jatuhnya sinar matahari yang tidak boleh terlupakan dalam ruang arsitektur.

Written: Saran apa yang bisa Mas Agit berikan kepada mahasiswa arsitektur atau desain agar mereka bisa lebih siap masuk ke dunia profesional?
MS: Jangan sepelekan pentingnya sejarah arsitektur. Pengalaman saya ketika kuliah sukanya arsitek populer seperti Zaha Hadid atau Frank Gehry. Jadi malas ketika harus belajar sejarah arsitektur yang jauh ke belakang. Justru ketika mulai bekerja mulai paham bahwa gaya arsitektur itu ada garis DNA nya. Tergantung dari siapa arsitek itu belajar. Kami sempat berkunjung ke Danish Design Museum, dan di situ belajar mengenai Hans J. Wegner. Bahwa ternyata desain-desain ikonis Wegner ada roots-nya. Seperti daftar pustaka dalam sebuah skripsi, jadi sebuah desain juga bisa dilihat urutan sejarahnya dan inspirasinya. Dan kalau kita belajar mengenai roots ini, kita bisa menjadi lebih conscious mengenai desain dan tentunya storytelling pun akan lebih kaya.