Riri Yakub di Balik Arsitektur Tropis Kontemporer

Mengenal sosok Riri Yakub, arsitek Indonesia pendiri Atelier Riri. Dari jurnalis media, ia kini dikenal lewat karya arsitektur tropis modern yang inovatif.

Sebelum dikenal sebagai sosok arsitek Indonesia yang sukses membangun biro Atelier Riri pada tahun 2010, Riri Yakub lebih dulu mengasah kepekaannya di meja redaksi. Sebagai lulusan S1 Arsitektur Universitas Pancasila yang juga pernah menempuh studi S2 di Universitas Trisakti, Riri menghabiskan waktunya dari tahun 2006 hingga 2010 sebagai desainer grafis dan konsultan untuk Majalah IDEA. Di sana, ia mengasuh rubrik “Meja Gambar”, menyajikan gambar aksonometri, sekaligus menyerap begitu banyak ilmu tentang eksplorasi material dan storytelling. Pengalaman jurnalistik inilah yang membentuk karakternya; baginya, desain bukan sekadar estetika visual atau tren sesaat, melainkan sebuah narasi yang harus dikomunikasikan dengan lugas dan kontekstual.

Discoluvia House Foto: Atelier Riri

Bermula dari sekadar proyek pro bono mendesain dan merenovasi rumah teman pada tahun 2004, passion Riri perlahan berubah hingga menjadikan arsitektur sebagai sebuah panggilan hidup murni. Karakter desain Atelier Riri kini sangat lekat dengan eksperimen material yang berani dan pendekatan desain tropis modern yang merespons iklim secara mendalam. Karyanya tersebar luas dari pengerjaan residensial, townhouse developer di Jakarta, hingga bangunan ikonis seperti proyek Cipaku 1 yang dijuluki “Sponge Office“, Kiyakabin di Lombok, dan Stackhouse. Di setiap proyeknya, Riri Yakub membuktikan bahwa arsitektur adalah karya ruang fisik tempat rasionalitas dan rasa menyatu dengan sempurna.

Simak obrolan Written dengan Riri Yakub berikut.

Mexi House Foto: Atelier Riri

Written: Mas Riri pernah cukup lama bekerja di majalah. Seberapa besar pengaruh kacamata jurnalis itu saat Mas Riri akhirnya memutuskan banting setir menjadi praktisi arsitek murni?

Riri Yakub (RY): Pengaruhnya cukup besar. Dari tahun 2006 sampai 2010, saya menjadi desainer grafis dan konsultan di sana, termasuk mengisi rubrik “Meja Gambar”. Media melatih saya melihat desain melalui sebuah narasi. Saya belajar untuk tidak melulu mengikuti tren, karena desain itu harus objektif, kontekstual, dan long lasting.

Written: Banyak arsitek muda yang jago desain tapi kesulitan untuk “menjual” idenya ke publik. Apakah pengalaman jurnalistik ini yang membantu Mas Riri lebih peka merespons apa yang diinginkan klien?

RY: Sangat membantu. Di media, kita terlatih melihat konteks, serta belajar public speaking dan storytelling. Saat merancang, desain kami selalu kontekstual dan berangkat dari ceritanya. Kemampuan mengkomunikasikan narasi tersebut dengan lugas membuat klien bisa membayangkan referensi desain dengan lebih mudah.

Pinara Townhouse Foto: Atelier Riri

Written: Bagaimana mendefinisikan “karakter” Atelier Riri dari awal agar bisa langsung terlihat beda di tengah banyaknya biro arsitek di Indonesia?

RY: Desain kami selalu kontekstual, baru estetika menyusul kemudian. Desain kami juga terbuka terhadap eksplorasi material, ada keseimbangan antara rasionalitas dan rasa.

Epilogue House Foto: Atelier Riri

Eksplorasi Material & Desain Tropis Modern

Written: Dari proyek Kiyakabin di Lombok sampai Stackhouse, Atelier Riri terlihat punya hobi bereksperimen. Apa yang biasanya menjadi pemicu menggunakan material spesifik seperti kayu bakar atau fasad rotan sintetis?

RY: Desain kami memang selalu terbuka terhadap eksplorasi material. Di Lombok, lokalitas material itu sangat penting untuk merespons konteks, makanya kami mencoba bereksperimen dengan teknik pengawetan Shou Sugi Ban (teknik tradisional Jepang kuno untuk mengawetkan dan mempercantik kayu dengan cara membakar permukaannya) pada proyek Kiyakabin tersebut. Begitu juga dengan proyek Stackhouse, karena lokasinya cukup bising di pertigaan jalan, penggunaan elemen rotan kami harapkan bisa mengurangi tingkat kebisingan ke dalam rumah.

Written: Pernahkah ada eksperimen material yang ternyata “gagal” diterapkan di lapangan atau diprotes oleh tukang dan klien?

RY: Kami pernah mencoba untuk mendesain dengan konsep adaptive reuse pada sebuah bangunan lama. Ternyata sensasinya tidak dapat, karena pada perjalanannya klien menginginkan material yang well-finished sehingga tidak sejalan dengan konsep awalnya. Untuk menyiasatinya, kami mengganti konsep tersebut dan memberitahu klien bahwa itu kemudian dijadikan bangunan baru yang kami desain.

TDA House Foto: Atelier Riri

Written: Saat ini semua orang bicara soal “Desain Tropis”. Namun bagi Mas Riri secara personal, desain tropis modern itu apakah cuma sekadar tentang sirkulasi udara dan banyak tanaman?

RY: Sirkulasi udara dan tanaman itu penting, tapi itu baru di permukaan. Desain tropis itu harus lebih dalam membaca perilaku iklim dan kita harus merancang untuk masa depan. Bangunan harus bisa bertahan menghadapi hujan dan panas tidak hanya enam bulan saja, tapi di sepanjang tahun. Kita juga harus menghasilkan kenyamanan secara pasif maupun aktif, seperti memanfaatkan limpahan matahari dan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari di rumah, serta mengutamakan material lokal yang efisien.

Angled House Foto: Atelier Riri

Arsitektur Sebagai Pilihan Hidup & Tantangan Masa Depan

Written: Mas Riri kerap menyebut bahwa arsitektur adalah sebuah panggilan hidup, bukan sekadar profesi. Apa titik balik yang memicu pendirian Atelier Riri?

RY: Sebenarnya passion saya perlahan terbangun seiring perjalanan karier saya di media. Awalnya di tahun 2004 saya mengerjakan beberapa proyek pro bono mendesain rumah teman. Dari proyek pro bono tersebut, karya saya menjadi semakin banyak hingga berujung mendirikan Atelier Riri. Bagi saya, tujuan akhir menjadi arsitek adalah untuk menghasilkan sebuah karya fisik yang dapat diapresiasi dan bermanfaat bagi banyak orang.

CCNC House Foto: Atelier Riri

Written: Dunia arsitektur dikenal dengan jam kerjanya yang “gila”. Bagaimana Anda menjaga api kreativitas tetap menyala tanpa terjebak burnout?

RY: Di industri kreatif ini, kita dituntut untuk terus melakukan pekerjaan kreatif di dalam sebuah rutinitas yang padat. Menurut saya, menjalankan hobi dan berolahraga bisa menjadi salah satu obat mujarab untuk tetap fokus dan memecah kebuntuan rutinitas tersebut. Terkadang kita butuh inspirasi tambahan, itulah kenapa banyak arsitek mencari pelarian dengan melakukan traveling, walaupun pada ujung-ujungnya kami tetap mendatangi destinasi-destinasi arsitektur juga.

Written: Masih vespaan?

RY: Masih dong!

Arco Kemang Rowhouse II Foto: Atelier Riri

Written: Seberapa penting arsitek Indonesia untuk mengikuti asosiasi profesi seperti IAI?

RY: Sangat penting. Awalnya saya bergabung dengan IAI karena merasa butuh sosok mentor dan perlu memperluas circle setelah berpindah dari industri media. Selain itu, kita jadi belajar panduan aturan dan sertifikasi dalam menjalankan praktik arsitektur, misalnya tentang syarat wajib magang selama dua tahun. IAI juga cukup aktif melakukan berbagai program yang sangat membantu kelancaran profesi kita ini.

Written: Apa tantangan terbesar bagi arsitek di Indonesia ke depan, terutama dengan pesatnya teknologi AI dan isu perubahan iklim?

RY: Tantangannya selalu sama, setiap perkembangan zaman pasti akan selalu membawa perubahan baru. Saat ini teknologi AI memang sudah memberikan sangat banyak kemudahan, tetapi pada akhirnya karya arsitektur adalah menghasilkan sesuatu yang berupa fisik. Tantangan utamanya adalah bagaimana kita bisa menyampaikan narasi dan storytelling yang baik secara langsung ke pengguna jasa atau owner. Kalau soal perubahan iklim, rasanya itu sudah menjadi keharusan, dan beruntungnya saat ini semakin banyak klien yang sadar dan bersedia berinvestasi pada desain berkelanjutan demi menjaga masa depan.

Written: Terakhir, satu kalimat untuk menggambarkan Atelier Riri?

RY: Atelier Riri adalah media saya untuk bereksplorasi dan berinovasi dalam dunia arsitektur dan desain.

Threefold House Foto: Atelier Riri
SHARE :
WhatsApp
Facebook
Twitter
Email
Artikel Lainnya