Threadapeutic: Menenun Kolaborasi dan Menjawab Tantangan Industri Craft

Semua hal di dunia ini perlu melalui sebuah proses. Sehelai kain yang kita kenakan pun bermula dari sesuatu yang sederhana: pohon kapas yang tumbuh perlahan, dipanen, dipintal menjadi benang, lalu diolah menjadi material yang memiliki bentuk dan makna baru. Namun kali ini, kita tidak sedang berbicara tentang kapas. Kita akan berbicara tentang Threadapeutic, sebuah studio artisan yang banyak mengeksplorasi material tekstil dalam praktik berkaryanya.

Berawal pada tahun 2015 lewat proyek volunteer di Indonesia Fashion Week (sekarang menjadi Indonesia Fashion Chamber) untuk mengolah banner bekas dan kain sisa menjadi suvenir, perjalanan Hana Surya membawa Threadapeutic berkembang hingga berkolaborasi bersama desainer interior dan arsitek dalam berbagai proyek. Meski terus berevolusi, benang merah yang dibawa sejak awal tetap terasa kuat, yaitu bermain dengan material kain dan memanipulasinya melalui teknik faux chenille menjadi karya tapestry yang telah dipamerkan di dalam maupun luar negeri. Perjalanan tersebut juga membawa Threadapeutic meraih dua kali penghargaan dalam Design Anthology Awards for Textiles pada tahun 2023 dan 2025.

Mungkin semua ini menjadi bentuk bahasa cinta Hana Surya terhadap material tekstil, yang telah hadir dalam kehidupannya sejak kecil melalui lingkungan keluarga, terutama sang ibu yang berprofesi sebagai pembuat gaun pesta dan pernikahan. Namun lebih dari itu, perjalanan Threadapeutic juga memperlihatkan bagaimana ketekunan, kreativitas, dan keberanian untuk terus bereksperimen mampu membawa sebuah praktik craft berkembang melampaui batas awalnya.

Written berkesempatan mengunjungi studio Threadapeutic di Pulomas, Jakarta Timur, dan berbincang bersama Hana Surya (H) selaku Founder serta Andriana Justine (J) sebagai Textile Artisan Apprentice di Threadapeutic, mengenai proses kreatif di balik karya-karya mereka, hingga tantangan yang dihadapi dalam menggeluti dunia craft.

Simak obrolan Written bersama Threadapeutic berikut ini.

Transformasi dan Kolaborasi di Threadapeutic

Wall panel untuk Bank Jago Dok: Threadapeutic
Detail wall panel untuk Bank Jago Dok: Threadapeutic

Written: Sejak kapan Threadapeutic mulai berkolaborasi dengan desainer interior atau arsitek untuk mulai mengerjakan sebuah proyek?

H : Proyek pertama kita dengan arsitek interior itu setelah Maison & Objet tahun 2019. Budiman Ong memperkenalkan kami ke Budi Lim Architects . Kemudian di awal 2020, beliau bertanya apakah kami mau membuat panel untuk proyek Bank Jago ukuran 7×11 meter. Saat itu kami benar-benar clueless karena tidak punya pengalaman bikin yang berukuran besar. Walaupun saat itu ada kecemasan masa covid, tempat kerja, dan juga SDM yang tidak memadai, tapi akhirnya tiga setengah bulan kita selesai on time dengan bantuan partner , pabrik garmen Surya Mandiri.

Pitta Stool, kolaborasi Threadapeutic dengan Studio Hendro Hadinata. Dok: Threadapeutic

W : Kalau dengan interior berarti lebih ke mengisi proyek ya? Bagaimana kalau dengan desainer produk?

H: Kolaborasi dengan desainer produk Studio Hendro Hadinata itu jadi salah satu pengalaman yang sangat berkesan buat kami belajar sekaligus bekerja sama. Untuk pameran Road to Jia Curated 2025, Budiman Ong, selaku kurator dan design partner, mendorong kami untuk belajar sekaligus kerja sama dengan orang-orang dari lintas disiplin yang punya cara berpikir berbeda juga, mulai dari arsitek, interior designer, hingga product designer.

Wall Panels, Bird’s Eye View. Dok: Threadapeutic

Written: Setelah 10 tahun berjalan, apakah ada perubahan cara pandang atau ekspektasi dari dalam diri kalian?

Justine: Dua tahun lalu pas mau sampai sepuluh tahun Threadapeutic, sempat tanya Mama, “How are you feeling, what has changed?”. Mama bilang sekarang cenderung merasa takut dan juga cemas. Karena dulu kerja untuk kita sendiri aja kan, no pressure to make mistakes, trial and error, dan coba-coba. Tapi sekarang, karena mulai sering mengerjakan proyek B2B dengan arsitek dan interior designers, kami juga harus extra hati-hati dalam proses produksi sampai estetiknya, jadi lebih cenderung “play safe” dan “meet deadlines”. Sekarang malahan berasa lebih takut to make something new, takut it doesn’t meet people’s expectations. Tapi kesempatan kolaborasi dengan product designers lain ini juga memberi kami keberanian baru to experiment again to try new new things together.

Di Balik Layar: Proses Kreatif di Studio

Proses pembuatan tapestry. Dok: Threadapeutic

Written: Bagaimana sih cara controlling dan menjaga konsistensi di Threadapeutic supaya karya tetap top-notch?

H: Sebetulnya sesuatu yang basic, seperti kekuatan jahitan, guntingan yang rapi, penyikatan yang berulang kali, dan juga diselingi dengan mencuci kain. Fiber itu kan memang perlu disikat berulang sampai menjadi bentuk berbulu halus, dari lapisan paling bawah sampai paling atas, proses ini yang membutuhkan waktu cukup panjang dan kesabaran juga ketekunan orang yang menyikat. Kalau hasil penataan warna belum sesuai dengan yang diinginkan, proses penataan warna akan diulang di bagian yang diperlukan, mulai dari menggunting sampai dengan proses menyikat.

Proses pembuatan tapestry. Dok: Threadapeutic

Written: Jadi ada proses refining terus-menerus. Parameternya seperti apa sampai akhirnya memutuskan “oke, ini selesai”?

H: Pattern, flow, warna, gradasi warna sudah sesuai dengan yang diinginkan. Setelah disikat halus jahitan masih ketat, dan fiber-fiber sudah dirapikan sesuai kepanjangan yang diinginkan, supaya tidak kusut dan mempermudah dalam maintenance nya nanti.

Caterpillar Tray kolaborasi Threadapeutic dengan Design by Weld

Written: Kalau dari segi aplikasi produk yang berbeda, apakah cara berpikir tentang materialnya juga berubah?

H: Kalau perlakuan untuk tapestry dinding dan untuk kursi itu berbeda. Untuk tapestry dinding, jika tidak ada permintaan khusus dari client, kita bisa memakai bahan yang agak kasar dan mengandung banyak polyester. Yang terpenting adalah warna fiber sesuai dengan permintaan. Tapi untuk produk seperti kursi yang akan tersentuh kulit kita, kami akan memilih serat kain yang lebih halus seperti cotton polyester atau cotton. Kami lebih cenderung ingin produk yang kami buat bisa dilepas kainnya, supaya bisa dicuci berulang kali. Karena setelah dicuci berulang kali, warna dan tekstur pasti akan lebih nyata dan lebih halus.

Lace Room Divider, kolaborasi Threadapeutic dengan Studio Hendro Hadinata. Dok: Threadapeutic

Written: Kalau karya tersebut sudah menempel di dinding sebagai panel, pembersihannya bagaimana?

H: Vacuum. Makanya kalau panel, kami nggak pernah bikin fibernya yang panjang banget supaya nggak ketarik. Maksimum panjangnya itu kira-kira 2 sampai 2,5 sentimeter lah. Itu sebenarnya upaya agar mempermudah saat di-vacuum, seperti karpet.

Perspektif tentang Pemanfaatan Material & Artisan

Threadapeutic team. Dok: Threadapeutic

Written: Apakah menjaga pasokan limbah tekstil atau sisa kain itu susah?

H: Kalau kami mau benar-benar minta jumlah yang lebih banyak itu sebetulnya masih mudah, tapi kami lebih fokus ke craft-nya daripada untuk mengolah limbahnya. dari pada sekadar mengolah bahan sisa garmen, justru yang kami utamakan adalah proses kriya nya, kekuatannya dan berusaha mencapai estetik yang tinggi.

Written: Berarti tantangan utamanya bukan pada suplai material, melainkan pada cara memanfaatkannya?

J: Betul, susahnya itu kalau ada yang minta commission tapestry atau instalasi besar tapi fix banget mau satu warna tertentu. We don’t encourage that, karena kami justru belajar what we can make the best of dari material yang udah ada. Kami sering menyarankan desainer atau customers yang pengin bikin sesuatu bareng, datang aja ke workshop. Dari sana kita bisa lihat prosesnya dan how we can work with the colors bareng-bareng.

Tapestry Hutan. Dok: Threadapeutic

Written: Semangat yang diusung sebenarnya memang pemanfaatan material yang sudah ada tersebut, ya?

H: Kami tidak banyak bersuara tentang isu berkelanjutan, tapi selalu berusaha memakai sisa material berlimpah yang kami terima. Apapun yang diberikan ke kami dan yang kami bisa terima itu akan dimanfaatkan semaksimal mungkin dengan kapasitas yang kami miliki, atau bekerja sama dengan yang lain.

Written: Untuk artisannya sendiri bagaimana? Mengerjakan kriya tekstil seperti ini kan rumit dan lama.

J: Yes, brushing is the most time-consuming part of the process (for now) and requires much endurance, patience from the artisan. But it can actually be an enjoyable learning process, especially if you are trying to learn how to layer and compose your own tapestry. It’s the best time to learn how the colours from different layers of fabric come together. But it’s true this work is not for everyone. We try to look for individuals who already have an interest in hands-on craftsmanship, colour, texture… Otherwise it would just be suffering haha.

Written: Harus punya ketertarikan dari awal ya, setelah mengikuti prosesnya.

H: Sebetulnya craft yg kami dalami ini bukan craft yang baru. Sepertinya sama ya dengan bagaimana proses dalam menekuni craft yang lain, dan seperti apa yang sempat Justine bilang, intinya cuma butuh kemauan untuk belajar, tekun dan punya kesabaran tinggi. Hasil dari ketelitian dan kesabaran itu pasti akan terlihat di akhir. Kadang aku merasa latar belakang aku sebagai seorang ibu rumah tangga dari 3 anak melatih aku untuk sabaaar, haha

Penasaran bagaimana detail proses manipulasi kain ini dilakukan? Kita bisa mampir dan belajar langsung di studio Threadapeutic. Di sana, kita bisa melihat langsung proses di balik layar pembuatan karya-karya Threadapeutic.

SHARE :
WhatsApp
Facebook
Twitter
Email
Artikel Lainnya