kolaborasi

Masa Depan Desain Interior dan Furnitur

21 December 2021

Stella Mailoa

Penghujung tahun kerap menjadi momen yang tepat untuk refleksi. Kali ini pertanyaannya seperti apa kira-kira masa depan desain interior atau desain furnitur? Jawabannya ada di webinar yang digelar Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) DKI Jakarta bersama American Hardwood Export Council (AHEC) Asia Tenggara. Webinar ini diberi judul Design for Tomorrow: An Interaction Between Interior|Furniture Design. Menghadirkan desainer dan ahli dari berbagai bidang untuk mendiskusikan masa depan desain interior dan furnitur.

Secara umum, para pembicara setuju bahwa masa depan desain terletak pada kolaborasi. Menurut Josua Simanjuntak, staf ahli bidang inovasi dan kreativitas Kemenparekraf, kolaborasi menjadi spesial karena adanya added value atau nilai tambah.

Bentuk Kolaborasi

Nilai tambah ini bisa kita lihat dari berbagai perspektif. Salah satunya mentransformasi tradisi lewat material, teknik, dan konsep seperti yang dilakukan oleh Abie Abdillah. Sebagai desainer produk yang fokus menggunakan material rotan. 

Abie belajar bahwa seorang desainer tidak hanya perlu fokus pada brief dari klien, tapi juga beradaptasi dengan pasar dan industri. Seorang desainer harus terbuka untuk berkolaborasi dengan desainer lain, pabrik, dan perusahaan. Hal ini tentunya akan membuat sebuah produk menjadi jauh lebih bernilai.

Sebagai satu-satunya pembicara asing, Dana Spessert sebagai perwakilan dari AHEC menjelaskan seputar material kayu Amerika yang sustainable. Ia menjelaskan bahwa masa depan desain juga akan tergantung pada material yang berkelanjutan. 

Desainer interior Chris Tanihaha lulusan Istituto Marangoni, Italia menunjukkan bentuk kolaborasi baru yang dapat dilakukan oleh desainer, yaitu dengan teknologi. Maraknya dunia virtual akhir-akhir ini juga berarti kita dapat mendesain dan menjual sesuatu di dunia virtual itu. 

Kolaborasi antara desainer dengan teknologi terletak pada pertemuan antara sesuatu yang nyata dengan yang tidak nyata. Contohnya seperti implementasi augmented reality (AR) pada produk atau dunia metaverse yang sedang ia kembangkan.

Menurutnya, sebuah desain tidak boleh terlihat terlalu teknologi dan sebuah teknologi tidak boleh terlihat terlalu terdesain. Desain dan teknologi harus saling mengisi dan bukan mengalahkan satu sama lain.

Design Camp – Kompetisi Desain untuk Profesional dan Mahasiswa

Webinar ini juga digelar berkaitan dengan acara Design Camp yang diselenggarakan oleh HDII DKI Jakarta dan AHEC SEA. Design Camp bertajuk The Use of Red Oak Timber for Furniture & Interior Space ini berlangsung pada bulan Januari-Maret 2022.

Melalui Design Camp, desainer dan mahasiswa yang terpilih akan memperoleh mentoring dari desainer lokal dan internasional ternama. Selain itu, mereka juga akan berkompetisi untuk hadiah berupa pembuatan prototipe desain yang akan ikut serta di pameran internasional.

Keterangan lengkap seputar Design Camp bisa disimak di website HDII DKI Jakarta.

Share:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on email

Artikel Lainnya