VERSHOME meluncurkan The Epic Journey of VERSHOME, buku yang merangkum 12 tahun perjalanan, nilai, klien, dan visi studio terhadap exhibition design Indonesia.

Ada banyak cara untuk merayakan perjalanan sebuah studio desain. Bagi VERSHOME, salah satunya adalah dengan melihat kembali apa yang telah dilalui dan menuangkannya ke dalam sebuah buku.

Studio desain interior terpadu asal Jakarta ini resmi meluncurkan buku pertamanya, The Epic Journey of VERSHOME. Diterbitkan oleh Simpul Group, buku tersebut menjadi bagian dari perayaan ulang tahun ke-12 VERSHOME sekaligus catatan atas perjalanan studio yang telah berkarya selama lebih dari satu dekade.

Namun, The Epic Journey of VERSHOME tidak dibuat sebagai buku portofolio semata. Di balik proyek dan nama-nama klien yang pernah bekerja sama dengan VERSHOME, buku ini merekam hal-hal yang tidak selalu terlihat dalam sebuah desain: bagaimana sebuah studio bertumbuh, bagaimana hubungan dengan klien dibangun, serta nilai-nilai yang kemudian membentuk cara mereka bekerja.

Gagasan membuat buku ini berangkat dari pengalaman VERSHOME di bidang exhibition design. Di tengah banyaknya referensi mengenai arsitektur, interior, residential, dan hospitality, referensi yang secara khusus membahas desain booth masih relatif sulit ditemukan. Padahal, exhibition booth memiliki persoalan desainnya sendiri, bahkan ketika ruang yang tersedia hanya berukuran 2x2 atau 3x6 meter.

Buku The Epic Journey of VERSHOME. Dok. Written

Bagi VERSHOME, keterbatasan tersebut justru membuat exhibition design menjadi menarik. Sebuah booth tidak cukup hanya dibuat menarik secara visual. Designer perlu memahami siapa brand di baliknya, siapa audiens yang dituju, apa tujuan kehadirannya di sebuah event, hingga bagaimana pengunjung akan berinteraksi dengan ruang yang terbatas.

Dari situlah muncul keinginan untuk membuat buku yang secara khusus mendokumentasikan exhibition design sekaligus dapat menjadi referensi bagi industri kreatif di Indonesia.

Lebih dari Sekadar Portofolio

Dalam proses pengerjaannya, konsep buku ini kemudian berkembang. Awalnya, VERSHOME ingin menghadirkan lebih banyak portofolio. Namun, setelah Creative Director VERSHOME, Roni Timothy, menempuh pendidikan magister di bidang manajemen, cara pandangnya terhadap perjalanan studio ikut berubah.

Ia menyadari bahwa perkembangan VERSHOME tidak hanya dibentuk oleh proyek yang mereka kerjakan, tetapi juga oleh human interaction yang terjadi di dalam perjalanan tersebut. Pengalaman berinteraksi dengan klien, membangun tim, memahami kebutuhan orang lain, hingga membentuk culture di dalam organisasi menjadi bagian penting yang turut mengembangkan VERSHOME.

Karena itu, The Epic Journey of VERSHOME akhirnya tidak hanya menampilkan gambar proyek, tetapi juga cerita mengenai people, culture, values, dan alasan di balik cara mereka bekerja. Gambar dan cerita kemudian berjalan berdampingan. Sebuah proyek tidak hanya ditampilkan sebagai hasil akhir, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan yang membantu VERSHOME tumbuh.

Halaman buku The Epic Journey of VERSHOME. Dok. Written

Hal ini juga berkaitan dengan bagaimana VERSHOME memandang desain itu sendiri. Bagi Roni, desain yang baik tidak selalu berarti desain yang paling besar, kompleks, atau extravaganza. Yang lebih penting adalah apakah desain tersebut mampu menjawab persoalan dan kebutuhan klien.

Karena itu, VERSHOME tidak ingin sebuah proyek terlalu menonjolkan ego designer. Ketika sebuah brand memiliki identitas yang kuat, tugas mereka justru membantu identitas tersebut tampil lebih baik.

Elevate the brand, not us.

Filosofi tersebut membuat portofolio VERSHOME terlihat beragam. Satu proyek bisa menggunakan warna biru, sementara proyek lainnya hadir dengan warna pink atau pendekatan visual yang berbeda. Bukan berarti VERSHOME tidak memiliki identitas, melainkan identitas mereka justru terlihat dari kemampuan untuk memahami dan menyelesaikan persoalan setiap brand.

Berisi Cerita dari Klien

Selama perjalanannya, VERSHOME telah bekerja dengan lebih dari 100 klien lokal dan internasional, termasuk Wardah, YouTube, Michael Kors, %Arabica, Mamitoko, JPCC, TikTok Shop, dan Sensatia.

Namun, tidak semuanya masuk ke dalam buku. Dari hampir 200 proyek yang pernah dikerjakan, VERSHOME memilih karya yang memiliki perjalanan dan cerita mengenai bagaimana mereka tumbuh bersama brand tersebut. Dengan demikian, proyek yang ditampilkan bukan semata-mata yang paling besar atau paling spektakuler, tetapi yang dianggap memiliki hubungan dengan value yang dibangun VERSHOME.

Salah satu klien yang turut hadir dalam peluncuran buku adalah Desiree Tarigan, owner Mamitoko, yang berbagi perspektif mengenai pengalamannya bekerja sama dengan VERSHOME.

Desiree Tarigan, owner Mamitoko. Dok. Written

Kehadiran cerita dari klien menjadi bagian penting karena perjalanan sebuah studio desain tidak pernah hanya tentang karya. Di balik setiap proyek terdapat hubungan, komunikasi, dan kepercayaan yang diberikan kepada designer. Hal-hal tersebut pula yang pada akhirnya ikut membentuk perjalanan VERSHOME.

Buku yang Mengutamakan Essence of Value

VERSHOME tidak ingin menjadikan The Epic Journey of VERSHOME sebagai ajang untuk menunjukkan kemegahan proyek. Sebaliknya, mereka ingin menempatkan essence of value sebagai bagian utama dari buku.

Karena itu, desainnya dibuat sederhana. Warna hijau yang menjadi bagian dari identitas VERSHOME hadir sebagai elemen visual, sementara cover tidak dipenuhi gambar proyek seperti yang lazim ditemukan pada buku desain.

Kesederhanaan ini sekaligus dirancang untuk membangun curiosity. Namun, bukan berarti membuat pembaca bingung. Dalam pandangan mereka, desain yang baik justru adalah desain yang mudah dipahami dan dapat terbaca oleh audiens. Rasa ingin tahu lebih banyak hadir dalam proses eksplorasi dan eksperimen di balik sebuah karya.

Pendekatan yang sama kemudian diterapkan pada buku: tidak semua hal perlu ditampilkan di permukaan. Ada cerita yang bisa ditemukan ketika pembaca mulai membuka dan mengikuti perjalanan di dalamnya.

Salah satu booth dari klien VERSHOME. Dok. Written

Melihat Masa Depan Exhibition Design Indonesia

Pada akhirnya, ambisi yang dibawa The Epic Journey of VERSHOME terasa lebih besar daripada sekadar merayakan perjalanan studio.

Roni melihat perkembangan exhibition design di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir sebagai sesuatu yang positif. Semakin banyak studio dan creative people yang masuk ke industri justru menjadi perkembangan yang perlu dirayakan.

Sebab, untuk membuat dunia melihat kualitas desain Indonesia, satu studio saja tidak akan cukup. VERSHOME ingin melihat semakin banyak creative people Indonesia yang berani berkompetisi, membangun standar baru, dan menunjukkan bahwa exhibition design dapat menjadi industri kreatif yang profesional serta mampu bersaing dengan global standards.

Mamitoko yang jadi klien VERSHOME. Dok. Written

Bagi VERSHOME, kompetisi bukan sesuatu yang perlu dihindari. Semakin banyak studio yang berkembang, semakin tinggi pula standar yang dapat dibangun bersama. Dari sana, mereka membayangkan Indonesia tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya berbagai event, tetapi juga menjadi destinasi bagi mereka yang ingin melihat perkembangan desainnya.

The Epic Journey of VERSHOME menjadi catatan tentang lebih dari 12 tahun berkarya. Buku ini merekam bagaimana sebuah studio tumbuh melalui proyek, hubungan dengan manusia, kepercayaan klien, serta nilai yang terus dibangun sepanjang perjalanan.

Setelah lebih dari satu dekade, VERSHOME tidak hanya ingin menunjukkan apa yang telah mereka desain. Mereka juga ingin membagikan mengapa mereka bekerja dengan cara tersebut, nilai apa yang mereka pegang, dan bagaimana pengalaman selama 12 tahun membentuk cara mereka melihat masa depan exhibition design di Indonesia.