Bagaimana sebuah studio desain bertahan ketika perintisnya telah tiada?
Ketika sebuah studio desain tumbuh selama puluhan tahun, identitasnya sering kali melekat pada satu nama. Nama itu hadir di setiap proyek, menjadi simbol kualitas, bahkan membentuk cara publik memahami sebuah praktik desain. Namun, cepat atau lambat, setiap studio akan menghadapi pertanyaan yang sama: apa yang terjadi ketika sang pendiri tidak lagi memimpin?
Apa yang harus dipertahankan? Nama besar? Filosofi desain? Atau ciri khas desain yang selama ini menjadi ikon studio tersebut? Pertanyaan ini semakin relevan ketika sejumlah studio arsitektur dan desain di dunia memasuki fase regenerasi. Sebagian harus melanjutkan perjalanan setelah kehilangan pendirinya, sementara yang lain membangun sistem agar estafet kepemimpinan dapat berlangsung tanpa mengorbankan identitas yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Dari Sosok Menjadi Institusi

Ketika Zaha Hadid meninggal dunia pada 2016, banyak pihak mempertanyakan apakah studio yang ia bangun masih mampu mempertahankan kualitas dan relevansinya. Selama bertahun-tahun, nama Zaha Hadid identik dengan pendekatan arsitektur yang ekspresif dan eksperimental, sehingga batas antara sosok pendiri dan identitas studio terasa begitu tipis.
Namun satu dekade setelah kepergiannya, studio tersebut justru terus berkembang. Proyek berskala internasional tetap berjalan, kepemimpinan bergeser kepada Patrick Schumacher. Beberapa waktu lalu studio ini sempat berkonflik dengan Zaha Hadid Foundation selaku pengelola dari legacy Zaha Hadid.

Konflik tersebut berakhir pada 2026, di mana diputuskan bahwa studio desain Zaha Hadid akhirnya berubah namanya menjadi ZHA Architects Limited. Perubahan ini disebut Schumacher sebagai hal yang organik, di mana studio berevolusi. menjadi sesuatu yang lebih besar daripada satu individu. Dalam kasus Zaha Hadid, warisan yang dipertahankan bukan hanya bentuk bangunan, tetapi metode berpikir, budaya kolaborasi, dan standar kualitas yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Regenerasi yang Dibangun Setiap Hari
Sementara itu di Indonesia salah satu studio desain yang kehilangan perintisnya adalah Hadiprana. Studio yang didirikan Hendra Hadiprana ini telah lama dikenal sebagai salah satu pionir desain interior di Indonesia. Ketika Hendra Hadiprana meninggal pada 2018 lalu, estafet kepemimpinan mulai bergeser. Fokusnya bukan sekadar menentukan siapa yang memimpin, tetapi bagaimana nilai-nilai studio tetap hidup.

Principal Architects Afwina Kamal dan Principal Interior Designer William K. Patty menjelaskan bahwa proses regenerasi di Hadiprana Design dijalankan melalui dua jalur: proyek dan non-proyek. Dalam proyek, desainer muda belajar langsung melalui keterlibatan di berbagai tahap pekerjaan, mulai dari proses konseptual hingga pengambilan keputusan bersama principal. Di luar proyek, diskusi internal dan forum berbagi pengalaman menjadi ruang untuk meneruskan prinsip-prinsip yang selama ini membentuk identitas Hadiprana.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa regenerasi bukanlah agenda yang muncul ketika seorang pendiri berhenti memimpin. Ia berlangsung setiap hari, melalui mentoring, kolaborasi, dan budaya belajar yang terus dipelihara. Karena pada akhirnya, sebuah studio tidak diwariskan melalui arsip karya semata, melainkan melalui orang-orang yang memahami cara berpikir di balik setiap keputusan desain.
Babak Baru Setelah Frank Gehry

Kasus lain yang mungkin memberikan perspektif berbeda adalah Frank O. Gehry & Associates. Frank Gehry wafat pada akhir 2025 setelah lebih dari enam dekade membangun praktik arsitektur yang melahirkan karya-karya ikonis seperti Guggenheim Museum Bilbao, Walt Disney Concert Hall, hingga Fondation Louis Vuitton.
Selama hidupnya, Gehry tetap menjadi figur sentral di balik studio yang menyandang namanya. Namun, pada 2001 ia mengganti nama kantor arsitekturnya menjadi Gehry Partners. Hal ini dilakukan untuk mengakui kontribusi sejumlah arsitek senior yang telah bekerja sama bersamanya. Di sisi lain perubahan nama ini juga bertujuan untuk memastikan keberlanjutan dari kantor arsitektur ini.

Bisa jadi apa yang dilakukan Frank Gehry ketika mengubah nama studionya adalah upaya regenerasi, memastikan agar warisannya bisa terus menjadi bagian dari identitas studio ini. Ini adalah bukti bahwa regenerasi merupakan hasil dari proses panjang dalam membangun organisasi, sehingga mampu melahirkan pemimpin-pemimpin baru tanpa kehilangan nilai yang menjadi fondasinya.
Lebih Dari Sekadar Nama
ZHA, Hadiprana, dan Gehry Partners menunjukkan tiga fase berbeda dalam perjalanan sebuah studio.
ZHA membuktikan bahwa sebuah praktik dapat berkembang menjadi institusi yang lebih besar daripada sosok pendirinya. Hadiprana memperlihatkan bahwa regenerasi dibangun melalui budaya kerja dan transfer pengetahuan yang berlangsung setiap hari. Sementara Gehry Partners kini memasuki fase yang akan menguji seberapa kuat sistem yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Meski berbeda konteks, ketiganya berbagi tantangan yang sama: bagaimana memastikan identitas studio tetap relevan ketika figur yang selama ini menjadi pusat perhatian tidak lagi memimpin. Barangkali di situlah makna sebenarnya dari sebuah legacy, yakni bukan sekadar upaya membekukan masa lalu agar tetap sama. Tapi sebuah kemampuan meneruskan cara berpikir, nilai, dan budaya kerja kepada generasi berikutnya, sehingga sebuah studio dapat terus berkembang tanpa kehilangan jati dirinya.
Karena pada akhirnya, umur sebuah studio tidak ditentukan oleh panjangnya karier seorang pendiri, melainkan oleh kemampuannya membangun sistem yang membuat estafet kepemimpinan terus berjalan. Dan mungkin, itulah warisan terbesar yang dapat ditinggalkan seorang founder.