Simak bagaimana CNS Designworks berbicara tentang bagaimana sebuah praktik desain bertahan, beradaptasi, dan tetap relevan.
Berawal dari praktik perorangan di Makassar pada 2012, CNS Designworks berkembang menjadi biro konsultan arsitektur dan interior dengan cakupan kerja yang semakin luas. Kini, CNS ditopang oleh tim multidisiplin yang mencakup arsitektur, interior dan dekorasi, drafting, hingga project management, dengan portofolio yang banyak bersinggungan dengan ruang komersial, hospitality, dan lifestyle.
CNS yang merupakan singkatan dari tiga nama tengah co-founder yakni Cipta, Nyata, dan Sentosa, sangat lekat dengan sejumlah proyek hospitality dan entertainment. Terbukti dari deretan portofolio yang terdiri dari berbagai proyek Holywings hingga H Club SCBD, HW Tiger, dan Atlas Beach Club di Bali. Namun, di balik proyek-proyek dengan karakter visual yang kuat tersebut, CNS justru melihat desain sebagai pekerjaan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar menghasilkan ruang yang terlihat menarik.

Written berkesempatan duduk bersama Cipta Setia Wijaya dan Rosie Honggoputri, untuk membahas berbagai tantangan yang dihadapi CNS Designworks, regenerasi, dan cara mereka tetap berpijak pada realitas di lapangan.
Regenerasi sebagai Cara Bertahan
Written: CNS masih terbilang masih muda sebagai studio, kenapa isu regenerasi justru menjadi perhatian sejak sekarang?
Cipta Setia Wijaya (CSW): Kalau tidak mulai dari sekarang, kapan lagi? Menurut kami, challenge nomor satu bagi designer untuk membuat firm-nya sustain justru adalah regenerasi. Apalagi realitanya, masa 50 tahun kita masih mau menggambar sendiri?
Perubahan juga terjadi sangat cepat. Dulu, sekitar 2012 sampai 2020, kemampuan membuat 3D yang sulit belum menjadi keharusan bagi seorang arsitek. Banyak senior masih bisa mengoperasikan SketchUp, AutoCAD, atau membuat layout sendiri. Sekarang, mereka semakin tidak punya waktu untuk mengerjakannya.
Written: Lalu, apa yang sebenarnya ingin dijembatani CNS antara generasi senior dan generasi yang lebih muda?
CSW: Output yang bagus sebenarnya bukan masalah bagi Gen Z. Tantangannya lebih banyak ada di people skill. Mereka perlu tahu bagaimana membangun common ground dengan orang lain, bagaimana berkomunikasi, dan bagaimana meminta sesuatu tanpa membuat hubungan kerja menjadi kaku.
RH: Maka kadang kami suka ngobrol tentang random trivia, pengalaman, dan cerita lintas generasi punya fungsi. Hal-hal kecil seperti mengetahui referensi budaya atau lagu dari generasi lain bisa menjadi common ground untuk settling down with someone and asking for a favor.

Written: Apa yang berubah dari cara CNS membangun tim hari ini?
RH: Kami justru senang hire intern karena mereka masih datang dengan hati belajar. Masih ada rasa ingin tahu tentang bagaimana sebenarnya rasanya bekerja. Berbeda dengan orang yang datang dengan pola pikir bahwa mereka sudah harus membuktikan bahwa mereka bisa bekerja.
CSW: Lulus dari arsitektur tidak otomatis berarti seseorang sudah bisa meningkatkan well-being manusia. Sama seperti dokter yang baru lulus: mereka memiliki basic knowledge, bukan berarti langsung mampu menyelamatkan nyawa. Ada proses panjang setelahnya.
Ketika Desain Harus Bertemu Kenyataan
Written: CNS punya pendekatan yang cukup menarik terhadap eksekusi. Apakah hasil akhir harus semirip mungkin dengan gambar desain?
CSW: Tidak. Itu bukan prioritas. Di Indonesia, ketidakpresisian adalah bagian dari kenyataan sehari-hari di lapangan. Banyak pekerja mengandalkan jam terbang, bukan sertifikasi. Kalau kita ingin sesuatu benar-benar presisi, tentu bisa dilakukan, tetapi biasanya ada konsekuensi biaya dan waktu.
Jadi pertanyaannya bukan sekadar, “Bisa atau tidak?” tetapi, “Apakah klien punya luxury untuk mencapai itu?” Pada akhirnya, kita harus kembali melihat prioritas proyek.

Written: Kalau begitu, apa yang sebenarnya paling penting untuk di manajemen?
CSW: Timeline. Tidak ada gunanya kita menggambar finishing kalau MEP belum selesai. Tidak ada gunanya membuat gambar kerja furniture kalau kolomnya bahkan belum tercor. Bisa-bisa ukuran kolom berubah dan semua harus dikerjakan ulang.
Karena itu, pekerjaan kami dilakukan secara bertahap dan saling mengikuti. Gambar struktur selesai, lanjut ke tahap berikutnya. MEP selesai, lanjut lagi. Manajemen konstruksi menjadi bagian yang sangat penting dari proses tersebut. Prinsipnya sederhana: get the job done.
Written: Seberapa penting eksperimen material dalam proses desain CNS?
CSW: Sangat penting. Kami memang paling suka bereksperimen. Dunia sekarang membuat orang semakin familiar dengan hal-hal yang sudah pernah mereka lihat. Karena itu, tantangannya adalah mencari sesuatu yang belum pernah dilihat orang. Sekarang bukan lagi sekadar mengikuti tren. It's about making the trend itself.


Salah satu contohnya adalah proyek yang menggunakan teknologi bending marmer. Dari sana lahir ide membuat selendang bending marmer yang panjangnya lebih dari 100 meter. Proses desainnya sendiri berlangsung sekitar sembilan bulan, sementara produksinya baru dilakukan tiga bulan sebelum pemasangan.
Eksperimen seperti ini juga menunjukkan bahwa Indonesia sebenarnya punya manpower dan teknologi yang sangat mengagumkan. Kita tidak selalu kalah dari dunia luar.
Mengenal Diri Sebelum Menjadi “Desainer”
Written: CNS juga cukup aktif berinteraksi dengan mahasiswa dan fresh graduates. Menurut kalian, apa yang paling sering tidak diajarkan di kampus?
RH: Di kampus kita belajar prinsip-prinsip desain: komposisi, ergonomi, dan sebagainya. Tapi ketika masuk ke dunia kerja, kita justru sering harus berkompromi dengan teori-teori tersebut.
Misalnya, secara ergonomi sebuah gang idealnya punya lebar tertentu. Tetapi ketika membuat klub, ruang yang lebih sempit justru bisa membuat suasananya terasa lebih ramai dan menciptakan story tertentu. Jadi yang tidak selalu diajarkan di kampus adalah bagaimana mengompromikan teori dengan kehidupan sehari-hari. Tidak semuanya bisa dipraktikkan secara literal.


Written: Apa pesan yang paling penting untuk desainer muda yang baru masuk dunia kerja?
CSW: Yang juga penting adalah mengenal diri. Kita boleh mengagumi seseorang, tetapi jangan hanya mengagumi what they become. Lebih penting melihat how they become. Jangan sekadar ingin menjadi seperti orang lain tanpa memahami perjalanan yang membuat mereka sampai di sana.
RH: Jangan takut jatuh bangun. Itu masih menjadi sesuatu yang terus kami pelajari juga. Kadang keinginan untuk sukses justru membuat kita takut gagal. Padahal jalannya tidak pernah lurus. Bisa berbelok ke mana-mana, dan itu bagian dari proses.
Pada akhirnya, kami juga belajar untuk membuang sedikit idealisme yang tidak realistis. Bukan berarti berhenti punya idealisme, tetapi belajar tahu kapan harus berkompromi dengan kenyataan.
Written: Jika CNS adalah sebuah makanan, apakah itu?
CSW: Gado-gado?
RH: Bukan! Indomie. Base-nya sudah enak, disukai banyak orang, bisa ditambah macam-macam, dan yang penting, sederhana tapi tidak murahan.