Raul Renanda melihat desain, arsitektur, dan seni sebagai bagian dari proses kreatif yang saling terhubung. Dari berbagai disiplin hingga kolaborasi lintas bidang, ia terus mengeksplorasi bagaimana logika dan perasaan membentuk sebuah karya.

Raul Renanda
Foto by Tompi

Jika membahas sebuah profesi, kita mungkin terbiasa menempatkan seseorang dalam satu label: arsitek, desainer, atau seniman. Namun, bagaimana jika satu nama hadir di berbagai bidang sekaligus, dengan keseriusan dan profesionalisme yang sama?

Setiap proses kreatif memiliki ritmenya sendiri. Bagi Raul Renanda, ada garis yang cukup jelas antara bagaimana pikiran dan perasaan bekerja dalam melahirkan sebuah karya, tetapi dua hal ini selalu punya porsi yang berbeda dalam prosesnya, Seni murni lahir dari sebagian besar perasaan sementara desain memiliki porsi pemikiran yang lebih besar.

Raul Renanda
Foto: Dok Raul Renanda

Menjalani kehidupan sebagai seorang pencipta multidimensional, Raul juga terbuka membagikan pengalamannya sebagai individu dengan spektrum Asperger (ASD Level 1). Ia melihat brain wiring-nya bukan sebagai batasan, melainkan sebagai cara yang berbeda dalam memandang dunia, dengan kejujuran dan kedalaman yang menjadi bagian dari proses kreatifnya.

Tulis nama proyek
Tompi Residence (Foto: Dok. Raul Renanda)

Sebagai desainer multidisiplin, Raul bergerak luwes di antara ketepatan teknis arsitektur, eksplorasi desain produk, hingga kebebasan emosional dalam lukisan abstrak. Keragaman tersebut tercermin dalam berbagai proyek yang ia kerjakan lintas disiplin seperti: merancang Grand Piano SR 1928 bersama musisi Aksan Sjuman, mendesain yacht SKR 40 Renanda di Turki bersama Firman Santoso seorang enterpreneur dan Naval Architect Nino Krisnan, hingga project terbaru tahun ini yaitu meramu identitas visual kereta mewah The Nusantara Explorer bersama tim KAI dan Abel Hesed dari Batik Wolter.

Grand Piano SR 1928 (Foto: Dok. Raul Renanda)

Eksplorasinya juga hadir melalui praktik seni yang lebih spontan, berupa lukisan Abstract Expression yang diakui oleh industri seni Indonesia, dan pernah melakukan aksi live painting selama tiga bulan di lobi Apurva Kempinski, Nusa Dua, Bali yang memperlihatkan proses berkarya secara langsung kepada publik dengan pesan untuk bercerita tentang bagaimana karya yang diciptakan tidak menggunakan teknik yang sulit, hanya mengikuti bagaimana ia bisa jujur dan menuangkan perasaan lewat lukisan.

Raul Renanda, live painting (Foto: Dok. Raul Renanda)

Bagi Raul, keberagaman tersebut bukan tentang mengumpulkan label profesi, melainkan bagian dari proses eksplorasi yang mengalir secara alami dalam kehidupan dan praktik kreatifnya.

Simak obrolan Written bersama Raul Renanda berikut ini.

Realita Praktis: Meramu Rutinitas Lintas Disiplin

Lukisan Abstract, 2024 (Foto: Dok. Raul Renanda)

Written: Melihat portofolio Anda yang merambah arsitektur, interior, desain produk, hingga seni rupa murni, jadwal Anda pasti sangat dinamis. Bagaimana Anda membagi waktu untuk berbagai peran ini?

Raul Renanda (RR): Sebenarnya di saya itu natural saja ya kegiatannya. Mungkin di bayangan orang, karena terbiasa melihat spesialis di bidangnya masing-masing, terkesannya seperti jumping. Tapi buat saya tidak begitu. Dalam satu pagi sebelum makan siang saja, saya bisa berpindah dari satu proyek ke proyek lain, mirip seperti orang yang menangani proyek arsitektur biasa.

Secara biologis, saya memang lahir dengan brain wiring seperti ini. Jam-jam pagi itu left brain saya lebih aktif, jadi bagus untuk hal yang teknikal seperti mengecek gambar kerja, bikin rincian detailing, atau urusan finansial. Sementara kalau malam hari, di mana rutinitas malam sudah berjalan, otak saya jauh lebih gampang untuk mencari ide baru.

SK 40 Renanda Yachts (Foto: Dok Raul Renanda)

Written: Di industri profesional sering ada anjuran untuk menjadi spesialis di satu bidang saja. Apakah memilih banyak bidang ini rencana awal Anda atau berkembang secara alami?

RR: Itu datang secara alami. Sebenarnya ada istilah untuk fenomena ini, yaitu The Da Vinci Man. Orang-orang dengan tipe seperti ini banyak sekali, tetapi menghadapi stigma orang luar itu memang beratnya luar biasa, jadi banyak yang memilih diumpetin. Saya sendiri mengalami dampaknya, bahkan klien dulu ada yang bilang, "Saya dulu takut bertemu sama Mas Raul, karena bingung apakah proyeknya cocok dengan dia". Tapi seiring berjalannya waktu, masyarakat dan klien muda sekarang lebih broad-minded. Mereka melihat pengalaman saya di berbagai bidang justru bisa membantu proyek mereka dari pendekatan 360-degree design.

SK 40 Renanda Yachts (Foto: Dok Raul Renanda)

Written: Saat berhadapan dengan keraguan klien karena fokus Anda yang terbagi, bagaimana Anda meyakinkan mereka melalui hasil akhir?

RR: Pada akhirnya terfilter sendiri. Memang perlu satu langkah untuk kenal dan tahu apa yang ada di kepala saya. Saya selalu menekankan pentingnya kolaborasi. Saya tidak pernah bekerja sendiri. Saya mendesain bangunan milik Tompi, waktu bikin piano ada Aksan Sjuman yang paham akustik, saat saya bikin speaker juga dibantu oleh Indra Lesmana, waktu bikin yacht ada Nino Krisnan sebagai Naval Architect.Mereka ini orang yang sudah sukses dalam bidang masing-masing dan sudah sangat kuat karakternya, terlepas dari pandangan orang kalau egonya tabrakan, justru proyek-proyek ini jadi proyek paling lancar, dan saya ngerasa sangat enjoy ngejalaninnya. I never work alone. Selama kita jujur dan berkomunikasi secara lugas, kita akan menemukan orang-orang yang cocok. Ini justru berbanding terbalik dengan pandangan orang, kalau berkerja sama dengan orang Asperger itu cukup sulit, padahal kita sudah terlatih untuk aware berhadapan dengan orang lain secara profesional.

Ben Atelier, Jatipadang, Jakarta (Foto: Dok. Raul Renanda)

Art for Feeling, Design for Thinking: Di Antara Kanvas dan Logika

Written: Dalam arsitektur Anda harus berkompromi dengan kebutuhan klien, sedangkan saat melukis Anda bebas sepenuhnya. Bagaimana Anda memandang kedua kondisi ini?

RR: Untuk kasus saya, melukis adalah balancing of everything. Perbedaan paling gampang antara desain dan seni adalah: design is a thinking (makanya ada istilah design thinking), sedangkan art is a feeling. Lukisan saya memang sangat intens karena energi emosional kehidupan saya tuangkan di sana. Namun, bahkan di dalam dunia seni, 90% sebenarnya adalah hard work yang teknikal sekali, mulai dari cari studio, latihan tukang, sampai testing material. Proses act of the artist nya itu sendiri sebenarnya sangat kecil, yaitu saat jemari dan emosi saya menorehkan cat ke kanvas. Kalau kita mau perhatikan, bahkan rocker yang dikenal kehidupannya sangat bebas, mereka tetap tampil sesuai jadwalnya.

Written: Sering kali orang melihat lukisan abstrak lalu berujar, "Gini doang gue juga bisa." Bagaimana Anda menanggapi sudut pandang seperti ini?

RR: Analogi paling gampang: laki-laki sehat kalau diminta mengangkat beban lima kilogram pasti bisa. Tapi apakah badannya otomatis jadi bodybuilder? Perbedaannya ada pada konsistensi dan fokus melakukkannya berkali-kali. Saya sengaja membuat teknik lukisan saya segampang mungkin agar tidak ada halangan antara feel saya dengan guratan di kanvas. Begitu logika desain saya masuk dan mencoba merapikan lukisan supaya terlihat seimbang selayaknya seorang arsitek atau desainer, lukisannya malah jadi kehilangan rasa. Semua orang bisa mengucap kata "I love you", tapi makna, ketulusan, dan konteks di baliknya lah yang memberi nilai.

Written: Saat merancang produk kompleks seperti Grand Piano SR 1928 atau SKR Yachts, seberapa besar latar belakang arsitektur membantu proses eksekusinya?

RR: Besar sekali. Di piano SR 1928, bentuk kakinya dirancang miring, padahal berat piano itu mencapai satu ton. Untuk mendapatkan sudut yang stabil, saya menerapkan ilmu struktur arsitektur.

Sama halnya saat mendesain yacht di Turki, ada bagian kaca atas yang dirancang overhang. Kontraktor kapal sempat bilang tidak bisa karena beban dinamis di laut beda dengan bangunan darat. Lalu tim kami di Jakarta mencoba memecahkan masalah itu menggunakan logika struktur bangunan, memberi tulangan, dan begitu mereka tes ternyata berhasil rigid. Hal tersebut membuat mereka menjadi heran.

Proses pengerjaan Piano dengan Aksan Sjuman, Frankie Lioe (Foto: Dok. Raul Renanda)

Sinergi Karya, Kolaborasi, dan Resiliensi Mental

The Nusantara Explorer interior (Foto: Dok. Raul Renanda)

Written: Salah satu proyek terbaru Anda adalah mendesain kereta The Nusantara Explorer. Bisa diceritakan konsep dan proses kreatif di baliknya?

RR: Proyek ini datangnya sangat mepet di bulan puasa menjelang hari raya, meskipun memang sebelumnya mereka sudah pernah menghubungi saya beberapa tahun sebelumnya, tetapi tidak ada follow up lanjutan sesudahnya, dan out of the blue saya dihubungi mereka lagi dalam kondisi deadline yang sangat dekat. Pendekatan kreatif yang saya pakai sama seperti di proyek besar lain dengan tenggat waktu yang mepet, saya mengerjakannya seperti di show jaman dulu, yaitu chef Jamie Oliver : buka kulkas, lihat bahan apa yang ada, lalu mulai memasak dari situ.

Saya berkolaborasi dengan Abel Hesed dari Batik Wolter sebagai main partner. Kami mendesain ulang hampir 30 pola kerajinan Nusantara, tidak hanya batik, tetapi memasukkan unsur berbagai kain tradisional. Kebetulan saat itu, saya juga lagi 'ngumpet' di, Ubud, jadi ya punya waktu buat fokus mencari inspirasi. Dalam proyek ini ada pesan tersirat yang ingin disampaikan yaitu tentang perjalanan Indonesia itu kaya akan persilangan budaya. Dengan kondisi tidak sempurna ini, cukup tertolong dengan dedikasi dan bantuan tim PT Kereta Api Indonesia dalam proyek ini sangat profesional dan saya sangat terbantu sama mereka. Ini jadi presepsi yang berbeda buat saya dan teman-teman dari dunia private memandang cara kerja BUMN, zaman memang sudah berubah.

Raul Renanda bersama pelukis senior Arifien Neif, 2012 (Foto: Dok. Raul Renanda)

Written: Berdasarkan perjalanan karier Anda, apa saran praktis untuk desainer muda yang memiliki banyak minat agar tidak kehilangan arah?

RR: Pertama, be true to yourself, artinya jujur pada diri sendiri, kita harus secara real menerima apa saja yang buruk dan baik dalam diri kita secara blak-blakan. Di sekolah desain, kita terus-menerus dilatih untuk mencari validasi orang lain atau pasar agar bisa bertahan hidup. Tapi kita harus berani melihat diri sendiri di depan kaca secara 360 derajat, menerima semua kelebihan dan kekurangan kita. Orang tahu kapan kita pura-pura (faking), dan kalau tidak real, kita tidak akan bisa mencapai potensi terbaik. Kedua adalah mental resilient atau ketangguhan mental. Terakhir, mulailah setiap proyek dengan niat baik. Niat baik itu yang akan menjadi perisai mental kita saat menghadapi masalah.

Desain Batik Kawung Modern - Livery The Nusantara Explorer (Foto: Dok. Raul Renanda)

Written: Jika Raul Renanda didefinisikan sebagai sebuah makanan, kira-kira makanan apa yang paling cocok? Dan kenapa?

RR: Saya akhir-akhir ini baru memberanikan diri berbicara mengenai kondisi brain wiring saya. Saya terdiagnosa ASD level 1 atau bahasa populernya Asperger (high-functioning autism). Cara saya melihat dunia memang berbeda dari orang lain.

Jika menilai saya terlihat seperti apa, mungkin paling tepat adalah bertanya kepada orang yang melihat dan bisa menilai saya, Tapi kalau harus diwakilkan makanan, mungkin jawabannya adalah gado-gado kali ya. Ingredient-nya beda-beda, tapi begitu dicampur jadi satu, menjadi satu hidangan yang bisa dinikmati banyak orang. So, please try to see me as one whole thing yang bisa berguna buat orang lain.

Foto: Dok. Raul Renanda