Menelusuri The Maps of Meaning, pameran kolektif sembilan seniman tentang perbedaan tujuan, keyakinan, dan cara manusia memaknai perjalanan hidup.
Dari kecil, kita sering diperkenalkan pada gambaran hidup yang seolah memiliki urutan pasti. Mulai dari sekolah, bekerja, mencapai kesuksesan, lalu menemukan kebahagiaan sampai usia tua. Tanpa kita sadari, pola tersebut perlahan menjadi ukuran untuk melihat perjalanan diri sendiri maupun orang lain. Kita mulai membandingkan pencapaian, mempertanyakan arah hidup, bahkan merasa tertinggal ketika perjalanan yang ditempuh tidak terlihat seperti milik orang-orang di sekitar kita.
Tapi, apakah benar setiap orang harus memiliki jalan dan tujuan yang selalu sama?

Pertanyaan ini coba dijawab lewat cara yang berbeda dalam The Maps of Meaning, sebuah pameran kolektif yang berlangsung di Meiro Gallery, Menteng, Jakarta Pusat, pada 11 Juli hingga 9 Agustus 2026 lalu.
Pameran ini mempertemukan karya dari sembilan seniman dengan latar belakang dan praktik yang berbeda. Alih-alih menawarkan satu definisi tentang bagaimana hidup seharusnya dijalani, karya-karya yang ditampilkan justru memperlihatkan berbagai cara manusia membentuk tujuan, memaknai pengalaman, dan menentukan arah perjalanannya sendiri.
Gagasan tentang “peta” dalam pameran ini tidak hadir sebagai sesuatu yang menunjukkan satu rute menuju tujuan tertentu. Peta justru menjadi metafora tentang bagaimana setiap individu memiliki koordinatnya masing-masing, yang dibentuk oleh ingatan, keyakinan, ambisi, pengalaman, hingga cara mereka memandang dunia.
Salah satu perspektif yang menarik datang dari Kreaby, studio kreatif yang mewadahi seniman autistik. Karakter-karakter yang ditampilkan lahir dari pengalaman, imajinasi, dan cara para senimannya mengamati lingkungan sekitar.
Kehadiran karya-karya mereka memperluas pembacaan terhadap tema pameran: perbedaan tidak hanya terlihat dari tujuan yang ingin dicapai seseorang, tetapi juga dari cara seseorang memahami dunia sejak awal. Apa yang bagi satu orang terlihat biasa, dapat memiliki bentuk, cerita, dan makna yang sama sekali berbeda bagi orang lain.

Beranjak pada karya Ndikol, pembahasan mengenai tujuan hidup bergeser ke sesuatu yang lebih material: kekayaan, status, dan keinginan untuk memiliki lebih banyak. Melalui Rich Guy Pointing Meme, Ndikol mengambil inspirasi dari meme internet yang telah dikenal luas dan mengolahnya kembali melalui bahasa visual yang khas. Beberapa karakter terlihat mengenakan pakaian mewah dan saling menunjuk satu sama lain, sementara wajah mereka ditutupi masker bandana dengan simbol dolar.

Adegan tersebut terasa seperti lelucon sederhana, tetapi menyimpan sindiran terhadap cara manusia memandang kekayaan. Gerakan saling menunjuk dapat dibaca sebagai gambaran tentang kompetisi sekaligus kecenderungan untuk menyalahkan orang lain dalam sebuah perlombaan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Di belakang para karakter, latar hitam-putih dipenuhi logo dolar berwarna emas, menciptakan kontras yang memperkuat tema uang dan status. Dengan memadukan bahasa meme, humor, budaya populer, dan pendekatan street art, Ndikol membuat kritik terhadap materialisme terasa ringan di permukaan, tetapi cukup tajam ketika diperhatikan lebih lama.
Sementara itu, karya Arsita Pinandita membawa pembicaraan tentang perjalanan ke sebuah ikon yang sudah memiliki sejarah panjang. Here Hops the Sun menampilkan karakter kelinci bernama Aka yang mengikuti jejak The Beatles di sebuah tempat penyeberangan jalan yang ikonik di Liverpool.
Kehadiran Aka tidak dimaksudkan untuk menggantikan atau menghapus sejarah besar yang telah melekat pada tempat tersebut. Sebaliknya, ia hadir sebagai cara baru untuk mengikuti jejak sebuah legenda sekaligus membawanya ke dalam cerita yang berbeda.

Di dalam karya ini, perjalanan menjadi sesuatu yang diwariskan sekaligus ditafsirkan kembali. Aka berjalan mengikuti jejak yang sudah lebih dulu dibuat oleh orang lain, tetapi tetap membawa identitas dan ceritanya sendiri. Referensi terhadap lagu Here Comes the Sun turut memberi lapisan makna tentang harapan dan datangnya hari yang lebih cerah. Jika lagu The Beatles tersebut pernah menjadi simbol optimisme, Here Hops the Sun meneruskan semangat itu melalui karakter dan imajinasi Arsita. Perjalanan tidak selalu harus dimulai dari tempat yang benar-benar baru. Terkadang, kita hanya perlu berani mengambil langkah pertama di atas jalan yang sudah pernah dilalui orang lain, lalu menemukan cara sendiri untuk melanjutkannya.
Eksplorasi mengenai perjalanan ke dalam diri terlihat lebih jelas pada karya kolaborasi AC Andre Tanama dan Pastur John berjudul Abyssal Inquiry. Karya ini menghadirkan Gwen Silent yang membaca karya Nietzsche, sementara Little John membawa buku Kafka sambil terus memukul sebuah miniatur otak melalui gerakan mesin yang berulang. Adegan tersebut terasa ganjil sekaligus reflektif, seolah memperlihatkan pikiran manusia sebagai sesuatu yang terus bekerja, diuji, dan dipertanyakan.

Referensi terhadap Nietzsche dan Kafka membawa karya ini pada wilayah filsafat, eksistensi, dan proses memahami diri. Namun, Abyssal Inquiry tidak melihat proses berpikir sebagai aktivitas untuk menemukan satu jawaban pasti. Sebaliknya, repetisi gerakan mesin dan aktivitas membaca justru menggambarkan bagaimana pertanyaan dapat terus muncul tanpa benar-benar berakhir.
Ada sesuatu yang penting dalam proses menggali, mempertanyakan, dan menguji batas pemikiran sendiri. Dalam konteks tersebut, pencarian makna bukan semata tentang mencapai sebuah kesimpulan, melainkan tentang menjaga rasa ingin tahu dan kesadaran agar tetap aktif.
Jika dibaca sebagai satu kesatuan, karya-karya dalam The Maps of Meaning memperlihatkan bahwa “tujuan” dapat memiliki bentuk yang sangat berbeda. Bagi sebagian orang, tujuan mungkin berkaitan dengan pencapaian dan kemakmuran. Bagi yang lain, ia dapat muncul melalui ingatan, imajinasi, rasa ingin tahu, pengalaman personal, atau keinginan untuk memahami dunia dari sudut pandang yang berbeda.
Perbedaan tersebut menjadi penting karena kehidupan sering kali membuat kita percaya bahwa ada satu peta yang harus diikuti bersama. Kita mengenal ukuran kesuksesan yang sama, mengejar pencapaian yang serupa, dan tanpa sadar menggunakan perjalanan orang lain untuk menentukan apakah perjalanan kita sendiri sudah berada di jalur yang benar. The Maps of Meaning justru menunjukkan kemungkinan sebaliknya: bahwa tidak ada satu peta yang berlaku untuk semua orang.
Pada akhirnya, mungkin yang perlu kita lakukan bukan berjalan mengikuti peta orang lain, melainkan belajar membaca peta kita sendiri. Sebab setiap perjalanan memiliki tujuan, belokan, dan titik-titik pemberhentian yang berbeda. Dan barangkali, makna tidak selalu ditemukan ketika kita akhirnya tiba di suatu tempat, tetapi justru ketika kita memahami mengapa kita memilih untuk berjalan ke arah tersebut.