Arsitektur, Seni, dan Regenerasi dari POV Cosmas Gozali

Cosmas Gozali; Image: Courtesy of Cosmas Gozali

Hiruk-pikuk Jakarta Selatan seketika hilang di balik tembok beton Atelier Cosmas Gozali. Ruang meeting panjang terlihat jadi fokus utama di lantai dasar. Selebihnya ia hiasi dengan koleksi karya seninya. 

Senang sekali Written dibukakan pintunya untuk bermain di Atelier Cosmas Gozali. Berkesempatan berbincang hangat dengan sang maestro, menelusuri bagaimana ia membangun biro desain arsitekturnya, caranya beregenerasi, hingga bagaimana hobinya mengoleksi karya seni menjadi napas dalam setiap garis desain yang ia torehkan.

Suasana lantai dasar Atelier Cosmas Gozali.

Rasa ingin tahu yang besar dan kedisiplinan tinggi adalah cara Cosmas Gozali menavigasi perannya di dunia arsitektur, desain interior, sampai dunia seni sekalipun. Tidak hanya bicara soal estetika, dari percakapan kami yang tidak singkat, ia juga menjelaskan bagaimana sebuah proyek dimulai dengan riset mendalam dan diselesaikan dengan detail yang sepadan. 

Rifyo Design Quarter; Image: Courtesy of Atelier Cosmas Gozali

Apa peran arsitektur di society?
Pertama, arsitektur memenuhi kebutuhan masyarakat. Kedua, bisa membawa perubahan baik. Arsitektur memiliki peran yang sangat kompleks. Fungsinya juga tidak pernah usai ketika sebuah bangunan selesai.

“Sebuah kota dan manusia itu saling berkaitan.”

Sejauh mana arsitektur dapat menjadi agen dari perubahan sosial?
Sebuah kota dan manusia itu saling berkaitan. Manusia berubah karena kota. Begitu juga sebaliknya. Jadi sebenarnya, kedua itu tidak bisa dipisahkan begitu saja. Ada faktor lain seperti alam, teknologi, dan sebagainya. Kalau ditanya sejauh apa, berarti jauh banget. Misalnya, bagaimana penduduk di sebuah kota menjadi tidak bahagia, tingkat kriminalitas tinggi karena kotanya “tidak baik”. Dalam kata lain, kotanya tidak memberikan ruang-ruang untuk mereka melakukan ekspresi fisik secara bebas. Kota yang terlalu nyaman juga bisa membuat penduduknya menjadi lebih slow dan malas. Kelihatan kalau semuanya saling berkaitan. Makanya penting untuk selalu membicarakan perencanaan kota dan ruang. Kota sebagai skala terbesarnya. Setelah itu, ruang atau bangunan. Dan skala lebih kecil lagi ada pada rumah. Semua harus saling berkaitan satu sama lain.

Tragedi dan Reformasi

Di tengah percakapan, Cosmas menyebut arsitektur adalah penanda zaman. Ia juga mengambil contoh tahun 1998, saat terjadinya krisis moneter. 

Adakah perubahan dalam arsitektur sebelum dan sesudah tahun 1998, yang mana Indonesia dilanda bencana krisis moneter?
Mungkin perubahannya setelah tahun itu adalah banyak yang lebih aware akan keamanan. Walaupun masih banyak yang menyukai fasad mewah. Banyak juga yang akhirnya merasa tidak harus selalu memperlihatkan kemewahan dari luar rumah. Karena tragedi itu. Lebih baik tidak mencolok atau menonjol. Tapi kembali lagi ke sifat manusia yang cepat sekali lupa. Sehingga selang tiga dekade tragedi ’98, generasi sekarang tidak paham akan rasa mencekam itu. Intinya, mereka yang disebut sebagai penerus tidak akan berpikir serupa dengan kita yang sempat hidup di masa itu.

Sifat manusia yang cepat sekali lupa.

Mengulas soal krisis moneter, Cosmas beralih ke topik bagaimana pentingnya pelajaran sejarah negara yang diajarkan di sekolah. Karena setelah jeda tiga generasi, wajar saja kalau generasi sekarang tidak memahami sebab di balik sebuah tragedi. Sama seperti generasi Milenial tidak hidup saat berkibarnya bendera Indonesia di tahun 1945. Tapi karena adanya edukasi, esensi dari Hari Kemerdekaan itu tersampaikan dengan baik. Memang Cosmas berharap banyak pada sistem pengajaran, terutama pelajaran sejarah Indonesia. Agar tidak lagi mengulang kesalahan yang sama. Tapi besar juga harapannya pada pemerintah.

Peran pemerintah seperti apa yang Anda maksud?
Contoh kalau kita lihat negara-negara di Eropa, seperti Jerman, Austria yang merupakan negara yang kalah dalam Perang Dunia Ke-II. Waktu itu mereka dianggap sebagai genosida terhadap kaum Yahudi. Akan tetapi karena sering diputarnya film dokumenter yang berhubungan dengan era itu, kini mindset itu berubah menjadi generasi yang lebih toleran. Fungsinya adalah generasi muda ini diingatkan kembali kalau itu adalah sebuah kesalahan dan tidak untuk terulang lagi. Terdengar sebagai doktrin, tapi saya melihatnya justru sebagai pengingat. Sama seperti dulu ada film Pengkhianatan G30S/PKI yang tiap tahun diputar di TVRI. Ajaran itu juga harus benar dan tepat. Dulu seniman-seniman kan banyak dituduh komunis, kan? Seperti Hendra Gunawan itu sampai masuk penjara sekian tahun. Padahal ia hanya seorang seniman yang menyuarakan kebebasan berekspresi, lalu dianggap menyalahi sejumlah aturan. Sehingga dianggap komunis. 

Jiwa Seni yang Tumbuh

Lanjut ke seni. Terlihat dari ruangan ini saja kalau Anda adalah pengagum seni. Kalau boleh tahu, mana yang lebih dulu muncul, ketertarikan terhadap seni atau arsitektur?
Arsitektur dulu. Walaupun dari kecil suka melukis, tapi buat saya, sebuah ruang itu adalah sesuatu yang misterius. Bisa membuat hati saya berdebar-debar. Kecintaan saya terhadap seni itu mulai tumbuh ketika saya kuliah arsitektur. Saya belajar mengenal sejarah perkembangan seni rupa di Eropa. Belajar menganalisa, belajar menjadi kritis, belajar melihat komposisi, melihat warna, melihat proses. It was a joy. 

Koleksi karya seni di ruang Cosmas Gozali.

Adakah aliran seni partikular yang dari dulu diikuti?
Seniman berubah, seniman berkembang. Saya juga selalu mengikuti perubahan itu. Yang pasti, saat ini yang saya cari adalah karya-karya seni yang akan memperkaya koleksi saya dan mengasah cara saya berpikir. Jadi bukan hanya sekadar estetika saja, tapi juga harus ada faktor lain.

Arsitektur tanpa seni, apakah masih bisa tetap bermakna?
Tidak bisa. Karena arsitektur dan seni itu kan saling beririsan satu sama lain. Arsitektur tanpa seni mungkin akan menjadi boring. Akan tetapi definisi tentang seni itu juga sangat luas sebenarnya. Bisa saja kumpulan boks beton yang terlihat biasa saja mengandung arti seni mendalam di baliknya. Kita tidak bisa memisahkan semuanya begitu saja.

Generasi Penerus Arsitek

Apa bedanya arsitektur dulu dan sekarang?
Sekarang teknologi lebih maju. Tapi sebenarnya pengetahuan semakin berkurang. Saya melihat dari SKS yang semakin pendek di universitas. Makanya siswa yang lulus sekolah arsitektur itu belum bisa menjadi arsitek. Harus menambah magang, ujian-ujian untuk STRA (Surat Tanda Registrasi Arsitek), lisensi, dan sebagainya. Saya melihat dari kualitas arsitek muda yang melamar ke saya dulu dan sekarang. Zaman saya dulu tidak bisa langsung mencari di internet. Harus ke perpustakaan, harus baca satu per satu. Harus cari sendiri. Sekarang semuanya justru lebih mudah. Akhirnya oversupply terhadap informasi. Sehingga akhirnya mereka jenuh dan tidak mencari lagi. Ilmu pengetahuan itu berkembang terus. Krusial adanya untuk memahami pengetahuan dasar terlebih dahulu, baru bisa meng-upgrade diri. Dibanding hanya copy dan paste informasi begitu saja. Karena ketika dihadapkan dengan problem di lapangan, dan mereka tidak tahu how to solve it, itu akan menjadi masalah besar.

Beberapa sketsa dari sesi brainstorming Atelier Cosmas Gozali.

Apa nilai fundamental yang ingin diwariskan kepada para penerus?
Jangan pernah berhenti untuk belajar. Bahkan saya masih terus belajar. Manusia beradaptasi, teknologi berkembang. Makanya kita tidak pernah bisa bilang “i know everything”. Arsitek itu “egonya tinggi”, sehingga merasa lebih hebat dari orang lain. Lebih tahu dari orang lain, jadi tidak mau belajar dari orang lain. Itu salah. Kita selalu harus belajar dari orang lain. How can you know everything by yourself? You can’t.

“Arsitek itu egonya tinggi.”

Melanjutkan dari pernyataan sebelumnya, apakah aktif berasosiasi, seperti IAI (Ikatan Arsitek Indonesia), itu penting?
Aktif berasosiasi itu penting sekali. Asosiasi itu memberi banyak sekali pengetahuan untuk para anggotanya dengan apa yang terkini dan sebagainya. Menurut saya, setiap arsitek muda yang ingin jadi arsitek profesional harus tergabung dalam asosiasi. Dan bukan hanya anggota yang kemudian tertidur saja, tapi juga proaktif.

Adakah prinsip profesional Anda yang kayak dicontoh oleh para arsitek muda?
Be innovative and be yourself. Karena banyak sekali orang bilang ingin menjadi seperti si A atau B. No, you can’t be like other people. You have to be at your best. Untuk menjadi yang terbaik, kamu harus mengasah diri semaksimal mungkin dengan segala macam pengetahuan dengan segala problematika yang ada. Karena setiap tahun, akan muncul orang-orang baru, begitu juga dengan semangat mereka.

Plagiarisme dan Kecerdasan Buatan

Beralih ke plagiarisme. Bagaimana Anda membedakan mana inspirasi dan mana hasil mencontek?
Kalau dari karya seni tinggal tanya ke senimannya. Inspirasi itu datangnya dari mana saja, kan. Makanya saya suka bilang kalau konseptual itu penting. Biasanya sebuah konsep itu terbentuk dari melakukan riset mendalam. Saya sering banget proyeknya ditiru orang. Saya tidak bisa 24 jam di proyek. Waktu itu ada tetangganya klien di ujung jalan, kebetulan lagi sama-sama membangun. Sering kali datang, foto, kemudian membuat yang sama di proyeknya. Lantas, kenapa hasilnya beda? Karena mereka tidak tahu apa alasannya saya menentukan di mana letak jendela, pintu, dan sebagainya. Saya punya riset dan saya mempelajari alamnya. Saya enggak pernah takut dicontek orang. Karena sering kali yang meniru itu tidak tahu alasan sesuatu dibuat sedemikian rupa.

Gedung Fasilitas Kanisius; Image: Courtesy of Atelier Cosmas Gozali

Bagaimana dengan kecerdasan buatan, membantu atau justru membatasi manusia?
Itu yang harus kita lihat dari segala macam aspek. Artificial Intelligence (AI) itu adalah teknologi yang dapat membantu mempercepat proses. Tapi jangan sampai ketergantungan. Sensibilitas manusia dalam menganalisa itu sangat penting.

Terakhir, bagaimana cara Anda menyeimbangkan idealisme, kebutuhan, dan keinginan klien?
Bagaimanapun klien itu memiliki ego yang tinggi. Namanya juga klien. Sering juga saya ditanya sama arsitek-arsitek muda. Saya selalu menjawab, dengan kata-kata. Karena saya percaya kunci berkomunikasi dengan orang lain adalah komunikasi.

SHARE :
WhatsApp
Facebook
Twitter
Email
Artikel Lainnya