Rina Renville Tentang Desainer Muda dan Organisasi

4 August 2019

Stella Mailoa

Sejak mengenyam pendidikan di bangku SMA, di Australia, Rina Renville sangat tertarik dengan semua hal yang berbau seni. Hal ini jugalah yang ia akui membuatnya konsisten mengejar studi di bidang seni rupa. Meski diawali sedikit resistensi karena latar belakang keluarga yang berkarier di bidang kedokteran dan hukum, lulusan jurusan desain interior ITB ini berhasil membuktikan bahwa konsistensi dan determinasi dapat membuahkan hasil manis.

Selain menjadi desainer interior, Rina Renville juga aktif berorganisasi sebagai Ketua HDII DKI Jakarta. Kamu para desainer interior di Indonesia, tentunya sudah familier dengan organisasi HDII (Himpunan Desain Interior Indonesia). Organisasi nasional ini memiliki banyak cabang di Indonesia dan keanggotaan mulai dari mahasiswa sampai praktisi desain interior. 

Simak hasil obrolan kami dengan Rina Renville, mulai dari hal-hal yang perlu dipersiapkan desainer interior muda, manfaat berorganisasi, sampai wujud desain interior setelah pandemi.

Tentang Menjadi Seorang Desainer Interior

Written (W): Seperti apa awal berkarier Anda di desain interior?

Rina Renville (RR): Setelah lulus kuliah, gue langsung bekerja di perusahaan internasional asal Singapura. Kebetulan, proyeknya bagus-bagus dan salah satunya adalah hotel di Jakarta. Ketika terjadi krisis moneter, sempat hijrah ke Singapura, kerja di sana menangani macam-macam proyek, seperti residential dan rumah sakit. Akhirnya balik ke Jakarta untuk menikah, dan akhirnya membuka firma desain sendiri, namanya Des Stijl pada tahun 2001.

W: Kenapa namanya De Stijl?

RR: Gue suka dengan nama itu, karena keren. De Stijl adalah bahasa Belanda yang artinya gerakan desain yang berubah menjadi modernisme.

W: Apa karya desain interior yang pertama kali dikerjakan?

RR: Pada zaman itu banyak desain kantor dan healthcare, padahal saat itu desain healthcare belum populer. Salah satu di awal-awal itu ngerjain proyek KMC (Kemang Medical Care) dengan Aboday. Proyek healthcare dengan tema warna itu sempat dapat penghargaan juga. 

W: Apa saja sumber inspirasi dalam berkarya?

RR: Inspirasi itu bisa dari mana aja dan dalam keadaan apa aja. Kalau saya tenang kek, rusuh kek, kadang-kadang dapat aja ide atau petunjuknya. Inspirasi itu sesuatu yang dilihat dan sesuatu yang dibayangin. Mau liat apa aja, yang dekat, di sekitar kita juga banyak. Bisa ketika baru bangun, ngobrol, diskusi, dengerin musik. Pokoknya yang lagi nanggung-nanggung.

W: Seperti apa proses Mbak Rina berkarya?

RR: Berkarya dalam interior memang udah ada stage yang biasa diikuti: mengumpulkan ide, mengembangkan ide, dan lain-lain sesuai proyeknya. Tapi, sebenarnya sih, proses exploring idenya itu yang adalah momen berharga. Menggali ide itu adalah proses berkarya sebenarnya. Karena di situ keluar kreativitas. 

Menggali ide itu adalah proses berkarya sebenarnya. Karena di situ keluar kreativitas. 

W: Quotable banget! Kalau sekarang lagi ngerjain proyek apa?

RR: Sekarang lagi ngerjain rumah sakit. Di sebuah rumah sakit kanker gue jadi lead interior designer, dan di rumah sakit jantung sedang jadi tim ahli interior.

Gue juga lagi ada proyek renovasi Museum Nasional. Proyek ini rumit banget karena merupakan heritage building, dan kita harus tahu tentang sejarah, koleksi museum, dan lain-lain.

W: Kalau karya yang paling challenging yang pernah dikerjakan, ada nggak?

RR: Hmmm. Museum Nasional tadi karena serasa panggilan negara, terus timnya juga besar. Pernah juga mengerjakan proyek KBRI di luar negeri, jadi seru. Lalu apa lagi, ya? Oh pernah mengerjakan Museum Kedokteran UI yang isinya spesimen tubuh manusia yang diawetkan. Karena nggak bisa difoto, jadi saya harus kesana untuk survei, melihat cara display, dan mendata. Abis itu gue nggak bisa makan sekitar 1-2 hari.

Apapun itu, karya yang challenging itu hasilnya harus jadi karya yang dapat dipahami. Pas mulai itu, mulai dari kosong. 

W: Biar tetap “kosong” itu gimana caranya?

RR: Pengalaman sepertinya ya. Pas dapet sesuatu (proyek) yang nggak expected dan berbeda dapat yang berbeda, ada rasa senang dan kepuasan sendiri. Efek surprise-nya itu sangat menyenangkan. Caranya mungkin seiring dengan banyaknya pengalaman, waktu, dan udah pernah ketemu kasus-kasus yang berbeda. 

Tentang Desainer Muda

W: Jadi desainer itu identik dengan selalu begadang. Apa iya?

RR: Mungkin karena siangnya ribet kali?! (sambil tertawa) Atau yang tipenya suka ntar dulu, ntar dulu. Kalau gue sih sebenarnya anak malam juga. Sama seperti seniman, suasana itu harus mendukung pas berkreasi. Buat gue, suasana malam lebih mendukung karena gue bisa lebih fokus. 

Tapi, sebagai profesional harus mampu kerja kapan aja. Apalagi kalo udah deadline, ya lo kerja kapan aja lah!

W: Menurut Mbak Rina, apa saja hal penting yang harus disiapkan seorang desainer muda ketika akan berkarier?

RR: Tanya lagi ke diri sendiri, mimpi lo atau cita-cita lo yang sebenarnya itu apa sih? Kalau ragu-ragu mending mikir 2x. Karena penting untuk percaya diri dan berada di track yang bener. Harus ngerti dulu mau jadi desainer seperti apa. Kalau udah tau tujuannya mau ngapain, baru dicari jalannya kesana. 

Misalnya mau jadi desainer dan kontraktor , atau mau jualan barang seni, atau mau jadi desainer langsung bikin kantor sendiri. Karena beda orang beda journey.

W: Apakah perlu bagi seorang desainer muda untuk memiliki mentor?

RR: Idola juga boleh lah. Bisa belajar soal kehidupan mereka, belajar dari cerita mereka. Cari yang sama dengan cita-cita tadi. Tapi ingat, step by step dulu ya. Jangan langsung lihat, mau jadi si ini atau si itu.

W: Kendala seperti apa yang kerap ditemui oleh seorang desainer interior muda?

RR: Biasanya di sini itu masih malu, takut, nggak mau diskusi. Ini yang bikin susah untuk maju.

Desainer muda itu harus mau cari tahu yang lebih banyak lagi. Punya budaya kritis, budaya mau diskusi. Basic tapi krusial. Padahal, kalau komunikasi, aktif, wawasannya luas, semuanya jadi lebih mudah.

Tentang Organisasi HDII

W: Sejak kapan terpikir untuk bergabung dengan organisasi desainer seperti HDII? 

RR: Sekitar tahun 2009. Waktu itu ada yang ajak kumpul sesama desainer interior. Tapi nggak kira-kira, langsung diajak jadi pengurus, sebagai anggota aktif berorganisasi. Setelah itu akhirnya peduli dengan organisasi ini. 

W: Mengapa penting bagi seorang desainer untuk ikut dalam organisasi?

RR: Berkumpul sama-sama satu profesi bikin kita jadi kenal satu sama lain. Karena ada asosiasi ini juga orang jadi tahu ada profesi desainer interior. Kita juga jadi bisa memperkenalkan profesi kita ke masyarakat. Sehingga, tujuannya orang akan menghargai dan mengapresiasi profesi desainer interior. Selain itu, buat menunjukkan kepedulian juga terhadap profesi.

W: Apa saja keuntungan bagi desainer ketika terdaftar dalam HDII?

RR: Di asosiasi bisa urun rembuk. Misalnya bikin standar fee, bisa bikin dedikasi, dan lainnya.

W: Seperti apa program atau rencana HDII DKI untuk para desainer anggota?

RR: Keanggotaan HDII itu ada kategorinya: mahasiswa, dosen, profesional. HDII ini adalah mediasi sebagai yang mendukung profesi. Banyak sekali manfaatnya, misalnya sebagai wadah pengetahuan, kolaborasi dengan industri, memberikan penghargaan berupa publikasi, sekaligus membangkitkan daya saing, menjalin kerjasama sesama profesional. Singkatnya: edukasi, apresiasi, dialog, dan kolaborasi. 

Tentang Desain Setelah Pandemi

W: Dengan banyaknya kegiatan yang terpusat di rumah, apa tips untuk menciptakan ruangan multifungsi?

RR: Semua sudut harus lucu! (sambil tertawa). Sekarang ini seharusnya kita semua sudah terbiasa dengan keadaan fungsi ruangan yang jadi berubah akibat WFH. Yang menarik, gue perhatiin sekarang banyak yang melakukan house tour lewat social media. Jadi, orang-orang juga terinspirasi pengen barang atau dekorasi yang mirip untuk di rumahnya. 

Intinya, semua sudut selain dibuat menarik, harus bisa dipakai untuk kerja dan tetap harus nyaman. Gunakan juga furnitur atau dekorasi yang mudah dipindah-pindah.

W: Apa yang akan menjadi tren desain interior pasca pandemi?

RR: Kenyamanan dan safety jadi nomor satu. Pandemi memang mungkin bisa selesai, kita jadi balik ke normal. Tapi, keamanan dan kenyamanan harus tetap diutamakan. Bukan cuma di rumah, tapi di ruang-ruang publik. Segi kesehatan jadi lebih diperhatikan.

Selain itu, gerakan to bring nature inside masih akan terus berlanjut. Size ruangan mungkin nggak akan berubah, tapi programming layout-nya yang bisa berubah menyesuaikan cara berinteraksi manusia sekarang.

Mengenal Rina Renville Dalam 5 Menit

W: Are you a morning or night person?

RR: Night person. Malam itu lebih nyaman dan romantis

W: Furnitur merek luar atau lokal?

RR: Lokal dong, Tapi yang bagus ya!

W: Musik seperti apa yang didengarkan ketika mendesain?

RR: Jazz. Tapi sebenarnya semua jenis musik sih. Dulu pas kuliah sempet siaran lagu alternative. Sekarang, ikutin anak gue dengerin lagu zaman sekarang, Olivia Rodrigo.

W: Jenis seni lain yang ingin dikuasai? Kenapa?

RR: Melukis abstrak. Kenapa? Karena jangan ditebak.

W: Buku apa yang lagi dibaca?

RR: Kalau buku tuh dulu biografi, sejarah, yang inspiratif, nggak punya preferensi tertentu. Sekarang cita-citanya lagi ngumpulin bukunya teman-teman. Angkatan seni rupa gue lagi pada nulis buku: Curhat Tita oleh Tita Larasati, bukunya Pidi Baiq, Sukanta, Epit, dan Cimot ilustrator. 

W: Siapa desainer terbaik yang masih hidup sekarang? Mau nanya apa kalau ketemu?

RR: Patricia Urquiola. Mau nanya: Kok bisa semangat terus sih? Kok inspirasinya nggak habis-habis sih?

Ada banyak perempuan desainer hebat lainnya yang gue juga suka. Ada Laura Hammett, Zaha Hadid, dan Alexandra Champalimaud. Mereka punya gaya yang spesifik dan konsisten.

Kamu bisa melihat karya Rina Renville pada akun Instagram Destijl Cipta Kreasi

Share:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on email

Artikel Lainnya

No data was found