Melatih Ketubuhan Aktor Lewat Metode Suzuki

Andhini Puteri

Metode Suzuki, metode olah tubuh dari Jepang ini sedang naik daun di Indonesia, banyak yang menggunakan metode yang diciptakan Tadashi Suzuki sebagai metode pre aktor.

Tadashi Suzuki adalah pendiri dan sutradara Suzuki Company of Toga (SCOT), sebuah desa teater yang berlokasi di Toga Village, area pegunungan di perfektur Toyama. Ia jugalah yang pertama kali menyelenggarakan festival teater internasional di Jepang (Toga Festival) dan ia dikenal karena membuat sebuah metode bernama Suzuki Method of Actor Training. Sebelum bercerita tentang metodenya, mari kita berkenalan dulu dengan area tempat metode ini berjalan; Desa Toga!

Toga, Desanya Para Aktor

Desa Toga seperti sebuah desa yang diimpi-impikan para aktor yang berniat menekuni keaktoran, maupun mengabdikan hidupnya sebagai aktor profesional. Ya, sebagai profesi, bukan sekadar hobi. Di desa berlatar pegunungan yang cantik ini, dihuni oleh puluhan aktor pilihan Suzuki yang menetap di Toga dengan tanggung jawab: latihan dan pementasan. Kabarnya, mereka mendapat gaji sekurangnya sebesar UMR Jepang (digaji untuk menjadi aktor! What a dream!). Selain berlatih setiap harinya, dengan jadwal yang sangat ketat, mereka juga diwajibkan berkebun dan piket memasak bergantian. Tak heran jika mampir ke sini, kalian akan menemui petak-petak kebun yang penuh dengan tomat, labu, paprika, dan sayur-sayuran lainnya yang terasa sangat fresh ketika dimakan.

Setiap pagi mereka akan berkebun, memasak di dapur, makan di Pumpkin (ada juga yang menyebutnya Volcano), area tempat makan dan tempat Mr. Suzuki memberikan briefing jadwal aktivitas setiap harinya. Setelah makan, mereka akan menuju area-area tempat latihan dan sejumlah arena/gedung pementasan. “Bangunan teater di sini adalah area yang dibangun di masa lalu dengan gaya arsitektur yang tak akan bisa ditemukan di kota-kota di Jepang di masa sekarang ini,” ujar Tadashi Suzuki . Rumah-rumah dan area-area pementasan di sini dibangun sebelum Jepang menjadi negara yang modern dan di masa lampau ditempati oleh para petani dan keluarga besarnya. Desain arsitekturnya bergaya gassho-zukuri, yang mana materialnya hampir seluruhnya dibuat dari tanaman, terutama dari pohon-pohon.

Di Toga-Mura ini, para aktor laki-laki dan perempuan ini tinggal di rumah-rumah seperti dormitory. Kamar-kamar di situ juga terbuka untuk para aktor pendatang dari luar negeri saat mereka ikut pelatihan Metode Suzuki di SCOT Summer Season & Festival/sebuah festival teater tahunan yang akan menampilkan belasan karya grup-grup teater dari Jepang dan luar negeri setiap musim panas. Di sini pula, biasanya akan diselenggarakan pelatihan Metode Suzuki yang terbuka untuk para aktor dari seluruh dunia.

Metode Suzuki

Ada tiga prinsip dasar dari Metode Suzuki; energi, pernapasan, dan pusat gravitasi. Ketiganya adalah pencapaian yang harus dikuasai aktor-aktor yang terjun dengan metode ini. Metode Suzuki menggabungkan elemen dari gaya teater tradisional Noh dan Kabuki yang terintegrasi menjadi sebuah bentuk kontemporer yang autentik. Mr.Suzuki berujar bahwa “bermain di panggung” tidak sama dengan keseharian. Metode ini membantu aktor merekonstruksi tubuh, memaksimalkan vokal, mempertajam kepekaan fisik, dan meraih energi ekstra. Banyak yang berpendapat, metode ini merupakan metode pre aktor yang diperlukan aktor untuk mempersiapkan diri sebelum naik panggung, agar nantinya, tubuh mereka siap, dan “kehadiran/present” mereka terasa saat berada di panggung.

Kekuatan kaki menjadi fondasi utama di metode yang sudah dikembangkan sejak tahun 1970-an ini, karena menurut Suzuki-San, sensibilitas dasar para aktor akan tubuh mereka bersumber dari kaki. Di keseharian, kita sering mengabaikan kaki kita, karena tubuh bisa berdiri begitu saja tanpa ada kesadaran bahwa kaki kita sesungguhnya menyentuh bumi. Sementara di metode ini, posisi dan kekuatan kaki dapat menentukan kekuatan fisik sang aktor, termasuk produksi suara mereka. Dalam metode ini, ada banyak nomor dengan gestur dan ritme kaki yang berbeda, dan inilah yang dilatihkan setiap hari pada para aktornya.

Selain tiga prinsip dasar tadi, stillness juga menjadi salah satu capaian para aktor metode ini. Mengikuti gaya teater pre-modern, pada karya-karya pementasan Tadashi Suzuki, aktor-aktornya jarang sekali melihat satu sama lain saat berdialog. Eye contact hanya terjadi saat ada bagian yang sangat penting dalam naskah. Inilah salah satu tantangannya, bagaimana aktor menciptakan imajinasi lewat mata dan titik fokus secara konsisten. Salah satu cara untuk mencapainya, para aktor biasanya bertahan pada satu posisi tertentu, karena di metode ini, pergerakan kecil saja sangat berarti, maka para aktornya harus sangat berhati-hati pada konsistensi gestur ini.

Menurut Ellen Lauren, salah satu murid terlama Mr. Suzuki yang juga pendiri SITI Company, ketika aktor membuat keputusan yang jelas untuk menggerakkan tubuhnya, konsentrasi dari aktor akan menggerakkan ruang, dan para penonton akan merasakan pengalaman yang berbeda dari keseharian. “Stillness allows the strength of your convictions to be visible,” ujar Ellen.

Kepopulerannya di Indonesia

Belakangan ini, praktik Metode Suzuki di dunia makin meroket, termasuk di Indonesia. Meski ada banyak maestro teater di Indonesia yang juga bergerak dengan metode-metode teaternya masing-masing, gaung metode ini semakin meluas. Di Indonesia, lisensi pengajaran resmi Metode Suzuki diberikan langsung dari SCOT kepada Bumi Purnati Indonesia, sebuah rumah produksi seni independen yang didirikan Restu Imansari Kusmaningrum, yang sudah melahirkan banyak produksi yang bekerja sama dengan sutradara-sutradara dunia seperti Tadashi Suzuki dan Robert Wilson.

Baca juga: Liisa Hietanen, Seniman Rajut Pencipta Doppelgangers

Bumi Purnati dan Yayasan Bali Purnati ini kerap membuka pelatihan rutin Metode Suzuki sekali atau dua kali dalam setahun yang terbuka untuk para aktor dari berbagai daerah di Indonesia. Sejumlah produksi kolaborasinya dengan SCOT juga sudah terjalin sejak 2018, bertajuk Dionysus, yang sudah dipentaskan beberapa kali di tahun-tahun berbeda baik di Toga, Singapura (SIFA 2019), dan di Candi Prambanan (2018). Kolaborasi antar negara ini tak berhenti di situ saja, Purnati kembali melanjutkan pentas kolaboratif ini lewat lakon Electra yang dipentaskan di Jepang pada tahun 2021 dan 2022.

Tonton salah satu pertunjukannya di sini kalau kamu penasaran!

SHARE :
WhatsApp
Facebook
Twitter
Email
Artikel Lainnya
No data was found