Bagi arsitek sekaligus systems thinker Dr. Stéphane Lasserre, masa depan desain bukan hanya soal keberlanjutan — tetapi juga tentang memberi kembali. Sebagai Studio Practice Leader di HKS Asia Pacific, ia memimpin proyek-proyek hospitality firma tersebut dari Singapura dengan visi yang berakar pada regenerasi: arsitektur yang memulihkan ekosistem, mengangkat komunitas, dan menuturkan kisah budaya yang autentik.
Dengan portofolio yang mencakup Banyan Tree Manila Bay, kerangka regeneratif di Halong Bay, hingga proyek personal di Nobo Farms, Stéphane memadukan riset, systems thinking, dan empati untuk membayangkan kembali makna hospitality. Pendekatannya bukan sekadar membangun destinasi, melainkan menumbuhkan harmoni antara manusia, tempat, dan planet. Perspektif inilah yang menjadikan suaranya begitu penting.
Written bertemu dengannya di Singapura dan membahas bagaimana desain dapat menjadi kekuatan bagi pembaruan.
Tentang HKS dan Praktek di Asia
Written: Bisa ceritakan sedikit tentang kantor HKS di Singapura?
Dr. Stéphane Lasserre (SL): HKS Architect adalah perusahaan asal Amerika. Secara keseluruhan, kami memiliki sekitar 1.500–1.600 arsitek dan desainer di seluruh dunia. Kami bukan firma multidisiplin — kami berfokus pada desain, yaitu arsitektur, master planning, dan desain interior sebagai layanan utama.
Divisi hospitality merupakan salah satu departemen besar di HKS, dan kami memiliki beberapa centers of excellence — di Meksiko, Dallas, Miami, dan London. Namun sebelumnya, kawasan Asia Tenggara belum terjangkau dengan baik. Karena itu, kami kini tengah memperluas dan mendiversifikasi praktik hospitality kami di sini.
Saya dan Rob (Robert Day) telah bekerja di Asia selama 20 tahun, jadi kami memulai praktik ini tahun lalu (2024). Di Singapura, kami menawarkan layanan master planning, arsitektur, dan lanskap.
Written: Apakah sulit menyesuaikan diri dengan budaya lokal di Asia Tenggara?
SL: Menurut saya justru sebuah anugerah. Menarik, karena setiap negara punya cara kerja dan kebiasaannya sendiri. Namun karena Asia sangat kaya secara budaya, saya rasa tak sulit untuk beradaptasi — terutama ketika kita mencoba memasukkan elemen lokal dan regional ke dalam desain. Justru sangat menggairahkan bagi seorang desainer untuk mengerjakan hotel di Vietnam, Filipina, atau Tiongkok. Referensi dan inspirasi dari komunitas lokal sangat beragam dan bernilai.
Written: HKS sering membicarakan tentang menciptakan destinasi yang “soulful.” Apa makna sebenarnya dalam praktiknya?
SL: Ada beberapa faktor. Dalam hospitality, kita berbicara tentang emosi — itu faktor utama. Emosi dan pengalaman yang muncul melalui desain sensoris: permainan cahaya, air, elemen biophilia, akustik, dan sebagainya.
Faktor berikutnya adalah keaslian. Ini merupakan hal yang banyak dicari para traveler masa kini. Mereka tidak lagi mencari kemewahan berlebih atau desain generik, melainkan hubungan yang lebih dalam dengan budaya lokal. Jadi, berkontribusi pada keaslian inilah yang penting bagi kami.
Sedikit catatan tentang soulful design dan emosi — kami juga dikenal sebagai arsitek yang mendesain rumah sakit, yang tentunya unik bagi kami. Rumah sakit berbicara tentang evidence-based design, kesehatan mental, perjalanan pasien, dan relaksasi — lebih ilmiah dibandingkan emosional. Kami belajar dari mereka, dan mereka juga belajar dari kami (departemen hospitality). Di kantor, kami mengadakan sesi untuk saling berbagi pertimbangan dan pendekatan desain.
Written: Bagaimana memastikan narasi itu tetap autentik, bukan sekadar dekorasi permukaan?
SL: Hal pertama adalah mendengarkan. Saya berusaha terhubung dengan budaya lokal, komunitas, seni, kerajinan, dan desainer setempat. Setelah itu, kami melihat tipologi lokasi hotelnya.

Misalnya, proyek Indigo Nanjing Garden Expo Hotel di Nanjing, yang merupakan bagian dari Garden Expo beberapa tahun lalu. Lahan tersebut dulunya tambang (quarry), yang secara alami kurang berkualitas. Jadi kami mencoba menciptakan kualitas itu dengan menelusuri konteks dan sejarah situsnya.
Hotel di Nanjing terdiri dari banyak bangunan kecil, terinspirasi dari arsitektur tradisional Tiongkok dengan atap khasnya. Tipologi ini menciptakan ruang-ruang saku dan area luar yang luas, sementara lanskapnya justru bergaya modern — menghadirkan kontras menarik.
Untuk proyek Banyan Tree Manila Bay, inspirasinya berasal dari budaya rotan tradisional. Metode arsitekturnya terinspirasi dari teknik anyaman — cladding dan elemen fasad menggunakan strip aluminium yang dianyam seperti topi. Referensi kecil seperti ini kami selipkan dalam narasi, dan ketika dilakukan secara konsisten pada lanskap, arsitektur, dan interior, hasilnya adalah cerita desain yang utuh dan memiliki jiwa.
Written: Berapa lama riset semacam ini biasanya dilakukan?
SL: Mungkin beberapa minggu sebelum proyek dimulai, tetapi saya pikir ini adalah proses yang berkelanjutan. Ia terus berkembang seiring diskusi dengan klien dan konsultan yang berbagi pengalaman. Desain berevolusi dari situ. Karena proyek biasanya berlangsung lama, selalu ada kesempatan untuk kembali ke gambar dan menemukan ide baru.
Tentang Desain Pariwisata Regeneratif
Written: Bali sering dijadikan contoh akibat overtourism yang tak terkendali. Seperti apa bentuk “mendesain agar overtourism tidak terjadi” ketika memulai dari nol?
SL: Skala dan kepadatan adalah dua hal penting. Sering kali, destinasi berkembang terlalu cepat — seperti Kuta atau Ubud — karena faktor tertentu. Kuncinya adalah mengatur penyebaran populasi. Pemerintah dapat mengurasi atau menumbuhkan minat pada area lain di pulau.
Rob mengerjakan master plan Pulau Komodo bersama pemerintah. Mereka mencoba mengidentifikasi lokasi lain untuk menarik wisatawan, karena area itu sama menariknya dan tetap menawarkan koneksi dengan alam. Gagasan tentang pengalaman personal ini sangat penting.
Melibatkan komunitas juga krusial — bukan sekadar secara simbolis melalui toko suvenir atau loket perjalanan, tetapi benar-benar memasukkan komunitas dalam kehidupan hotel, seperti lewat lokakarya atau program budaya.
Dan tentu saja, aspek regeneratif: berusaha agar pembangunan berdampak sekecil mungkin terhadap lingkungan, dengan tetap menghormati konteksnya.
Written: Bisa jelaskan perbedaan antara keberlanjutan dan regenerasi?
SL: Keberlanjutan berarti mengurangi kerusakan terhadap planet — mempertimbangkan jejak karbon, konsumsi air, dan efisiensi energi. Sementara regenerasi berarti memberi kembali lebih banyak daripada yang diambil. Ini gambaran yang lebih besar dan biasanya dimulai dari master planning: melihat alam sebagai ekosistem.
Ketika kita menempatkan elemen baru — proyek kita — bagaimana dampaknya terhadap ekosistem, dan bagaimana pengembangannya bisa meminimalkan gangguan terhadap sistem yang sudah ada? Itu bisa berarti memulihkan habitat, melestarikan spesies, atau mendorong kehidupan alam tetap hadir di dalam proyek.
Misalnya, proyek kami di Arab Saudi, Triple Bay Amaala, merupakan master plan besar dengan fokus pada restorasi terumbu karang sekaligus menjadi pusat kelautan. Bukan hanya wacana — tapi benar-benar diwujudkan melalui program dan institusi yang memastikan hal itu berjalan.
Written: Bagaimana dengan proyek yang sudah ada? Apakah bisa menjadi desain regeneratif?
SL: Kami hanyalah desainer — salah satu elemen dalam rantai pembangunan. Harus ada komitmen kuat dari pemerintah atau badan perencanaan untuk mewujudkannya. Seperti Bali, misalnya, yang memiliki masalah serius dalam sirkulasi dan kemacetan. Desainer bisa memberi saran, tapi tetap perlu dukungan otoritas.
Namun kami bisa menanamkan kualitas dalam desain yang membantu menciptakan koneksi antar manusia dan membuka lapangan kerja melalui perencanaan lanskap dan restorasi ekologis — dengan cara yang bermakna, bukan sekadar hiasan. Namun kembali lagi, kami hanyalah satu bagian kecil dari rantai besar aktor pembangunan.
Written: Bagaimana pengetahuan dari mendesain fasilitas kesehatan dapat diterapkan untuk menciptakan pengalaman resor yang benar-benar “meregenerasi manusia dan planet”?
SL: Ada perubahan besar dalam makna wellness. Dulu, orang mengaitkannya dengan spa — tempat untuk beristirahat sebentar. Namun kini permintaannya lebih jangka panjang. Bagaimanapun, kata hospitality dan hospital hanya berbeda tiga huruf.
Di Eropa, wellness lebih dipandang sebagai perawatan dan investasi jangka panjang bagi tubuh. Misalnya di Prancis, orang mengunjungi thalassotherapy, pemandian lumpur, atau sumber air panas alami — bahkan disponsori pemerintah karena dianggap sebagai terapi.
Jadi ini bukan sekadar well-being, tapi terapeutik. Tren ini kini hadir di Asia, dengan wellness mencakup diagnostik, diet, hingga analisis tubuh menggunakan wearables dan data — lengkap dengan rekomendasi klinis. Asia juga terkenal dengan estetika, jadi saya tak heran bila ke depan akan muncul lebih banyak program yang menggabungkan wellness, spa, diagnostik, dan prosedur estetika.
Ketika mulai membahas prosedur medis, aspek kesehatan tentu berpengaruh pada desain tempat: kontrol infeksi, material antibakteri, pencahayaan, kebisingan, dan faktor penyembuhan mental. Prinsip yang sama juga bisa diterapkan pada wellness.
Pada akhirnya, semuanya kembali pada pengalaman. Tidak ada yang menghalangi kita membawa sentuhan hospitality ke dalam lingkungan kesehatan. Kami bahkan baru menyelesaikan sebuah klinik di Bali yang menggabungkan pertimbangan tersebut dalam desain dan materialnya.
Tentang Indonesia dan Praktik Regional
Written: Proyek Anda tersebar di Vietnam, Filipina, Tiongkok, dan negara lainnya. Pelajaran apa dari konteks beragam itu yang paling relevan bagi Indonesia?
SL: Dari Tiongkok, kami belajar tentang manajemen skala dan systems thinking — bagaimana merancang untuk populasi besar dan menciptakan infrastruktur yang terhubung secara efisien. Dari Vietnam, kami belajar tentang penegakan regulasi dan disiplin perencanaan, serupa dengan Singapura.
Sementara dari Filipina, kami belajar tentang keterhubungan dengan komunitas lokal — integrasi perajin, vendor, dan desainer ke dalam proyek.
Jika harus disimpulkan: Vietnam untuk perencanaan dan regulasi, Filipina untuk integrasi komunitas, dan Tiongkok untuk skala besar dan infrastruktur. Kombinasi ini akan sangat bermanfaat bagi Indonesia.
Written: Apa perubahan paling penting yang harus diadopsi oleh hotel dan resort di Indonesia agar menjadi katalis pembaruan sejati?
Ada dua hal. Pertama, melibatkan komunitas secara bermakna. Kini semakin banyak hotelier yang mengadakan lokakarya bersama penduduk lokal — di hotel maupun di desa — dan ini sangat diminati wisatawan.
Kedua, menciptakan kontribusi positif. Misalnya, mengadakan kegiatan yang bukan hanya mengenalkan budaya lokal, tetapi juga berkontribusi — mulai dari mengumpulkan sampah plastik hingga membantu membangun rumah.
Saya ingin menutup dengan sebuah kisah. Dulu saya sering bepergian ke Amerika Selatan, dan salah satu yang paling berkesan adalah Mashpi Lodge di Ekuador. Mereka akan menelpon tamu terlebih dahulu untuk mengetahui minat mereka — apakah burung, suara alam, atau flora dan fauna malam hari. Ini bukan sekadar pillow personalization, tapi experience personalization, bagian dari proses pemesanan.
Hal seperti ini masih jarang di Asia, ketika perjalanan sering harus diatur sendiri. Mashpi Lodge terletak di hutan awan yang dulunya terancam deforestasi. Pemiliknya membeli lahan itu untuk melindunginya, lalu membangun ecolodge yang berpadu indah dengan pepohonan dan fauna. Sebuah pengalaman yang benar-benar membekas.
Alasan kita merusak alam begitu parah adalah karena kita tidak memahami cara kerjanya. Dan kita bisa belajar tentang hal ini di Indonesia yang memiliki alam yang luas.
Written: Anda juga tertarik pada urban farming. Bisa ceritakan sedikit tentang Nobo Farms?
SL: Itu proyek saya semasa COVID — my COVID baby. Saat pandemi, kita semua punya waktu untuk merenung dan memperlambat aktivitas. Saya memutuskan untuk fokus pada bercocok tanam.
Saya mengubah sebuah kontainer pengiriman menjadi ruang tanam berpendingin, tempat saya menanam berbagai spesies yang biasanya tak tumbuh di Asia Tenggara karena kondisi tanah. Ini tentang keberagaman dan akses terhadap pangan berkualitas.
Inspirasi saya datang dari Jardin Potager (Potager du Roi) di Istana Versailles, Prancis. Raja Louis XIV menanam spesies dari Amerika Selatan, bukan hanya sebagai bahan pangan tetapi juga tanaman hias — dengan estetika yang diperhitungkan.
Begitu pula dengan kontainer saya, Nobo Farms. Saya menanam tomat, selada, hingga sekitar 200 jenis tanaman. Proyek ini juga saya bawa ke sekolah internasional UWCSEA di Singapura, agar anak-anak bisa belajar langsung tentang proses menanam.
Terhubung dengan tanaman, bermeditasi, dan memusatkan perhatian pada sesuatu di luar pekerjaan — bagi saya, itulah bentuk kemewahan sejati.
Simak diskusi kami dengan desainer dan seniman lainnya di sini.