Di tengah ritme kota yang terus bergerak, pengalaman sehari-hari tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga ruang untuk merenung. Bagi banyak anak muda, hal-hal sederhana justru menjadi cara untuk memahami diri, mempertanyakan nilai yang diyakini, dan melihat kembali hubungan dengan lingkungan sekitar.
Dalam konteks ini, kota bukan sekadar latar, tetapi juga tempat di mana pengalaman pribadi dan realitas sosial saling bertemu. Dari sinilah banyak seniman muda mulai membangun praktiknya, seperti yang terlihat dalam pameran perdana AARO bertajuk Mixed Feelings.

Pameran ini adalah sebuah inisiatif dari Atreyu Moniaga Project (AMP) yang diselenggarakan di CAN’S Gallery. Menampilkan karya Ada Khansa, Ansn Martin, Red Maerra, dan Oddyendry, pameran ini menghadirkan lebih dari empat puluh lukisan yang berangkat dari eksplorasi keseharian sebagai ruang refleksi dan pembentukan identitas. Pameran ini juga menjadi titik kulminasi dari program inkubasi ke-13 yang berlangsung selama sembilan belas bulan sejak September 2024, sebuah proses yang menuntut konsistensi, eksplorasi, dan pematangan praktik.
Nama AARO diambil dari inisial keempat seniman, sekaligus merujuk pada metafora gunung yang menjulang kokoh. Pilihan ini menyiratkan perjalanan artistik yang penuh proses, menuntut ketahanan serta kesadaran bahwa perkembangan tidak selalu berjalan lurus.
Empat Pendekatan, Satu Makna
Melalui pendekatan yang berbeda, masing-masing seniman menghadirkan pembacaan personal terhadap pengalaman urban.
Ada Khansa menampilkan seri Sandbox yang terdiri dari sepuluh karya, berangkat dari pergumulan batin yang mewarnai kesehariannya sejak kecil. Melalui seri ini, ia menggali memori masa kecil sebagai arsip emosional yang terus membentuk persepsi diri, sekaligus menunjukkan bahwa identitas bersifat cair dan senantiasa berkembang.

Ansn Martin melalui seri WOY! menghadirkan sepuluh karya yang berangkat dari gagasan tentang persepsi diri dan nilai-nilai hidup yang terus berubah seiring waktu. Dalam seri ini, ia melihat identitas sebagai sesuatu yang dinamis, dibentuk oleh pengalaman, sekaligus mempertanyakan nilai yang selama ini dianggap tetap.

Red Maerra melalui seri ASLPLS menyuguhkan 15 karya yang menyoroti keterasingan sebagai fenomena yang semakin lazim dalam kehidupan urban yang terus terhubung secara digital. Melalui seri ini, ia menghadirkan kesepian sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari realitas kontemporer.

Sementara itu, Oddyendry melalui seri “Tungkal” menelusuri kembali kampung halaman sebagai upaya memahami dan menerima masa lalu. Pendekatan ini menjadi bentuk refleksi yang menghubungkan ingatan dengan identitas masa kini.

Proses di Balik Pameran
Pameran ini tidak hanya menampilkan hasil akhir, tetapi juga membuka proses di balik penciptaannya. Keempat seniman terlibat langsung dalam berbagai aspek penyelenggaraan, mulai dari penggalangan dana, perancangan publikasi, hingga pengarsipan dan pembangunan jejaring.
Pendekatan ini sejalan dengan visi Atreyu Moniaga yang melihat praktik seni sebagai proses yang menyeluruh. Berkarya tidak berhenti pada produksi visual, tetapi juga mencakup kemampuan mengelola proses, menghadapi tenggat waktu, serta bekerja dalam dinamika kolektif.
“Sering kali kita membayangkan kehidupan seniman sebagai sesuatu yang selalu glamor dan menyenangkan, seolah berkarya dapat dijalani tanpa beban, diiringi pesta dan penampilan yang selalu stylish. Namun, sisi lain yang lebih sunyi kerap terlewat: proses yang repetitif, melelahkan, bahkan menyakitkan. Ada revisi yang tak berujung, tenggat waktu yang menekan, kritik, hingga dinamika kerja tim yang tidak selalu mudah. Saya melihat komitmen kuat dari AARO. Mereka bekerja sangat keras hingga hasil akhirnya tampak seolah mudah dicapai. Padahal, seperti mendaki gunung, setiap tahapnya menuntut ketahanan dan kesabaran,” ujar Atreyu Moniaga.
Kolaborasi Lintas Peran
Realisasi AARO melibatkan sejumlah kolaborator lintas disiplin, seperti Wilhemus Willy sebagai perancang grafis, Joshua Agustinus sebagai perancang pameran, serta Nin Djani sebagai penulis. Seluruh proses inkubasi dan dokumentasi karya kemudian dirangkum dalam buku AARO yang dicetak secara mandiri dalam jumlah terbatas.

Sebagai mitra ruang, CAN’S Gallery kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia, khususnya bagi seniman muda.
Pameran AARO dibuka untuk publik mulai 18 April hingga 11 Mei 2026, dengan rangkaian program seperti tur kuratorial, diskusi, dan lokakarya yang akan diinformasikan melalui kanal Instagram @atreyumoniaga.project. Lebih dari sekadar presentasi karya, pameran ini menawarkan pembacaan tentang bagaimana pengalaman sehari-hari dapat menjadi material yang kaya dalam praktik seni kontemporer.