
Italia punya arti khusus untuk arsitek sekaligus desainer interior satu ini. Setelah satu dekade, Agatha Carolina kembali ke negara Bel Paese ini bersama sang suami, Ditho Sitompoel.
Di agenda pelesir kali ini, Agatha dan Ditho tak hanya merayakan momen perayaan istimewa antara keduanya, agenda seni juga terselip di dalamnya. Apalagi kalau bukan kunjungan ke Milan Design Week.
Eksklusif pada Written.id, Olin, begitu sapaan akrabnya, membagikan lima hal yang ia sukai di Milan Design Week 2026. Baginya, gambaran kata yang tepat untuk fair yang merayakan desain, kreativitas, dan inovasi secara besar-besaran ini adalah melihat kembali antara sang legenda dan napas baru desain.
Layaknya sebuah design fair yang diadakan dari tahun ke tahun, Olin berpendapat bahwa Milan Design Week punya caranya untuk terasa familier sekaligus baru. “Lebih hidup, lebih luas, dan terasa semakin inklusif. Bukan lagi hanya tentang furnitur, tapi tentang bagaimana brand dari berbagai spektrum ikut masuk ke dalam percakapan desain,” jelasnya. Meski demikian, selalu ada pergeseran yang terasa, seperti batas antara fashion, arsitektur, gaya hidup, dan experience yang semakin samar-samar. Ternyata, untuk arsitek sekaligus founder dari Bitte Design Studio ini, di sanalah letak keseruannya.
Simak lima hal yang istimewa untuknya dari Milan Design Week 2026.
The Anchors: Salone del Mobile
Salone del Mobile tetap menjadi titik awal. Ini adalah sebuah ritual. Di dalamnya, brand seperti B&B Italia dan Minotti menghadirkan apa yang mereka lakukan dengan sangat baik: presisi, restraint, dan evolusi yang subtil tapi tetap mengandung kuasa.
Yang menarik, kehadiran Indonesia Design District Pavilion memberikan lapisan lain, lebih personal, lebih rooted. Ada kebanggaan tersendiri melihat bagaimana identitas lokal mulai mendapatkan panggung di konteks global, tanpa harus kehilangan nuance-nya.


The City as a Stage
Di luar fair, Milan berubah menjadi playground.
Presentasi Poliform di Palazzo Clerici terasa seperti dialog antara masa lalu dan masa kini. Interior klasik yang richly decorated menjadi kontras sempurna untuk bahasa desain Poliform yang clean dan composed.
Hal yang sama juga terasa di Palazzo Ralph Lauren, di mana brand tidak hanya menjual produk, tapi menghadirkan dunia yang utuh. Sebuah storytelling yang immersive, hampir cinematic.
When Fashion Meets Space
Salah satu highlight yang paling terasa “kini” adalah kolaborasi lintas industri.

Kelly Wearstler bersama H&M membawa pendekatan yang ekspresif dan sculptural, lebih seperti instalasi daripada retail.

Eksperimen & Forward Thinking
Beberapa kolaborasi terasa lebih eksperimental. Seperti kolaborasi Snøhetta dengan USM, menunjukkan bagaimana sistem modular bisa terus di-reinterpretasi, fleksibel, adaptif, dan almost architectural.
Sementara Aesop tetap konsisten dengan pendekatannya yang sensorial dan introspective, instalasi yang tidak loud, tapi meninggalkan kesan yang lama.

Milan Design Week tahun ini terasa seperti sebuah perayaan yang lebih luas, di mana desain tidak lagi eksklusif milik satu industri, tapi menjadi bahasa bersama.
Dan mungkin itu yang paling menarik: Bukan hanya apa yang kita lihat, tapi bagaimana kita mulai melihat desain dengan cara yang berbeda.
Lebih cair. Lebih terbuka. Lebih hidup.