
Di Jakarta Selatan, kafe baru hampir selalu datang dengan pola yang serupa: mudah terlihat dari jalan utama, penuh penanda visual, dan berlomba mencuri perhatian. Nebbrs memilih jalur yang lebih tenang. Tersembunyi di dalam kompleks perumahan Kebagusan, tempat ini tidak hadir untuk ditemukan secara kebetulan, melainkan untuk didatangi dengan sengaja.
Namun, daya tarik Nebbrs tidak berhenti pada statusnya sebagai hidden gem. Yang membuatnya relevan untuk dibicarakan lebih jauh adalah bagaimana arsitektur dan desain ruangnya bekerja sebagai medium interaksi, bukan sekadar latar aktivitas makan dan minum.

Bangunan kafe ini sejatinya telah berdiri sejak 2016 sebelum kemudian mengalami renovasi pada 2022. Alih-alih menghapus karakter awalnya, tim Nebbrs memilih mempertahankan struktur eksisting sebagai fondasi desain. Keputusan ini melahirkan bahasa arsitektur industrial-minimalis yang jujur. Struktur dibiarkan terbaca, material tampil apa adanya, dan ruang dirancang tanpa gestur berlebihan.

Inspirasi desainnya merujuk pada praktik konversi gudang dan loft di New York, di mana bangunan industrial lama diolah menjadi ruang komersial modern tanpa kehilangan jejak masa lalunya. Pendekatan ini diterjemahkan melalui konsep semi open space yang memungkinkan sirkulasi udara alami bekerja optimal. Dinding beton masif di bagian belakang bangunan digantikan dengan breezeblock, sementara glass block ditambahkan untuk memasukkan cahaya matahari ke dalam ruang secara lembut, mengurangi ketergantungan pada pencahayaan buatan.
Secara struktural, renovasi dilakukan dengan pendekatan yang sadar konteks. Lantai dua menggunakan sistem prefab untuk meringankan beban bangunan lama, sementara kolom-kolom utama diperkuat guna memastikan stabilitas dan kekakuan struktur. Intervensi ini tidak tampil dominan secara visual, tetapi berperan penting dalam menjaga bangunan tetap aman dan relevan untuk fungsi barunya.
Nama “Nebbrs” yang dilafalkan seperti neighbours menjadi kunci dalam membaca keseluruhan pendekatan arsitekturnya. Keterbukaan ruang tidak hanya dipahami sebagai strategi desain tropis, tetapi juga sebagai representasi sikap. Hal ini disampaikan langsung oleh Raihan Athallah, Operational Manager Nebbrs, dalam wawancaranya bersama tim written.id.
“Nebbrs dibangun dari ide tentang kebersamaan. Seperti tetangga yang ramah, kami ingin ruang ini terasa terbuka dan mengundang. Bukan cuma untuk makan atau minum, tapi untuk berinteraksi secara alami,” ujar Raihan.
Filosofi tersebut terasa jelas pada penataan ruang yang tidak kaku dan tidak membatasi aktivitas hanya pada duduk dan bersantap. Kehadiran mini golf di halaman depan menjadi elemen yang memperkuat gagasan ini. Area bermain tersebut menyatu dengan outdoor lounge dan area makan tanpa sekat masif, memungkinkan aktivitas bergerak, berbincang, dan bersantai berlangsung bersamaan.

Mini golf di Nebbrs tidak hadir sebagai atraksi yang terpisah, melainkan sebagai pemecah ritme. Ia memperkenalkan unsur bermain di tengah ruang makan, menghadirkan interaksi ringan yang sering kali hilang dalam pengalaman kuliner urban yang terlalu serius.
Keterbukaa dalam desain juga tercermin dari caranya berelasi dengan alam. Batas antara ruang dalam dan luar dibuat setipis mungkin, memungkinkan interior menyatu dengan halaman hijau, udara segar, dan kolam reflektif. Pendekatan ini menegaskan posisi Nebbrs sebagai ruang yang tidak memisahkan manusia dari lingkungannya, tetapi justru mengundang keduanya untuk saling terhubung.

Nebbrs bukan kafe yang berusaha tampil mencolok. Ia hadir dengan pendekatan yang lebih tenang, memanfaatkan arsitektur dan desain sebagai alat untuk membangun suasana, memperlambat waktu, dan membuka ruang interaksi. Di balik perumahan Jakarta Selatan, Nebbrs menawarkan pengalaman yang tidak hanya bisa dirasakan lewat rasa, tetapi juga lewat cara ruang bekerja mengajak pengunjung berhenti sejenak, lalu terhubung kembali, satu percakapan demi satu.