5 Brand Fashion Indonesia yang Sustainable

22 June 2021

Arinta Wirasto

Dengan populasi penduduk dunia yang mulai didominasi oleh kelompok usia Milenial dan Gen Z, tidak heran jika zaman menjadi semakin progresif. Paparan informasi yang disampaikan lewat sejumlah kanal digital menjadi salah satu faktor di balik drastisnya perubahan pada tren, pola pikir, hingga gaya hidup. Salah satunya adalah kesadaran banyak orang untuk menjalani pola hidup sehat dan kepedulian akan lingkungan, termasuk dalam memilih brand fashion.

Tren gaya hidup ini sebenarnya sudah ada sejak beberapa dekade lalu. Namun, gaungnya semakin terdengar dengan hadirnya media sosial seperti Instagram, Facebook, dan Twitter. Semua orang dapat menyuarakan pendapat mereka dan berinteraksi, sehingga timbul percakapan yang lebih panjang dan kritis tentang berbagai isu. 

Berbicara tentang kepedulian akan lingkungan, lingkupnya pembahasannya sendiri cukup luas, tergantung minat dari masing-masing individu. Namun, salah satu isu yang mencuat dan kerap dibahas adalah mengenai beralihnya konsumen dari fast menuju slow atau sustainable fashion. Apa sih perbedaan keduanya?

Istilah fast fashion kerap diasosiasikan dengan dampak pada lingkungan. Siklus yang pendek dan polusi limbahnya berkontribusi besar terhadap emisi rumah kaca dan perubahan iklim. Selain itu, banyak pelaku bisnis fast fashion yang tidak mematuhi, bahkan melanggar kode etis dalam proses produksi massal.

Harga ritel yang relatif terjangkau pun tidak membantu menyelesaikan isu berkelanjutan ini kendati hanya akan memicu pelanggan untuk terus membeli. Seiring berjalannya waktu, upaya untuk melestarikan lingkungan pun mulai bermunculan. Salah satunya dengan merancang lini pakaian berbahan ramah lingkungan, yang lebih dikenal dengan istilah sustainable fashion atau fashion berkelanjutan. 

Selain lumrah terdapat di seluruh penjuru dunia, sekarang lini pakaian sustainable pun banyak ditemui di Indonesia. Gimana, tertarik kan untuk mengikuti upaya pelestarian lingkungan? Simak 7 brand fashion sustainable Indonesia pilihan tim Written beserta perkenalan singkat tentang mereka, masing-masing dengan keistimewaannya sendiri. Tenang saja, kamu tetap bisa bergaya dan tidak ketinggalan tren terkini, kok selagi menjaga lingkungan dan mendukung pelaku usaha lokal

BIASA Official

Pencinta fashion di Indonesia pastinya tidak asing lagi dengan nama BIASA Official. Pakaian yang dilansir oleh brand fashion yang ditemukan oleh Susanna Perini ini memiliki kualitas terbaik yang tidak mudah tertandingi. Selain itu, brand yang berdiri tahun 1994 silam ini dikenal sebagai brand sustainable. Material yang dipakai ramah lingkungan, dibuat dalam kuantitas terbatas dan handmade sehingga tidak mengeksploitasi buruh pekerja.

Tidak hanya itu, koleksi yang dilansir per musim pun berpotongan utilitarian dengan desain artisanal. Membuat koleksi ini dapat dipakai oleh kelompok umur berbeda dan berbagai aktivitas. Meski begitu, BIASA lebih dikenal akan fokusnya pada koleksi pakaian resor. Tidak hanya pakaian, BIASA pun memiliki koleksi aksesori lain seperti sepatu, tas, hingga perhiasan. Rangkaian koleksi BIASA dapat ditemui di beberapa lokasi di Bali seperti Seminyak, Sanur, Ubud, dan Batu Belig, serta di Kemang, Jakarta.

Sejauh Mata Memandang

Rasanya sekarang menggunakan kain tradisional dalam beraktivitas sehari-hari sudah menjadi hal yang lumrah. Desainer lokal pun mulai berinovasi dan berlomba-lomba memproduksi desain kain tradisional senyaman mungkin. Hal ini dilakukan untuk menjangkau pasar yang lebih muda dan dinamis. Salah satu pionirnya adalah Sejauh Mata Memandang. Label ini lahir dari kecintaan sang pemilik, Chitra Subyakto pada Indonesia.

Selain mengusung desain yang trendi dan modern, Sejauh Mata Memandang juga terkenal akan kultur kerja yang etikal. Hal ini dapat dilihat dari upaya memakmurkan artisan lokal di pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Timur. Mereka diajak mendesain motif pada koleksi Sejauh Mata Memandang, hingga menggunakan material yang didaur ulang dan ramah lingkungan seperti lyocell. Untuk lebih menekankan kecintaan pada lingkungan dan Indonesia, Sejauh Mata Memandang kerap mengadakan pameran dan pembuatan instalasi yang berhubungan dengan alam. Salah satunya berjudul Laut Kita yang ditujukan untuk mengedukasi dan meningkatkan kesadaran tentang polusi limbah di perairan Indonesia.

Sukkha Citta

Latar belakang sang pendiri, Denica Flesch, pernah bekerja sebagai konsultan untuk program pertumbuhan sosial untuk World Bank. Ketidakadilan yang terdapat pada kultur fast fashion merupakan salah satu dorongan terbesar di balik terbentuknya Sukkha Citta. Visi bisnis Sukkha Citta terfokus akan konsep altruistis yaitu pemberdayaan pekerja dan tentunya, pelestarian lingkungan. Misi-misi yang sudah dilakukan oleh Sukkha Citta sejauh ini untuk mencapai tujuan di atas. Misinya meliputi membudidayakan sekitar 300 artisan dan petani di seluruh penjuru Indonesia. Selain itu, mereka juga menggunakan bahan baku natural dan organik seperti pewarna bahan alami untuk mengurangi limbah produksi.

Sukkha Citta menggalakan praktik sustainable dan mematuhi kode etik produksi. Mereka juga berhasil menarik hati para pencinta brand fashion Indonesia karena desain yang versatile dan dapat digunakan untuk kegiatan apapun. Mulai dari belanja kebutuhan pokok hingga untuk pergi kencan. Selain itu, Sukkha Citta pun pernah mengadakan suatu inisiasi untuk mendukung kesejahteraan hidup para pekerja dan seniman. Kegiatan ini digelar di daerah rural Indonesia dengan program bertitel #MadeRight dan meningkatkan penghasilan mereka hingga 40%.

Kana Goods

Koleksinya didominasi oleh warna biru indigo dan desain yang terinspirasi dari street style Jepang. Kana Goods juga mengusung denim pada hampir keseluruhan koleksinya. Ditemukan oleh Sanjaya Rini yang telah berkecimpung di dunia fashion Indonesia selama belasan tahun. Kana Goods juga menjadi salah satu brand fashion yang mengedepankan kualitas sekaligus sadar lingkungan dan sustainable.

Keseluruhan koleksi Kana Goods dibesut menggunakan pewarna indigo (indigofera tinctoria) yang alami dan organik serta berasal dari tumbuh-tumbuhan. Dalam upaya untuk mengurangi limbah pabrik dan penggunaan air berlebihan, produk Kana Goods pun hanya hadir dalam satu ukuran. Pengetahuan mendalam tentang tekstil kemudian mendorong Sanjaya Rini untuk berbagi pengalaman lewat sejumlah workshop. Workshop-nya seputar teknik pewarnaan alami diadakan untuk mengedukasi anak-anak yang tidak mempunyai akses ke pendidikan formal. 

Lanivatti

Terbentuknya Lanivatti ini sangat menarik untuk diulas. Brand fashion berkonsep utilitarian ini dilahirkan oleh fotografer kenamaan Indonesia, Nicoline Patricia Malina. Brand ini menjadi jawaban dari kurangnya atribut fungsional pada pakaian wanita pada umumnya, contohnya kantong. Disebut sebagai lini pakaian travel, koleksi yang dihadirkan oleh Lanivatti memang bersifat serbaguna untuk kegiatan apapun, terutama berpelesir. Terlebih, ketika keseluruhan tampilan dibesut dalam palet warna netral sesuai preferensi minimalis yang digemari oleh target market utama Lanivatti. Selain mengutamakan kenyamanan dan desain, Lanivatti juga mengutamakan kelestarian lingkungan dalam proses produksi.

Selain desain, penggunaan material biodegradable atau gampang terurai seperti rayon viscose dan lyocell, menjadi alasan di balik kisaran harganya. Lanivatti selalu memastikan bahwa pekerja mereka mematuhi nilai-nilai etik label yang berdiri di tahun 2015 ini. Bahan yang digunakan untuk koleksi Lanivatti pun dipasok dari salah satu produsen kain berkelanjutan di Bandung, Tokoencit. Setelah itu diproduksi manufaktur garmen oleh Yarn & Co di Surakarta. Manufaktur ini dikenal akan pembayaran upah di atas rata-rata, jam kerja yang adil, serta tidak adanya eksploitasi pekerja.

Share:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on email

Artikel Lainnya